Di usianya yang baru 11 tahun, Zeefara Mahika Darmawan sudah mengantongi sederet prestasi nasional dan internasional di dunia skateboarding. Agar bisa mewakili Indonesia di Olimpiade Paris tahun depan, dia harus konsisten tampil apik dan sangat butuh dukungan pemerintah.
RIZKA PERDANA PUTRA, Kota Malang
PERTEMUAN antara Zeefara Mahika Darmawan dan dunia skateboarding berawal dari sebuah liburan keluarga di Lombok, Nusa Tenggara Barat, lima tahun lalu. Saat itu, Zee yang baru berusia 7 tahun mampir ke sebuah toko alat surfing. Di sana perhatian anak kedua dari pasangan Riky Jabrik dan Kiki Bobo tersebut justru tak bisa lepas dari papan skate.
“Temannya Papa akhirnya nyuruh aku buat coba. Zee coba berdiri di sini, pasti kamu bisa,” tutur putri pasangan Riky Darmawan dan Andriyanie Lucky Prastika itu mengenang yang disampaikan teman sang ayah saat dihubungi Jawa Pos di pengujung tahun lalu (31/12).
Dari pertemuan yang tidak disengaja itu, lewat tempaan demi tempaan, dalam usianya yang sekarang baru 11 tahun, telah berderet prestasi nasional maupun internasional dikantongi. Di antaranya, peringkat ketiga Piala Wali Kota Bekasi 2020, runner-up di Groms Factory Girls 2020 di Jakarta, dan peringkat ketiga di turnamen online E-Fise Junior Hotwheels 2021 di Prancis. Tiga turnamen tersebut bertaraf internasional.
Zee mengingat, di percobaan pertama di Lombok dulu, dirinya ternyata langsung berhasil menjaga keseimbangan dan mampu meluncur dengan baik. Keberhasilan yang kian mendorongnya untuk mempelajari dengan serius dunia barunya itu.
Namun, ketika keinginan memiliki papan skate baru dia ungkapkan sepulang dari Lombok, sang ayah sempat ragu. “Waktu minta pertama, karena tidak punya basic skateboard, saya masih ragu, mau belikan atau tidak,” kata Riky kepada Jawa Pos.
Apalagi, harga satu set papan skate tidaklah murah. Riky Jabrik, demikian dia biasa disapa, setidaknya harus mengeluarkan biaya minimal 1,5 juta rupiah. Itu belum termasuk pelindung dan helm. Namun, Riky akhirnya tak kuasa menolak permintaan anak keduanya tersebut.
“Kaget juga pertama kali lihat harga, tapi lihat anaknya ngotot terus, minta kado ulang tahun papan skate, akhirnya saya belikan,” kata Riky yang bersama keluarga berdomisili di Kota Malang, Jawa Timur.
Tidak tanggung-tanggung, selain membelikan papan skate, Riky juga mendaftarkan Zee di sebuah sekolah skate. Keputusan itu diambil karena Riky tidak ingin sang putri salah dalam berlatih. “Kalau sendiri, misal jatuh nggak keruan, kan malah bingung,” ujarnya.
Kebetulan, di Malang ada sebuah sekolah skate yang punya lintasan berstandar internasional: Apocalypse Skate School. Di sanalah Zee ditempa. Bocah kelahiran 13 Agustus 2011 itu setidaknya butuh waktu enam bulan untuk mempelajari berbagai macam trik dasar seperti rock n roll, dropin, atau ollie.
Sebuah langkah yang dilalui dengan tidak mudah. Riky mengenang, ketika awal-awal diajari trik baru, sang anak seperti kesulitan untuk menerapkan.
Tapi, dasar Zee sangat bersemangat, pelan-pelan semua trik awal bisa dikuasai. Barulah setelah itu anak kedua di antara dua bersaudara tersebut mulai diikutkan lomba.
