Siti Atikoh mengakrabi sepak bola sejak kecil lewat perantaraan sang kakak yang mengajaknya menonton tarkam dan memainkannya bersama kawan-kawan sekampung. Istri Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo itu pernah menonton langsung Manchester United di Australia dan berharap suatu hari bisa ke Old Trafford bersama keluarga.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
”KAPAN, Pak, bawa ibu ke Old Trafford?”
Ganjar Pranowo tertawa lebar mendengar pertanyaan Jawa Pos tersebut. Sambil berjalan meninggalkan studio Jawa Pos TV di Graha Pena Surabaya, gubernur Jateng itu menunjuk sang istri, Siti Atikoh Supriyanti, yang berjalan agak di belakangnya, ”Dia ini nih yang suka Manchester United, saya ikut-ikutan saja.”
Atik, demikian Siti Atikoh biasa disapa, memang yang menulari sang suami ”virus” sepak bola, khususnya Manchester United. Padahal, dulunya Ganjar tidak akrab dengan lapangan hijau. Pria kelahiran Karanganyar, Jateng, 28 Oktober 1968, itu lebih senang menonton bola basket selain kegemarannya pada kegiatan pencinta alam.
Jadilah, semasa mereka berpacaran, agenda nonton bareng (nobar), sebuah kultur yang lekat dengan penggemar sepak bola, tak pernah dilakukan. Namun, begitu mereka berumah tangga, karena keseringan melihat keseruan Atik, belakangan bersama sang anak, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, nobar, gubernur Jateng dua periode itu pun mulai tertarik.
Jika The Red Devils (julukan Manchester United) bertanding, kerap kali Ganjar ikut nimbrung menonton di rumah. Kalaupun ketiduran, pagi harinya dia tak lupa menanyakan hasil akhir. “Semalem menang siapa ya? Skornya berapa-berapa ya? Walaupun nggak nonton, Mas Ganjar tetap monitor,” kata Atik di sela mendampingi sang suami kala berkunjung ke redaksi Jawa Pos koran dan TV di lantai 4 Graha Pena Surabaya Jumat (26/8) pekan lalu.
Kecintaan Atik pada sepak bola tumbuh sedari kecil. Dari kakak tertuanyalah perempuan kelahiran Purbalingga, Jateng, 25 November 1971, itu menemukan keasyikan menonton, bahkan memainkan, si kulit bundar.
Semasa kecil hingga remaja, kakak perempuan yang pernah menjadi wartawan di Solo itu kerap mengajaknya menonton langsung pertandingan sepak bola level tarkam (antarkampung). Atik kecil juga kerap bergabung dengan anak-anak lelaki di kampungnya berlarian dan menendang bola.
Sepak bola, bagi Atik, mengasyikkan karena tak hanya membutuhkan taktik, tapi juga kekompakan. “Ada pelajaran tentang kepemimpinan pula, terutama bagi kapten tim. Selain menjalankan tugas sebagai pemain, seorang kapten juga harus bisa membaur, memotivasi, dan menyemangati rekan-rekannya,” kata dia.
Kebetulan sang kakak yang mengenalkannya pada sepak bola adalah pendukung Manchester United. Ini pilihan yang tidak lazim sebenarnya waktu itu. Periode 1970-an dan 1980-an adalah masa-masa kejayaan Liverpool, seteru klasik United.
Semua keluarga besarnya yang menggemari sepak bola adalah fans klub berjuluk The Reds itu. ”Jadi, tiap kali kedua tim bertanding, saya dan kakak tertua jadi public enemy keluarga besar,” kenangnya seraya tergelak.
Sampai Atik tumbuh dewasa, berkuliah, dan bekerja, sepak bola dan The Red Devils terus jadi bagian hidupnya. Setelah melewati masa-masa kenyang diledekin karena United tak pernah memenangi liga pada 1970-an sampai 1990-an, Atik mulai memetik buah loyalitasnya di era 1990-an.
United bergelimang gelar di bawah penanganan Sir Alex Ferguson. Meraup total 13 gelar Premier League dan dua trofi Liga Champions. Momen yang tak akan pernah dilupakannya tentu saja musim 1998–1999.
