Saturday, 4 April, 2026

BUMDes Mutiara Welirang, Peraih Penghargaan Kemendes, Tempat Jujukan untuk Belajar

BUMDes Mutiara Welirang di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Mojokerto, berkembang pesat dengan mengajak warga untuk turut berinvestasi. Unit usaha pertama bermula dari kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih.

SUGIH MULYONO, Bintan
KE Ketapanrame yang berada di antara Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan itu mereka datang. Ada yang dari Kalimantan, ada pula dari Papua, tapi paling banyak dari kawasan sekitar Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Semuanya dengan satu tujuan: belajar terkait cara pengelolaan BUMDes (badan usaha milik desa) setempat.

“Teknik kami tidak merekrut karyawan yang sebanyak-banyaknya, tapi merekrut masyarakat untuk jadi pengusaha bersama kami. Jadi, kalau orang bilang, kami tidak menciptakan buruh baru, melainkan menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang bersama kita,” kata Herwanto, ketua BUMDes Mutiara Welirang, Desa Ketapanrame, kepada Jawa Pos.

Wajar kalau banyak yang berdatangan untuk belajar ke desa yang berada di Kecamatan Trawas itu. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) baru saja mengganjar Mutiara Welirang sebagai BUMDes Inspiratif kategori bermanfaat, menyisihkan 47 ribu BUMDes dari seluruh Indonesia.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar kepada Herwanto di Bintan, Kepulauan Riau, awal bulan lalu (2/2). Turut mendampingi Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati dan Kepala Desa Ketapanrame sekaligus penasihat BUMDes Mutiara Welirang Zainul Arifin.

Dengan ketinggian 700–1.200 meter di atas permukaan laut dan diapit dua gunung yang juga populer sebagai jujukan pendakian, Ketapanrame dianugerahi alam subur dan pemandangan elok.

Trawas sendiri merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Mojokerto selain Pacet, kecamatan yang berada di sebelahnya. Kedua tempat tersebut hanya berjarak sekitar 1–1,5 jam dari Surabaya.

Tapi, Mutiara Welirang justru awalnya berdiri pada 2001 atas dasar banyaknya permasalahan yang dihadapi masyarakat Ketapanrame kala itu. Salah satunya tidak terpenuhinya layanan air minum.

“Jadi, dulu itu banyak masyarakat yang mengambil air minum dari sungai di beberapa tempat,” ucap Zainul kepada Jawa Pos di sela penganugerahan penghargaan.

Unit usaha pertama yang didirikan berupa jasa pengelolaan air minum bernama Tirto Tentrem. Unit usaha tersebut bertanggung jawab atas pendistribusian air minum yang merata.

“Alhamdulillah sekarang untuk kebutuhan air minum masyarakat Desa Ketapanrame sudah terlayani 100 persen dengan pipanisasi,” ujarnya.

Setelah unit usaha pengelolaan air minum berhasil, unit usaha BUMDes Mutiara Welirang terus dikembangkan. Sejak 2010, setidaknya telah ditambah empat unit usaha baru: pengelolaan kebersihan lingkungan, pengelolaan wisata, pengelolaan kios dan kandang ternak, serta pengelolaan simpan pinjam dan kemitraan.

Penambahan empat unit usaha tersebut semua dilakukan juga berdasar dari beberapa permasalahan yang dihadapi warga Desa Ketapanrame. Yakni, mulai dari sampah yang tidak tertata hingga menjadikan masalah lingkungan.

Kemudian, masalah terkait modal masyarakat yang kurang untuk usaha. Juga, potensi desa yang kurang dikembangkan. Menurut Zainul, BUMDes Mutiara Welirang masuk dalam kategori bermanfaat karena memang memberikan beberapa manfaat.

Di antaranya PAD (pendapatan asli daerah) desa cukup tinggi, pengangguran di Desa Ketapanrame 0 persen, dan bermanfaat untuk masyarakat yang ikut investasi. BUMDes Mutiara Welirang dapat memberikan laba usaha untuk masyarakat rata-rata 5–10 persen setiap bulan.

“Tapi, kalau lagi ramai seperti saat ini, bisa sampai 20 persen dan itu lebih dari suku bunga bank,” jelasnya.

BUMDes Mutiara Welirang tidak banyak mempekerjakan pegawai, kurang lebih hanya 190 orang dari masyarakat desa setempat yang berjumlah (per 2 Februari 2023) 5.389 jiwa dari 1.857 kepala keluarga. Itu sengaja dilakukan karena BUMDes Mutiara Welirang lebih banyak membangun kelompok-kelompok mitra usaha.

“Jadi, masyarakat itu tidak kami pekerjaan sebagai pegawai, tapi jadi mitra-mitra. Sehingga mereka berdaya, bisa mengembangkan potensi mereka sendiri, kita bagi hasil,” terangnya.

Zainul mengakui sumber daya manusia (SDM) di BUMDes Mutiara Welirang bukanlah yang cukup memiliki kemampuan tinggi. Namun, itu sama sekali tidak menjadi halangan. Sebab, BUMDes Mutiara Welirang memiliki SDM yang dapat dipercaya dan berkomitmen.

“Jadi, bukan berarti dia punya ilmu yang tinggi, tidak. Tapi, punya kejujuran dan bertanggung jawab,” bebernya.

Menurut Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar, pemeringkatan yang dilakukan kementerian yang dia pimpin ditujukan agar perkembangan BUMDes terpetakan. Sehingga terbaca pula inovasi-inovasi BUMDes yang dapat menginspirasi BUMDes lainnya.

Selain itu, lanjut Gus Halim, sapaan akrab Abdul Halim Iskandar, berbagai lompatan dan prestasi yang diraih suatu BUMDes tentunya juga tidak terlepas dari peran pembinaan BUMDes melalui pendamping desa. Termasuk kepemimpinan kepala daerah.

Herwanto menjelaskan, berkat sinergisitas yang sudah terjalin antara pemerintahan desa, pelaku usaha di BUMDes, dan masyarakat, khususnya yang ikut menanamkan modal, BUMDes Mutiara Welirang pada 2022 dapat membukukan laba sebesar Rp 3,4 miliar.

Capaian tersebut merupakan yang paling tinggi sejak kali pertama BUMDes Mutiara Welirang berdiri. “Tahun sebelumnya karena pandemi kisaran di angka Rp 1,8 miliar–Rp 1,9 miliar. Tahun ini pandemi dibuka, sektor wisata kami luar biasa pengujungnya sehingga 66 persen dari laba kami itu ditunjang dari sektor wisata,” jelasnya.

Salah satu tempat wisata yang sangat populer di Ketapanrame adalah Taman Ghanjaran, sebuah taman bermain yang dilengkapi pula kolam renang dan pujasera. Destinasi lain di desa berhawa sejuk itu adalah Wisata Sumber Gempong.

Hingga saat ini, lanjut Herwanto, pihaknya juga masih terus mengembangkan unit-unit usaha yang ada di BUMDes Mutiara Welirang. Salah satunya unit usaha pengelolaan sampah. Tengah disiapkan pengelolaan sampah menjadi bahan bakar minyak skala desa, sehingga tidak hanya menjadi kompos. “Kami juga sudah mendatangkan mesinnya,” katanya. (*/c17/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru