TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi salah satu provinsi yang berupa menurunkan angka stunting. Berdasarkan data yang ada, persentase stunting Kaltara tahun 2021 masih di atas nasional.
Sesuai data Kemenkes, untuk Kaltara di tahun 2021 masih 27,5 persen. Sementara rata-rata nasional 24,5 persen. Target di 2022 yang ingin dicapai sebesar 18,5 persen. Angka itu cukup besar jika melihat presentase pada tahun lalu.
“Kalau target di RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), kita bahkan harus mencapai 14 persen,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltara Agust Suwandy, Kamis lalu (27/1).
Stunting terjadi karena multi faktor. Sehingga penanganan tidak bisa satu sisi atau sektor, harus dengan multi sektor. Beberapa tahun ini, sudah banyak sektor dilibatkan.
Terdapat 18 sektor melakukan gerakan bersama, dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Seperti Kemendagri, Bappeda, dinas terkait di antaranya kesehatan, sosial, pemberdayaan perempuan dan lain-lain.
Stunting terjadi dengan kronis. Upaya pencegahannya tidak bisa hanya satu titik pada anak saja. Karena ini terjadi paling tidak dalam seribu hari pertama kehidupan. Dari masa hamil dan dua tahun pertama. Menurut Agust, intervensinya harus jauh hari disiapkan. Ibu melahirkan bayi yang sehat, diawali kehamilan yang sehat. Kondisi ibu sehat, gizi baik, dan tidak menderita kekurangan energi kronik.
“Harus disiapkan dari masa remaja. Jangan sampai ketika remaja menderita anemia, kurang gizi, dan kurang energi kronik. Ketika menjadi ibu, bisa sehat dan memiliki kehamilan yang baik dan dapat melahirkan bayi yang sehat,” bebernya.
Langkah yang dilakukan khususnya di Kaltara, cukup kompleks. Pada semua kagetori, seperti golongan, umur siklus kehidupan harus terintervensi. Dibutuhkan peran serta, baik sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).
“Kalau dilakukan rutin, anemia pada remaja bisa berkurang,” imbuh Agust.
Kondisi ibu hamil, maka perlu lakukan pemeriksaan rutin, pemberian makanan tambahan, dan tablet tambah darah. Agar potensi kehamilan sehat. Untuk intervensi bayi, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan, makanan pendamping ASI, makanan bergizi, dan pemantauan pertumbuhan selalu dilakukan. Termasuk kunjungan ke Posyandu setiap bulan.
“Yang sering terjadi, dibiarkan bertahun-tahun, orang tua tidak tahu anaknya stunting. Karena tidak dibawa layanan kesehatan untuk dipantau,” ungkap Agust. (kn2)