Bukan di kota kelahirannya di Malang, melainkan di kota lain di Jawa Timur, Gresik, pada 2019. Hasilnya, Zee berada di peringkat ke-7 dari total 15 peserta. Sebuah capaian yang lumayan mengingat Zee harus bertanding melawan beberapa skateboarder yang jauh lebih berpengalaman.
Maklum, karena peminatnya masih sedikit, turnamen skateboard perempuan di Indonesia biasanya dikumpulkan menjadi satu kelompok usia. “Waktu itu yang di atas dia paling dekat berjarak satu atau dua tahun, itu juga cuma sedikit. Paling banyak usia remaja atau dewasa,” kata Riky.
Di tahun yang sama, Zee juga mengikuti kejuaraan internasional Indonesia Open XSport Championship (IOXC). Capaiannya membaik. Dia menduduki peringkat kelima dalam kejuaraan yang diikuti perwakilan sejumlah negara, di antaranya Singapura dan Malaysia, itu.
Dari turnamen tersebut, Riky pun mulai yakin bahwa Zee memang benar-benar memiliki bakat di skateboarding. “Lawan sebesar dan seberat apa pun kok dia nggak mikirin. Dari situ situ saya lihat anak ini memang passion di sini (skateboarding),” kata Riky.
Lalu, satu demi satu prestasi pun mulai dikantongi. Zee juga memperbaiki raihannya di ajang IOXC. Setelah meraih peringkat kelima pada 2019, pengidola skateboarder Rayssa Leal, skateboarder 15 tahun asal Brasil yang meraih perak di Olimpiade 2020, itu akhirnya mampu merebut gelar tertinggi pada 2021 dan kembali mempertahankannya tahun lalu. Terakhir, dia berhasil meraih juara pada kejuaraan nasional Piala Ibu Negara di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Desember 2022.
”Hukum pasar” pun berlaku. Zee mulai memetik buah berbagai prestasi yang dia raih. Sponsor berdatangan, mulai dari sepatu, papan skate, baju, hingga berbagai kebutuhan di trek lain. Para sponsor tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
“Jadi, saya unggah perkembangan anak saya lewat Instagram. Tahun lalu tiba-tiba ada yang DM (direct message) dari Oakley Asia, ajak kerja sama,” tutur Riky.
Sebelumnya, kata Riky, juga ada beberapa sponsor lain. “Dari situ saya jadi paham ternyata skateboard juga bisa jadi hobi yang menghasilkan,” bebernya.
Kini, impian Zee adalah tampil di Olimpiade. Kebetulan, skateboarding akan kembali dipertandingkan di Olimpiade Paris 2024 setelah sebelumnya kali pertama digelar saat Olimpiade Tokyo tahun lalu.
Namun, langkah ke sana tentu saja tidaklah mudah. Sebab, selain harus konsisten menunjukkan performa apik, Zee juga masih membutuhkan dukungan pemerintah. “Menuju Olimpiade kan macam-macam, ada road to Olympic yang harus diikuti. Olimpiade ini kan mewakili negara, beda dengan turnamen swasta, kami tidak bisa memberangkatkan sendiri. Kalau mau memunculkan atlet skateboard, pemerintah juga tidak bisa setengah-setengah,” kata Riky.
Di luar itu, Zee juga berkeinginan menjadi atlet profesional. “Di dunia skateboard, target tertinggi sebenarnya bukan Olimpiade, tetapi bisa dikenal di level pro,” kata Riky. “Zee masih jauh ke arah sana, masih terlalu kecil, long way to go,” imbuhnya.
Sejauh ini, turnamen internasional yang diikuti Zee masih sebatas di Indonesia atau mengikuti turnamen online. Tapi, Zee sama sekali tak kecil hati. Sama seperti ketika dia pertama menjajal papan skateboard dulu, dia percaya diri bisa menaklukkan tantangan. Sebagai awal, minimal bermain di luar negeri terlebih dahulu. ”Ingin menang dan main di luar negeri,” katanya. (*/c6/ttg/jpg)


