Sunday, 21 June, 2026

Bantah Kenaikan Tarif Peti Kemas

TARAKAN – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 4 Tarakan membantah adanya kenaikan tarif peti kemas sejumlah Rp 10 ribu. Namun saat ini terjadi perubahan pengelolaan manajemen lapangan peti kemas.

Sebelumnya, lapangan dikelola pihak pelayaran dan setelah Januari diserahkan ke Pelindo mengelola. Pelayaran kontrak atau sewa lapangan sekarang diserahkan ke Pelindo pengelolaannya. Itupun atas permintaan.

“Tidak ada kenaikan tarif, dulu kita punya lahan disewa pelayaran dikelola mereka. Sekarang Pelindo yang mengelola, cost dikeluarkan pengguna jasa atau JPT. Bedanya kalau dulu mereka bayar di Pelayaran, sekarang pengguna jasa bayar tarif ke Pelindo,” jelas General Manager PT Pelindo Regional 4 Tarakan Rio Dwi Santoso, Senin (22/5).

Sebelum perubahan, tarif yang dikenakan mencapai Rp 75 ribu yang ditambah Rp 50 ribu. Namun saat dikelola Pelindo, maka tarifnya Rp 105 ribu ditambah Rp 30 ribu. Jika ditotal, hanya ada kenaikan Rp 10 ribu.

Ia menyebut, kontribusi Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) yang melakukan bongkar muat dan mendatangkan barang dari luar atau mengirim cukup besar. Sementara yang masuk peti kemas, pasti Pelindo menghasilkan pendapatan. Sehingga ada beberapa kegiatan dengan berbeda tarif.

“Semakin banyak kegiatan, maka Pelindo memiliki pendapatan dan uangnya dikembalikan ke Negara. Dalam hal ini, tugas Pelindo menjamin kelancaran negara,” ujarnya.

Saat ini, Tarakan sudah berstatus memiliki pelabuhan internasional. Meskipun lanjutnya, belum ada yang direct call langsung ke luar negeri. Sementara yang bisa perdagangan langsung ke luar negeri dalam aturan yakni pelabuhan terbuka atau internasional. Tarakan dari dulu sudah merupakan pelabuhan internasional. Namun peti kemas tidak ada langsung keluar negeri, karena tidak ada shipping atau pengiriman yang direct.

“Saat ini yang menjadi persoalan ada di volume. Karena tidak mungkin misalnya mengirim ke Tiongkok 400 boks satu kapal. Sementara di Tarakan misalnya hanya sanggup mengirim 10 boks. Akhirnya dikumpulkan dulu ditransit di Surabaya atau Makassar, baru kemudian dibawa ke luar negeri,” ungkapnya.

Komoditas yang potensi ekspor yakni, rokok, batu bara, plywood dan rumput laut. Sehingga nantinya bisa saja mencarter satu kapal dikirim melalui Tarakan.

“Mimpi kami ya itu Tarakan ini Singapuranya Indonesia Timur. Sebenarnya setiap jasa angkut mau saja mengangkut ke mana saja. Terpenting ada demand, misalnya satu dua orang saja mau ke Jepang, tidak mungkin. Karena kalau berbicara demand, kami ambil sampling data sebelum Covid-19. Permintaan cukup tinggi,” tuturnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru