Di Konawe Selatan, ibu-ibu mendapat pendidikan perbankan serta kewirausahaan gratis lewat sentra. Saat ini BTPN Syariah sudah memiliki 256 ribu sentra yang tersebar di 2.600 kecamatan di Indonesia.
AGUS PUTRA HARTANTO, Konawe Selatan
KELUHAN yang disampaikan para ibu di Desa Onewila, Sulawesi Tenggara, itu beragam. Mulai tidak ada modal untuk buka usaha, sulit bayar sekolah anak, sampai suami yang kehilangan pekerjaan.
Dengan sabar Desi Satria Ratna mendengarkan semuanya. “Kami bertemu tokoh desa dan masyarakat, mengenalkan serta menyampaikan tujuan dan program kami. Dari situ minat warga antusias,’’ kata Business Manager BTPN Syariah Area Ranomeeto, Konawe Selatan, tersebut kepada Jawa Pos.
Dari situ, Desi memahami kebutuhan masyarakat Onewila yang masuk wilayah Kabupaten Konawe Selatan itu. Pembiayaan secara berkelompok menjadi pilihan model yang nyaman karena lebih memudahkan proses dan pendampingan. Seperti arisan.
Hasil survei nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2022 untuk literasi keuangan menunjukkan 85,10 persen dari sampel 14.634 orang di 34 provinsi di Indonesia telah menggunakan produk/layanan industri keuangan formal. Hanya, pemahaman masyarakat alias literasi keuangan masih relatif rendah: 49,68 persen.
Pemerintah menargetkan tingkat inklusi keuangan Indo nesia mencapai 90 persen pada 2024. Berbagai upaya pun dilakukan untuk merealisasikan target tersebut.
Kalangan perbankan turun langsung ke lapangan dari pintu ke pintu. Pada akhir Mei lalu, Jawa Pos berkesempatan mengikuti langsung bagian dari upaya tersebut yang diadakan BTPN Syariah.
Rombongan mengunjungi para nasabah program pendampingan dan pembiayaan. Sasaran pembiayaan adalah ibu-ibu rumah tangga karena mereka lebih banyak berada di rumah.
Di sisi lain, para ibu memiliki potensi untuk bisa diberdayakan agar produktif. Seperti Siti Mulyati yang semula hanya mengandalkan penghasilan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sangat pas-pasan mengingat sang suami masih berstatus tenaga honorer di instansi pemerintahan.
Siti menceritakan, pada 2015, seorang community officer datang menyosialisasikan kampung pinjaman modal usaha tanpa agunan. Hanya, pembiayaan diberikan harus dalam bentuk kelompok. Minimal 8 orang. Dengan syarat harus disiplin dan rutin hadir pertemuan.
Semula, Siti sempat ragu untuk bergabung dan membentuk sentra sebagai mitra BTPN Syariah. Masih ada keraguan dengan pinjaman tanpa agunan itu. Tapi, karena butuh modal usaha, dia berani mencoba mengajukan diri membentuk Sentra Sakura.
“Awalnya, bantuan modal hanya Rp 3 juta. Alhamdulillah, karena usaha meningkat, sekarang bantuan modalnya sudah Rp 35 juta,” ungkap ibu tiga anak itu.
Usaha toko kelontong dan sembako miliknya berkembang. Kini, Siti sudah bisa membeli satu unit motor dan membayar biaya kebutuhan anak sekolah. Bahkan mendapat reward berangkat umrah pada April lalu.
Business Coach BTPN Syariah Sulawesi Tenggara Sanowati Samosir menyatakan, Siti masuk dalam kategori nasabah menginspirasi. Sebab, dia mampu memberdayakan ibu-ibu di sekitarnya.
Saat ini anggota Sentra Sakura sudah bertambah menjadi 15 orang. “Indikator lainnya, lanjut Sanowati, usahanya maju serta tabungannya meningkat,” katanya.
Nurhaeni, anggota Sentra Sakura lainnya, mengaku harus mencari pinjaman untuk uang bensin tiga anak laki-lakinya. Ditambah, biaya untuk kehidupan sehari-hari juga terasa pas-pasan.
Beruntung, dia diajak Siti ikut arisan Sentra Sakura. Dari situ, ibu 54 tahun itu mendapat pinjaman modal Rp 3 juta. “Untuk usaha jualan makanan di kantin sekolah SD Negeri 92 Kendari,’’ ujarnya.
Corporate and Marketing Communications BTPN Syariah Ainul Yaqin menuturkan, sebagai bank umum syariah, pihaknya fokus mengumpulkan dana dari keluarga sejahtera dan menyalurkan kepada keluarga inklusi sejak 2014. Juga, membuka akses kepada masyarakat inklusi yang ada di pelosok negeri, salah satunya di Sulawesi Tenggara.
Hingga kuartal I 2023, pembiayaan yang tersalurkan sebesar Rp 78,7 miliar untuk sekitar 27 ribu perempuan keluarga prasejahtera produktif di Sulawesi Tenggara. Latar pekerjaan mereka beragam, dari berdagang, produksi, hingga beternak.
“Tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga akses pengetahuan lewat program pendampingan, akses suplai, dan pasar agar semakin mempermudah kehidupan masyarakat inklusi mewujudkan hidup yang lebih berarti,” terang Ainul.
Di dalam sentra, para anggota akan mendapat pinjaman tanpa jaminan, tabungan tanpa potongan biaya, pelatihan gratis, dan asuransi kematian. Pinjaman paling kecil yang diberikan mencapai Rp 2 juta dan maksimal bisa sampai Rp 50 juta. Untuk nasabah pemula, diberikan pinjaman Rp 2 juta–Rp 5 juta.
Ketika hasil survei sebelum pinjaman serta evaluasi prospek usahanya bagus dan berkembang, pinjaman itu bisa bertambah secara bertahap. Anggota juga dibekali modul daya. Untuk bergabung dengan sentra, calon anggota wajib mengikuti pendidikan dasar keanggotaan.
Bagi perkumpulan baru, pelatihan berlangsung selama lima hari. Nasabah tambahan dalam satu sentra harus mengikuti pelatihan tiga hari. Pada hari terakhir, akan ada pelantikan dan pengelolaan keuangan.
Ainul menjelaskan, peran utama para community officer sebagai bankir pemberdaya. Bankir yang memberikan pemberdayaan kepada keluarga prasejahtera produktif melalui pelatihan dan pendampingan berkala. Baik pengetahuan keuangan, kewirausahaan, maupun kesehatan.
Dia menyebut bahwa strategi BTPN Syariah adalah menyasar segmen ultramikro (UMi). Bahkan menjadi satu-satunya bank yang berfokus pada pembiayaan tanpa agunan kepada masyarakat prasejahtera produktif. Sebab, potensinya sangat besar.
Meski demikian, segmen UMi memiliki risiko pembiayaan tinggi. Karena itu, penyaluran pembiayaan dilakukan secara kelompok atau sentra. Saat ini sudah ada 256 ribu sentra yang tersebar di 2.600 kecamatan di Indonesia.
“Setiap sentra kemudian didampingi oleh community officer atau petugas terlatih dan mengadakan pertemuan wajib secara rutin. Dengan begitu, risiko pembiayaan bisa ditekan,” katanya. (*/c17/ttg/jpg)


