Saturday, 4 April, 2026

Aktivitas Komunitas Pedagang China, Grup Khusus Amal sejak 2012

Berbagi rezeki kepada warga Surabaya yang membutuhkan sudah menjadi agenda rutin bagi Komunitas Pedagang China. Saban tiga bulan anggota komunitas yang berasal dari Negeri Tirai Bambu itu beramal. Sudah puluhan tahun mereka tinggal di Indonesia, khususnya Surabaya.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

KAUS serbamerah dengan gambar dua tangan saling berjabat erat menjadi kostum wajib anggota Komunitas Pedagang China saat turun ke lapangan dalam kegiatan amal.

Maret lalu, mereka bahu-membahu mendistribusikan ratusan bingkisan yang berisi paket sembako di Balai RT 1, RW 6, Kendung Jaya, Sememi. Siang yang sangat terik membuat mereka sesekali mengusap peluh.

Namun, cuaca yang panas dan hawa gerah tidak pernah melunturkan semangat para anggota. Mereka sudah biasa terjun langsung menyalurkan bantuan ke rumah-rumah warga. Termasuk ke lokasi warga di kolong jembatan maupun panti jompo. Akhir Oktober lalu, mereka menyambangi Panti Asuhan St Yakobus di kawasan Jalan Manukan Lor.

Di panti itu, mereka tidak hanya membagikan kebutuhan seperti sembako, kipas angin, maupun mesin cuci. Tapi, juga mengajak anak-anak panti menyanyi dan bermain bersama. Mereka juga menghibur anak-anak dengan membagikan makanan ringan dan susu.

Sudah sepuluh tahun kegiatan charity semacam itu dilakukan. Tepatnya sejak 2012. Saat pertama komunitas tersebut berdiri.

Salah seorang pengurus komunitas Lin Wei mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian kecil dari ungkapan syukur mereka. “Kami lahir dan besar di Tiongkok. Tapi, sudah cukup lama di Indonesia, khususnya Surabaya. Negeri ini sudah sama dengan negara kami sendiri,” katanya.

Menjadi tempat para anggota mencari makan dan memiliki tempat tinggal. “Jadi, ini juga bagian rasa sayang dan cinta kami pada Indonesia,” lanjut perempuan 50 tahun itu.

Lin Wei sudah 26 tahun menetap di Surabaya. Dia telah menjadi warga negara Indonesia (WNI) meski dalam berbahasa Indonesia masih sedikit tersendat-sendat. Dalam beramal, para anggota ingin memberikan cinta yang rata. Tanpa memandang suku, agama, dan ras. Lokasi pemberian charity pun selalu melalui proses survei terlebih dahulu sehingga tepat sasaran.

“Meski namanya Komunitas Pedagang China, anggota kami lintas profesi. Ada yang karyawan, guru bahasa Mandarin, hingga bos yang sangat sukses berbisnis,” ujarnya.

Ada yang sudah berstatus WNI, ada pula yang pemegang KITAS (kartu izin tinggal terbatas, Red). Namun, apa pun jabatannya, para anggota mempunyai tujuan yang sama. Yakni, menanam kebaikan agar jalan hidup semakin lancar.

Salah seorang anggota komunitas Franky Chan menjelaskan, jumlah anggota aktif sekitar 200 orang. Mereka rata-rata tinggal di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto.

Sebagian sudah kembali ke Tiongkok, tapi masih aktif menyumbang setiap kali ada kegiatan amal. “Prinsip kami, berbagi itu indah. Membagi rezeki yang diterimakan kepada orang yang tidak seberuntung kami adalah bentuk syukur sekaligus ajaran leluhur,” ungkapnya.

Franky mengatakan, meski tidak berafiliasi langsung dengan Konjen Tiongkok, komunitas tersebut kerap menjadi jembatan yang menghubungkan konjen dengan warga Surabaya.

“Kadang mereka ada kegiatan amal juga lewat kami untuk menyalurkan karena kami punya tenaganya. Kami juga sebagai perantau yang lebih senior di Surabaya kerap membantu pendatang dari Tiongkok yang masih kurang informasi dan channel,” paparnya. (*/c6/may/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru