Thursday, 23 April, 2026

Penyucian Melasti di Tarakan Digelar Sederhana

TARAKAN – Penyucian melalui ritual Melasti digelar sederhana, pada perayaan hari raya Nyepi bagi umat Hindu di Tarakan.

Pasalnya, pembatasan tersebut mengingat adanya pandemi Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di Tarakan. “Melasti kami lakukan sederhana, tapi tidak mengurangi hikmahnya. Intinya Melasti itu proses pembersihan atau penyucian simbol-simbol dewa Tuhan. Kami lakukan pada 27 Februari di Pantai Amal,” ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Tarakan I Nengah Pariana, Rabu malam (2/3).

Tak hanya di Pantai Amal, Melasti juga dilakukan di sekitar Pura Agung Giri Jagatnatha. Tujuannya, menghindari hal-hal yang tidak sesuai kehendak manusia. “Pensucian ini ingin menyelaraskan ajaran kami. Tentang Tri Hita Karana, artinya menjaga keharmonisan kehidupan manusia dengan alamnya. Sehingga alam lain perlu dikondisikan. Supaya mereka tidak mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya.

Pada perayaan ibadah ini, hanya diikuti sekitar 100-an umat. Sebab sebagian umat juga ada yang pulang ke Bali. Selain itu kegiatan keagamaan budaya harus berdasarkan Desa Kala Patra. “Kalau di muslim ini perayaan Idul Fitri. Tahun Baru Saka itu pensucian secara menyeluruh. Baik alam makro maupun mikro,” imbuhnya.

Dalam perayaan Nyepi, lanjut I Nengah, empat pantangan atau larangan yang wajib dilakukan oleh umat Hindu atau biasa disebut Catur Brata Penyepian. Pertama, Amati Geni yang merupakan pantangan untuk tidak menyalakan api dan listrik selama 24 jam. Dengan tujuan dalam melawan hawa nafsu duniawi.

Kedua, Amati Karya atau pantangan tidak melakukan aktivitas kegiatan atau bekerja dalam bentuk apapun. Umat Hindu diajak untuk introspeksi diri atas semua tindakan buruk yang pernah dilakukan selama setahun.

Ketiga Amati Lelungan, tidak melakukan bepergian saat Hari Raya Nyepi berlangsung. Supaya umat Hindu fokus beribadah satu hari penuh. Keempat Amati Lelanguan, melarang keinginan untuk bersenang-senang. Umat Hindu diajak untuk menghentikan sejenak segala bentuk kesenangan duniawi agar fokus beribadah.

Di Nunukan, umat Hindu memimpikan memiliki Pura sebagai rumah peribadatan. Sekaligus untuk menunjukkan eksistensi Hindu di perbatasan RI–Malaysia.

Pemuka Hindu di Nunukan I Made Wirama mengungkapkan, Nunukan belum memiliki Pura sebagai rumah ibadah umat Hindu. Selama ini, peribadatan dilakukan secara door to door.

“Kita berharap Tahun Baru Saka 1944 atau 2022 Masehi ini, bisa menggapai mimpi sebagai umat minoritas. Dibangunkan Pura sebagai rumah ibadah dan pengakuan eksistensi Hindu di Nunukan,” ujarnya, Kamis (3/3).

Made yang merupakan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Nunukan, mengakui, membangun rumah ibadah harus mengantongi izin Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri. Ada syarat yang diharuskan, mulai batasan jumlah penganut, sampai adanya persetujuan warga sekitar yang merupakan non Hindu.

Hanya saja, ketentuan tersebut tidak saklek dan dikembalikan pada kebijakan pemerintah daerah. Made sebagai Hindu menyadari bahwa Tuhan ada dimana-mana. Sehingga ibadah bisa dilakukan dimanapun, tergantung niat dan iman seseorang.

“Layaknya manusia umumnya, yang menginginkan rumah sebagai tempat tinggal yang layak. Kami sebagai umat beragama juga butuh hal itu,” ungkapnya.

Permasalahan ini, sudah sering dikemukakan Made kepada Pemkab Nunukan. Sayangnya, kemampuan keuangan daerah menjadi hambatan. “Kami sadar ini berhubungan dengan anggaran. Tapi setidaknya pemerintah daerah bisa mengalokasikan step by step dulu, tidak langsung. Agar umat Hindu bisa merasakan beribadah di rumah sembahyang mereka,” harapnya.

PHDI Nunukan mencatat ada 67 orang pemeluk Hindu yang menetap. Kebanyakan pemeluk Hindu yang tinggal sementara waktu. Entah karena tugas, seperti TNI/Polri atau pegawai pemerintah juga perusahaan.

Memaknai Nyepi di Tahun Baru Saka 1944, Made berpatokan pada tema perayaan Nyepi 2022, aktualisasi nilai takwamasi dalam moderasi beragama menuju Indonesia tangguh. “Kita akan menciptakan sepi dalam keramaian. Ada ritual Catur Brata penyepian yang menjadi muhasabah dan evaluasi diri umat Hindu. Mati geni, mati lelungan, mati karya, dan mati lelanguan. Itulah Nyepi, waktu yang digunakan sepenuhnya untuk merenungi arti penciptaan dan keagungan pemilik kehidupan,” bebernya.

Sementara itu, Juru Bicara Pemkab Nunukan Hasan Basri Mursali mengatakan, kondisi Nunukan yang sulit dan keterbatasan anggaran. Tidak bisa mengakomodir permohonan pembuatan Pura untuk saat ini.

“Tapi kalau skemanya membangun swadaya, kita bisa bantu dengan anggaran Kesra. Jika dibebankan ke pemerintah, kita terbentur aturan Kementerian Agama dan Kemendagri,” singkatnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru