TARAKAN – Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di bidang tekstil di Kaltara masih mengandalkan bahan baku dari luar daerah. Seperti bahan berupa benang, pewarna dan alat pembuatan produk tekstil.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah/UKM (Disperindagkop) Kalimantan Utara (Kaltara) Hasriyani mengatakan, saat ini memang bahan baku untuk diolah menjadi produk tekstil harus diambil dari Kota Surabaya. Sehingga sat ini, pihaknya mengharapkan adanya pelaku usaha dengan modal kapita yang besar untuk membuat pabrik tekstil.
“Ya meskipun membuat itu (pabrik tekstil) membutuhkan bahan baku benang dan sebagainya. Tapi kami tetap optimis. Karena pelaku UMKM kita telah sepakat mau memberdayakan produk lokal,” katanya, Minggu (18/6).
Jika nantinya ada pabrik industri, maka akan mempermudah pelaku usaha dalam menentukan cost pembuatan kain lokal Kaltara. Sehingga harga jual dari produk yang dihasilkan, mampu bersaing dengan produk dari luar daerah.
“Mudah-mudahan setelah statement saya ada pengusaha lokal yang bisa membantu para UMKM untuk bahan baku yang dibutuhkan. Tentunya tidak berorientasi kepada profit. Lebih membantu UMKM ini produknya bisa bersaing,” harapnya.
Saat ini yang paling berpengaruh adalah harga jual produk tekstil Kaltara. Baik itu kain batik ataupun kain dengan motif lokal. Karena wilayah Kaltara yang berada cukup jauh. Membuat ongkos transportasi pengiriman bahan baku menjadi pertimbangan harga jual produk.
Sementara untuk motifnya, tetap lokal dari Kaltara. “Kalau kita ini sudah penerbangan, terus ke pelosok lagi daerah Malinau. Itu harganya tinggi,” ucapnya.
Ia menegaskan, Kaltara memiliki produk unggulan lain selain kain batik yakni tas anyaman dari rotan. Pembuatannya pun tak mudah, produk tas berbahan dasar kayu alami ini dibuat dari tangan pengerajin. Menurutnya, pasaran dari tas ini sangat luas. Sehingga banyak wisatawan asing yang turut menggemari keberadaan tas anyaman ini.
“Karena lebih natural juga. Sudah dijual sampai ke Amerika. Sebagai pemerintah, kami selalu menjembatani pelaku usaha, seperti pendampingan dan edukasi. Baik dari segi permodalan dan peningkatan kompetensi. Supaya produk mereka tetap bisa bersaing dengan produk dari luar. Tak hanya nasional tentu Internasional,” pungkasnya. (kn-2)


