Ada peran besar psikolog volunter di balik jalannya Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Surabaya. Mereka secara sukarela memberikan konsultasi untuk setiap keluhan yang masuk. Akhir-akhir ini yang menjadi sambatan orang tua adalaha perilaku anak yang tidak lepas dari menatap layar gawai.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
PERAN Puspaga Surabaya sama dengan slogan salah satu BUMN. Yakni, mengatasi masalah tanpa masalah. Setiap orang yang datang ke sana membawa masalah. Keluar, sebagian beban hidup mereka sudah ringan. Ada jalan keluar yang ditemukan.
Tempat yang dikelola Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya tersebut memiliki andil besar dalam mengurai masalah yang dialami keluarga. Bukan perkara hubungan suami istri saja. Masalah mendidik anak pun bisa diselesaikan di sana.
Sebab, ada tangan istimewa yang selalu terbuka menerima dan memberi solusi atas setiap masalah. Mereka adalah psikolog volunter yang sukarela menjadi pendengar yang baik bagi warga yang sudah lelah dengan ujian hidup. Total ada 14 psikolog yang kini membawa bendera relawan untuk membantu warga Surabaya.
Salah seorang psikolog volunter Puspaga adalah Asteria R. Saroinsong. Dia ikut babat alas Puspaga sejak 2017. “Semangatnya untuk warga Surabaya. Kami bersama psikolog dan konselor yang lain memberi konseling gratis tanpa berbayar ke warga Surabaya,” katanya.
Ternyata, banyak fakta dari permasalahan yang mereka tangani. Tentu bukan masalah sepele. Bahkan kalau dibiarkan, malah bisa membuat runyam hubungan rumah tangga.
“Sepanjang saya menjadi volunter, masalahnya sangat beragam. Ada yang bermasalah dengan hubungan suami atau istrinya. Juga soal anak. Nah, soal ini yang sekarang banyak datang ke sana,” papar alumnus psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) itu.
“Per bulan, rata-rata tangani 10–15 kasus anak yang tidak bisa lepas dari HP,” lanjutnya.
Setelah didalami, perempuan yang akrab disapa Mimi Ria itu mengungkapkan, si anak sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ayahnya. Ribut terus. Daripada menghadapi tekanan, dia lebih memilih bermain HP, mengurung di kamar, dan minim komunikasi.
“Belum lagi masalah orang tua yang gemas dengan anak mereka yang fokus pada HP. Lupa makan, malas sekolah, dan kegiatan produktif lain, semua diabaikan,” katanya.
Bagi Mimi Ria, menjadi relawan sudah menjadi kesehariannya sekarang. Menurut dia, itu adalah bagian dari makna sebuah kehidupan.
“Menjadi manusia dengan hidup yang sangat berarti. Bagi saya dan psikolog lain, ini adalah salah satu jalan pengabdian kami,” kata anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jatim itu. (*/c6/ai/jpg)