The Reds Devils menjadi treble winners –juara Premier League, Piala FA, dan Liga Champions– yang sampai sekarang tak bisa disamai klub Inggris mana pun. Final Liga Champions melawan Bayern Munchen juga demikian dramatis. Ketinggalan dulu hingga ujung waktu normal, United akhirnya menang 2-1 di injury time.
Atik nobar bersama kawan-kawan kerjanya di kantor sebuah media di Solo tempat dia bekerja saat itu. “Saya ingat, saya teriak keras sekali saat Teddy Sheringham menyamakan kedudukan jadi 1-1. Dan lebih keras lagi ketika Ole Gunnar Solskjaer menentukan kemenangan,” kenang alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta tersebut seraya kembali tergelak.
Tahun 1999 menjadi makin indah karena di tahun itu juga dia menikah dengan Ganjar. Empat tahun kemudian, pasangan yang sama-sama alumni UGM dan gemar berolahraga lari serta bersepeda itu dikaruniai buah hati. Seorang putra yang kemudian mereka beri nama Muhammad Zinedine Alam Ganjar.
Lho, kok Zinedine yang jelas diambil dari Zinedine Zidane yang tak pernah membela Manchester United? “Jadi, untuk klub, saya memang menggemari Manchester United. Tapi, untuk pemain, saya suka Zinedine Zidane,” jelasnya.
Seperti juga sang suami, sang anak pun ”dididik” Atik untuk mendukung The Red Devils. Didikan itu pun berhasil. Sang buah hati tumbuh menjadi die hard fans seperti dirinya.
Karena kesibukan sehari-hari sang suami, Zinedine inilah yang akhirnya jadi ”partner in crime” sang bunda untuk urusan sepak bola. Ibu dan anak itu pernah menonton bareng United saat tur ke Perth, Australia, pada 2019.
Tiap ada kesempatan ke luar negeri, Atik juga selalu mengajak sang anak untuk ikut tur stadion. Santiago Bernabeu di Madrid dan Nou Camp di Barcelona beberapa di antaranya. Justru Old Trafford, kandang United, yang belum pernah dia datangi sama sekali.
Sebagaimana umumnya fans berat, beragam koleksi United juga dia koleksi. Mulai jersey di tiap musim sampai pernak-pernik lain berlogo atau berlatar belakang The Red Devils, misalnya karikatur pemain, bantal, dan seprai kasur. Semua koleksi itu kini tertata rapi di kamar sang anak.
Bersama Zinedine pula Atik ”saling menguatkan”. Terutama ketika prestasi United mulai merosot sepeninggal Sir Alex Ferguson. Seperti di awal musim ini saat United mengalami dua kekalahan beruntun, termasuk 0-4 di kandang Brentford.
Ketika itu Atik tidak berani menonton pertandingan hingga selesai setelah United tertinggal 0-2. Sedangkan Zinedine yang kini berkuliah di UGM memutuskan tetap menonton. Paginya Atik sangat kaget mengetahui klub kebanggaannya tersebut kalah empat gol tanpa balas.
Kesedihan Zinedine tentu juga tak terkatakan. Sang anak yang tinggal di Jogjakarta, ungkap Atik, sampai sulit tidur dan kehilangan nafsu makan. “Untuk ngobatinnya, kami memilih nggak ngomongin soal MU. Apa pun itu pembahasannya. Kalau dibicarain, pasti keinget lagi,” ucapnya.
Untung, kekecewaan itu terobati sepekan kemudian saat mengalahkan sang rival klasik, Liverpool, 2-1. Dia berharap prestasi United terus membaik ke depannya. Sambil tentu juga terus menjaga asa bisa ke Old Trafford.
Selama ini tak pernah sekali pun Atik mengajukan permintaan itu ke sang suami yang dia tahu waktunya sangat terbatas. “Namun, saya tetap berharap suatu saat bisa ke sana (Old Trafford, Red) bersama keluarga. Semoga bisa terkabul ya,” kata Atik mengaminkan ucapannya sembari mengusapkan telapak tangan ke wajah. (*/c9/ttg/jpg)


