Friday, 3 April, 2026

HSB Dikaitan Adanya Tindak Pidana Lain

TERUNGKAPNYA bisnis ilegal oknum polisi Briptu HSB, menjadi sorotan banyak pihak. Tidak hanya mengapresiasi langkah Direktorat Reserse Kriiminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kaltara. Yang berani menangkap rekan satu seragam.

Bahkan, ada juga pihak yang sudah kehilangan kepercayaan dengan aparat, kini kembali merasa mendapatkan angin segar. HSB sendiri belum lama ini dikaitkan adanya tindak pidana lain, yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia, pada 15 November 2021 lalu. Hasil autopsi salah seorang korban, sudah menunjukkan bukti adanya dugaan penganiayaan. Sebelum korban ditemukan meninggal dunia di sekitar perairan Tanjung Pasir.

Kapolda Kaltara Irjen Pol Daniel Adityajaya melalui Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Kaltara AKBP Hendy Febrianto Kurniawan mengatakan, sesuai perintah Kapolda Kaltara. Bahwa tim yang dibentuknya untuk menangani adanya ilegal mining maupun bisnis ilegal lain di Kaltara. Ternyata pemiliknya dimiliki oknum Polri, Briptu HSB.

“Kalau terkait tindak pidana lain yang dulunya kemungkinan dilakukan HSB, bukan domain kami. Sudah ada penyidik yang dulu melakukan penyelidikan maupun penyidikan. Kejadiannya Novemver 2021, waktu kejadian sudah cukup lama dan memerlukan kejelian maupun kesulitan untuk mengungkap. Seperti olah TKP,” tegasnya, Senin (9/5).

Terpisah, Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kasat Polair Iptu Jamzani mengakui, sudah menerima hasil autopsi salah seorang diduga korban penganiayaan, Rizki, pada 14 April lalu. Ekspos hasil autopsy sudah disampaikan penyidik kepada pihak keluarga, maupun Penasehat Hukum keluarga Rizki.

Pihak keluarga juga menanyakan perkembangan kasusnya. “Kami tetap melanjutkan penyidikan dan tak mungkin dihentikan. Ini merupakan perhatian dari pimpinan kami,” ungkapnya.

Penyidik menduga ada unsur tindak pidana yang mengakibatkan kematian Rizki. Namun, adanya kendala dalam penyidikan, menyulitkan kasus ini terkuak lebih cepat. Selain itu, saksi yang ada juga hanya orang yang sebatas mendengar ada teriakan saat kejadian.

“Hasil autopsi sebenarnya rahasia dari pihak rumah sakit. Kemarin juga keluarga sudah membaca semua, mungkin sudah mengerti. Memang dari autopsi ditemukan adanya luka-luka patahan di beberapa bagian, termasuk di bagian kaki,” bebernya.

Terhadap perkara ini, setelah adanya temuan baru dari hasil autopsi ini. Pihaknya terus melakukan penyidikan untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Pihaknya berupaya menindaklanjuti informasi dari pihak keluarga terkait komunikasi handphone milik almarhum Rizki.

“Salah satu informasi dari pihak keluarga, Rizki tergabung dalam grup WhatsApp. Setelah Rizki ditemukan meninggal dunia, diketahui ada orang lain yang mungkin menggunakan handphone korban dan keluar dari grup WhatsApp,” katanya.

Handphone korban ini memang diketahui hilang dan tidak ditemukan saat dilakukan penyisiran lokasi kejadian. Sementara handphone milik dua korban lainnya sudah ditemukan. Sehingga penyidik melakukan pendalaman dan pencarian handphone korban untuk memperjelas perkaranya.

“Ada catatan di WhatsApp. Bahwa WhatsApp Rizki keluar dari grup. Memang kami terbentur di ahli bidang IT. Kalau WhatsApp sudah itu juga kami kesulitan membukanya. Kami juga sudah mendatangi kantor Telkomsel. Untuk mengetahui siapa yang menggunakan dan siapa yang menjawab nomor atas nama Rizki ini masih belum dijawab,” ungkapnya.

Sementara itu, ibu korban Ani Fatmawati berharap, kasus yang menimpa anaknya Rizki bisa diungkap secepatnya. Menurutnya, kejahatan di perairan sudah banyak. Sehingga perlu kerja ekstra dari kepolisian untuk bisa menuntaskan penyelidikan.

“Mudahan-mudahan kalau benar kasus anak saya ada keterlibatan aparat, bisa terungkap. Harapan saya, kalau sudah ada aparat yang terlibat kasus pidana seperti ini bisa diproses sesuai hukum. Oknum aparat terlibat apapun harus dipandang sama. Sesuai janji Kapolri. Membersihkan nama Polri dari mereka ini,” harapnya.

Ditambahkan, masyarakat meletakkan kepercayaan kepada Polri. Justru kepolisian yang harusnya membersihkan namanya sendiri, dari tindak pidana yang merugikan masyarakat. Terlebih lagi, hasil autopsi sudah memastikan dan selaras dengan hasil visum. Bahwa ada tindakan kejahatan yang menghilangkan nyawa seseorang.

“Saya berharap siapapun dia, tanpa pandang bulu, hukum seberat-beratnya. Tak manusiawi perbuatannya. Dengan Kapolda ini, kami berharap pelakunya bisa ditemukan secepatnya,” pintanya.

Ani menilai, polisi lambat menyelesaikan kasus ini, sejak awal korban ditemukan meski visum menyatakan ada luka bekas benda tajam. Namun polisi menyimpulkan kecelakaan laut. Namun beberapa waktu kemudian, kasusnya beralih ke penyelidikan tidak pidana lain.

“Kalau langsung ditindaklanjuti, mungkin sekarang sudah terungkap. Tapi, sampai sekarang belum ada perkembangan. Saya sudah diperiksa Polda Kaltara dari Mabes juga ada. Untuk keadilan anak saya, kemana-mana sudah saya perjuangkan. Semoga ada kabar lain. Kalau tidak ada lagi, saya cari keadilan dengan jalan lain,” pungkasnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru