TARAKAN – Ribuan mahasiswa bersama petani tambak kembali turun ke jalan, Rabu (2/11), menuntut anjloknya harga udang.
Aksi massa melakukan long march dari depan Stadion Datu Adil Tarakan, Kantor Pemkot Tarakan, Kantor DPRD Tarakan, Simpang 4 GTM dan berkumpul di depan Pelabuhan Tengkayu II Tarakan.
Dalam kondisi hujan, massa aksi nyaris bentrok dengan aparat kepolisian. Diduga massa aksi ingin menyeruduk masuk ke perusahaan cold storage. Beruntung massa berhasil ditenangkan dan fokus berdiskusi dengan Wali Kota Tarakan Khairul.
Dalam orasinya, salah seorang petani tambak Nasruddin menegaskan, kehadiran Pemkot Tarakan tidak semata hanya terkait anjloknya harga udang. Namun harus ada peran pemerintah dalam memberikan solusi terkait harga udang.
“Saya anggap Perumda (Tarakan Agrobisnis Mandiri) adalah kecerobohan ketika sanggup ini harga yang paten. Tetapi tidak mengetahui harga udang dunia itu berapa. Kami menginginkan pemerintah setiap bulannya merilis harga yang sebenarnya,” ucapnya.
Jika Pemkot Tarakan mematok harga seperti udang windu dengan size 20 seharga Rp 135 ribu. Maka nelayan tambak dianggap seperti dikhianati. Tak hanya itu, perusahaan cold storage dianggap mempermainkan harga udang. “Jika dibandingkan dengan harga udang di Balikpapan, lagi-lagi permainan cold storage,” tegasnya.
Sementara itu, Abdullah selaku petani tambak mengatakan, rilis harga udang yang disampaikan merupakan versi Pemkot Tarakan. Sementara pihaknya masih punya keterikatan dengan pos penjualan udang.
“Jangan mereka membeli, kemudian nanti menampung dan join lagi dengan perusahaan untuk penjualan. Penjelasan Perumda saja baru mau cari investor ke Malaysia, sedangkan kita butuh solusi hari ini (kemarin, Red),” keluhnya.
Soal tawaran Perumda Agrobisnis terkait komisi dan harga udang yang digabung. Akan ada persepsi lain, yang nantinya akan dibahas bersama himpunan petambak. Menurutnya, ekonomi pada pos penjualan akan mati. Ketika petambak melakukan penjualan udang ke pihak Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri.
“Solusinya ya hadirkanlah dua atau tiga kompetitor. Kalau Perumda dulu pernah ada terobosan dengan membeli langsung dari petambak. Tapi kan sarana dan prasarana lagi. Sedangkan mendirikan cold storage saja kita hitung hampir Rp 30 miliar. Kami ya menuntut komitmen saja, untuk solusinya ke petambak. Kami tahu pasaran dunia goyang, yang kita mau tahu harga udang harus stabil,” ungkapnya.
Saat ini pihaknya tidak puas dari solusi sementara yang ditawarkan Pemkot Tarakan. Salah satunya solusi jangka pendek terkait pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengawasan. Nantinya akan mengawasi langsung timbangan pos penjualan terhadap petambak.
“Kami tetap tuntut regulasi. Karena ini kan undang-undang, masalah investor, mengontrol harga dan memfasilitasi ekspor impor itukan wewenang pemerintah memang. Saya rasa pemerintah sudah kantongi semua, dari 2017 kita sudah bereaksi. Tapi sampai saat ini solusinya masih mengambang,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Wali Kota Tarakan Khairul menawarkan harga udang windu size 20 dipatok seharga Rp 95 ribu. Ditambah komisi Rp 40 ribu, menjadi Rp 135 per kilogram. Namun angka ini dianggap masih jauh dari perhitungan petani tambak.
Perbedaan pendapat dari pemerintah dan petambak merupakan hal yang wajar. Namun karena ini kondisi ekonomi masyarakat, pihaknya akan mengupayakan dengan cara yang baik.
“Pasti ada solusinya, nanti kita sama-sama duduk dengan cold storage dan Pemprov. Termasuk DPRD dan dinas terkait, seperti permintaan mereka. Harga tidak bergejolak seperti roller coaster,” terangnya.
Melalui Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (DKUMP) Tarakan dan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tarakan, nantinya akan membuka marketing point. Kendati, kondisi dunia saat ini kurang baik.
Khairul menegaskan, soal harga udang dunia sudah memerintahkan DKUMP dan DPMPTSP, untuk membuka marketing point. Sehingga petani tambak bisa langsung memantau perkembangan harga udang. Pemkot masih memikirkan terkait opsi pendirian perusahaan cold storage.
Namun solusi jangka pendek, pada pekan depan pemkot akan memanggil himpunan petambak. Untuk membentuk satgas pengawasan harga udang di Tarakan. “Lalu kita sama-sama bergerak, supaya tidak ada kecurigaan. Jadi mahasiswa dan petambak terlibat. Situasi sekarang ya memang rawan adanya kecurigaan, tapi saya kira itu wajarlah,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia menyatakan, aksi massa ini berhasil tidak ada insiden. Ia menilai, ada titik temu antara Pemkot Tarakan dan petambak.
“Jadi tidak usah lagi turun ke jalan begini, mudah-mudahan cepat ada solusinya dari pemerintah ke petambak juga. Kami siap mengawal, kan sifatnya memberikan pengamanan untuk mereka menyampaikan aspirasi. Agar tidak disusupi pihak yang ingin merusak perjuangan mereka. Aksi ini sebelumnya ada suratnya masuk ke Polres,” singkatnya. (kn-2)


