Tiga bulan sekali, ITS Soccer+ melakukan lawatan laga persahabatan, bahkan pernah sampai ke Batam. Di Persija Old Star, selain rutin bertanding, manajemen klub tak jarang mengajak untuk ikut memandu bakat.
FARID S. MAULANA, Surabaya–TAUFIQ ARDYANSYAH, Jakarta
USIA memang sudah tidak muda lagi. Tapi, sepak bola tetap jadi bagian penting dari kehidupan mereka yang tergabung dalam ITS Soccer+.
Lewat lapangan hijau, para alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) itu mengenang asyiknya mengolah bola seperti layaknya ketika masih mahasiswa dulu. Melalui medium yang sama pula, mereka menjalin silaturahmi, bersenang-senang, sekaligus menunjukkan kepedulian.
“Dulu itu akademik justru nomor kesekian, sepak bola nomor siji (satu) hahaha,” canda Kentarto, koordinator ITS Soccer+, kepada Jawa Pos Kamis (15/12) lalu.
Bahkan, saat Stadion ITS belum semegah sekarang, masih banyak rawanya, beserta sejumlah kawan satu kampus seperti Joko Driyono, hampir tiap hari dia bermain di sana. Sempat juga menyelenggarakan beberapa turnamen.
“Kami juga sempat memberikan proposal ke pabrik rokok untuk renovasi Stadion ITS. Tapi akhirnya diteruskan oleh adik-adik kami sampai megah seperti sekarang,” papar pria yang akrab disapa Ken tersebut
Kecintaan pada si kulit bundar beserta kenangan ketika kuliah di ITS itulah yang kemudian mendorong Ken dan beberapa kawan memutuskan bertemu kembali pada 2004. “Khususnya angkatan 1984 sampai 1993, kami janjian main bola lagi,” jelasnya.
Gayung bersambut. Kebetulan Joko Driyono kala itu sudah menjabat Sekjen PSSI. “Dulu namanya ITS Legend. Awalnya kumpul-kumpul saja main bola, tapi lama-kelamaan kok bosen juga,” ungkap Ken.
Untuk itu, ITS Legend pun mencoba ”menantang” beberapa kampus yang dulu belum pernah dikalahkan ketika jadi mahasiswa. Ternyata mengasyikkan dan akhirnya keterusan.
Lawatan ke luar kota untuk main bola pun sering dilakoni. Selain itu, mereka mengajak beberapa mantan pesepak bola yang dulu diidolakan. Terutama yang pernah membela Persebaya Surabaya karena kebetulan kampus ITS juga berada di Kota Pahlawan. Di antaranya Muharrom Rusdiana, Agus Salim, dan Samsul Arifin. “Itu bentuk kepedulian kami kepada legenda,” tuturnya.
Kehadiran para mantan bintang itu pun mendorong perubahan nama wadah mereka. Dari ITS Legend menjadi ITS Soccer+. Lawatan demi lawatan untuk mengadakan laga persahabatan pun rutin mereka lakukan. Sembari mengajak para eks pesepak bola tadi.
“Paling jauh main di Batam, ya ketemu alumni ITS juga di sana. Nostalgia, senang-senang, dan main sama legenda yang jadi idola kami dulu,” beber Ken.
Saat ini, hampir tiga bulan sekali, pertandingan ke luar kota selalu dihelat. Lawannya bisa siapa saja. Kadang Timnas All Star yang isinya mantan pemain timnas seperti Bambang Pamungkas. Atau bisa beberapa klub yang juga diisi pemain sepak bola aktif. “Makanya, kami ngajak legenda-legenda ini. Biar bantu kami nggiring bola,” ucapnya lantas terbahak.
Pria yang juga pembina klub internal Persebaya, Rosita, itu menambahkan, ITS Soccer+ murni senang-senang. Ken dan kawan-kawannya tidak pernah berpikir menjadikan ITS Soccer+ sebagai klub profesional ataupun ikut turnamen. “Sudah sibuk kegiatan masing-masing. Intinya kan senang-senang dan bantu legenda sepak bola,” ujar pria asli Surabaya tersebut.
Seperti ITS Soccer+, Persija Old Star juga jadi tempat bersilaturahmi sembari mencari keringat para mantan penggawa klub ibu kota tersebut. “Kami percaya dengan petuah lama, silaturahmi itu memperpanjang usia,” kata Rahmad Darmawan, pelatih RANS Nusantara FC, yang aktif di dalamnya.
Sesuai namanya, Persija Old Star adalah tim fun football yang berisi para mantan pemain Persija dari masa ke masa. Di tim itu, RD, sapaan akrab Rahmad Darmawan, bisa bersua kembali, bermain bersama, sembari bercakap hangat tentang dunia yang mengikat dia dan kawan-kawannya: sepak bola.
Di antara yang aktif di dalam Persija Old Star adalah Azhari Rangkuti, Toni Tanamal, Budiman Yunus, Kamarudin Bettay, Mahruzar Nasution, Bambang Warsito, dan Nasrun Baso. Ada pula duo bersaudara Adityo Darmadi dan Didik Darmadi.
“Persija Old Star ada dua angkatan, angkatan ’80-an dan ’90-an. Kalau angkatan ’90-an ada Vernard Hutabarat, Mahruzar Nasution, dan lain-lain,” terang RD.
Selain itu, ada juga Persija Glory. “Itu untuk angkatan yang lebih muda lagi. Seperti Nuralim dan Bambang Pamungkas. Nah, saya ada di dua komunitas itu (Persija Old Star dan Persija Glory, Red),” ujar RD saat dihubungi Jawa Pos.
Menurut RD, selain ajang silaturahmi, main bola bersama Persija Old Star juga membantunya untuk menjaga kebugaran. Untuk urusan skill mengolah bola, RD menyebut tidak ada yang hilang dari dia dan kawan-kawannya. “Skill kami tidak hilang. Yang hilang hanya kecepatan dan kekuatan hehehe,” katanya.
RD juga mengapresiasi manajemen Persija yang masih kerap bersilaturahmi dengan para mantan pemain klub ibu kota itu. Beberapa pemain Persija Old Star sering dilibatkan dalam acara-acara klub. “Terkadang juga dilibatkan dalam beberapa hal yang berkaitan dengan scouting (memantau bakat) anak-anak muda,” ujarnya. (*/c9/ttg/jpg)


