Muin Zachri sengaja menjual rumah agar bisa membiayai pengobatan Putri Ariani, istrinya yang menderita komplikasi penyakit. Nahas, uang yang disimpan di salah satu bank swasta itu justru diambil orang sebelum digunakan. Nyawa perempuan yang dinikahinya sejak 52 tahun silam tersebut akhirnya tidak terselamatkan.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
RAUT kesedihan tampak masih menghiasi wajahnya. Maklum, belum genap sepekan kakek 79 tahun itu ditinggal pergi istri tercinta untuk selamanya. Namun, ayah tiga anak tersebut tetap berusaha untuk terlihat tegar.
“Musibah bisa datang kapan saja,” kata Muin saat ditemui Jawa Pos di rumahnya.
Bangunan dua lantai di Jalan Semarang itu selama ini tidak hanya menjadi kediamannya dengan keluarga. Muin juga berbagi ruang dengan orang lain. Lebih dari lima dekade sebagian rumahnya disewakan untuk kos harian. Kontras dengan bangunan lain di sekitar yang cenderung difungsikan sebagai toko buku maupun mebel.
Muin sebelumnya tidak pernah punya masalah dengan penghuni kos yang silih berganti datang. Namun, petaka itu kemudian datang.
Jumat (5/8) pekan lalu, kamarnya disusupi orang ketika ditinggal salat Jumat. Muin menduga pelakunya penyewa kamar.
Menurut dia, setelah salat itu, terlihat kejanggalan di kamarnya. Muin mendapati dompet di saku celananya terlihat sedikit keluar seperti baru diambil. Kondisinya tidak sesuai dengan sebelum ditinggal.
Muin buru-buru mengecek isinya. Uang di dalamnya masih ada. Namun, dia langsung mengernyitkan dahi. Sebab, dua kartu pribadinya raib. “KTP dan ATM tidak ada,” kata pria kelahiran Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, itu.
Fakta itu membuatnya curiga. Muin langsung memeriksa lemari tempat menyimpan buku tabungan. Sebab, perkiraannya ATM dan KTP bisa disalahgunakan untuk mengakses pelayanan ke perbankan. “Ternyata benar, bukunya juga hilang,” ungkapnya.
Muin bergegas keluar kamar. Dia melihat istrinya tergolek lemas di ruang tamu. Putri diyakini bukan yang mengambil. “Dugaan saya salah satu penyewa,” katanya. Hanya, Muin tidak mau berspekulasi lebih. Dia berpikir harus cepat-cepat meminta bantuan ke kantor cabang bank tempatnya menyimpan uang di dekat rumah. Jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki.
Di perjalanan itu, dia sempat membuka mobile banking. Muin mendapati saldonya masih utuh. Nilainya Rp 320 juta. “Waktu sampai di bank, kata pegawainya ada transaksi penarikan di kantor cabang Jalan Indrapura,” terangnya.
Muin diminta memastikan ke sana. Sebab, dia tidak pernah memberikan kuasa transaksi kepada orang lain.
Muin menuruti arahan tersebut. Namun, dia mendapat jawaban yang tidak memuaskan di kantor cabang bank lainnya itu. “Kata pegawainya sudah sesuai prosedur. Ada KTP, ATM, dan buku tabungan,” ujarnya.
Jawaban itu kontan saja membuatnya meradang. Muin tidak habis pikir pihak bank bisa dengan mudahnya mencairkan dana ratusan juta. Padahal, yang melakukan bukan pemilik tabungan. “Tanda tangan pelaku di berkas penarikan dana dan KTP saya saja tidak sama,” ucapnya dengan nada kesal.
Pada hari yang sama, kakek lima cucu itu membuat laporan ke polisi. Muin mendatangi Polrestabes Surabaya. Harapannya, petugas bisa lekas menemukan pencuri yang menyusup ke kamarnya. Sebab, uang yang dibawa sangat berarti bagi nyawa istrinya.
Muin menuturkan, istrinya menderita sakit komplikasi lebih dari dua tahun terakhir. Mulai paru-paru, diabetes, sampai katarak. Putri sudah sering keluar masuk rumah sakit.
Menurut Muin, biaya pengobatan yang sudah keluar tidak sedikit. Faktor itu pulalah yang membuatnya sampai harus menjual rumah lainnya di Sidoarjo. “Laku enam hari sebelum pencurian. Jadi, yang di ATM itu sebenarnya uang hasil jual rumah untuk biaya pengobatan istri,” paparnya.
Tetapi, takdir berkata lain. Muin justru kehilangan uang tersebut sebelum dipakai mengobatkan istri. Putri yang seharusnya mendapat perawatan medis dari uang itu akhirnya mengembuskan napas terakhir di rumah pada Jumat (19/8). (*/c6/git/jpg)


