Thursday, 23 April, 2026

Supersoccer Arena, Kudus, dan Ikhtiar Turut Membangun Sepak Bola Putri

Di Supersoccer Arena, Kudus, bakat-bakat belia dari turnamen yang diadakan Djarum Foundation diberi kesempatan berlatih sebelum diarahkan ke SSB dan nantinya ke akademi klub-klub. Seperti di badminton, salah satu mimpi besarnya adalah menyatukan bangsa lewat olahraga.

RIZKY AHMAD FAUZI, Kudus

MIMPI Asyifa Sholawa Farizqi tinggi: dia ingin jadi pesepak bola profesional. Raihan sebagai top scorer di turnamen yang diikuti siswi kelas II SD itu bulan lalu menjadi salah satu fondasinya.

Fondasi lain tentu latihan keras. Seperti yang dia jalani Rabu sore dua pekan lalu (5/7) di Supersoccer Arena, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bersama para pemain lain yang terjaring dari U-13 Milk Life Soccer Challenge 2023 pada 15–18 Juni lalu.

“Senang sekali bisa berlatih di sini,” kata siswi SD 2 Rendeng, Kabupaten Kudus, itu kepada Jawa Pos.

Dari arena yang dibangun Djarum Foundation tersebut, memang diharapkan bisa lahir pesepak bola- pesepak bola putri andal yang nantinya mampu menerbangkan prestasi sepak bola Indonesia. Karena itu, arena dengan luas lahan 35.262 meter persegi dan luas bangunan 800 meter persegi tersebut dilengkapi beragam fasilitas.

Di antaranya, lapangan dengan kualitas rumput yang terjaga. Juga, tribun di sisi barat berkapasitas 1.100 penonton. Lalu, kamar ganti pemain dengan shower dan penerangan otomatis.

Program Associate Bakti Olahraga Djarum Foundation Tania Anggriani Arbi menyebut Supersoccer Arena dibangun tak lepas dari minimnya perhatian terhadap sepak bola putri. Sepak bola putri, lanjut Tania, belum semarak di level akar rumput.

Karena itulah, Djarum yang sebelumnya identik dengan badminton kini mulai terjun membantu. Gelaran Milk Life Soccer Challenge kategori U-11 dan U-13 bulan lalu salah satu caranya.

Rencananya, setiap tahun turnamen tersebut diselenggarakan sebanyak empat kali. “Tapi, karena tahun ini yang pertama baru terselenggara Juni, kemungkinan tahun ini tiga kali. Tahun berikutnya baru empat kali,” tuturnya.

Gol utamanya untuk saat ini pemassalan. Karena itu, pihaknya menyasar anak-anak SD dan nantinya mendorong mereka masuk sekolah sepak bola (SSB). Setelah dari SSB, barulah ke akademi di bawah naungan klub-klub seperti PSIS Semarang, Persis Solo, Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan lainnya.

“Itu nanti yang kami ajak untuk talent scouting kayak audisi (badminton). Tapi, bukan dari PB Djarum-nya, bukan dari Djarum Foundation-nya, kami akan ajak teman-teman yang dari akademi itu,” tutur putri Hastomo Arbi, salah seorang legenda bulu tangkis tanah air, itu.

Menyalurkan bakat-bakat atlet ke akademi ataupun klub itulah yang membedakan PB Djarum di sepak bola putri tersebut dengan di badminton. “Kalau di bulu tangkis, karena kami sudah punya klub, kami ambil dari klub-klub kecil yang lain atau mungkin individual gitu,” ujarnya.

Sementara itu, di sepak bola, pihaknya akan mengundang klub-klub untuk memantau dan melihat bakat. Jika berminat dengan pemain tertentu, dipersilakan ditarik.

Tania mengakui, pihaknya tidak memberikan beasiswa kepada pemain. Bantuan yang diberikan berupa fasilitas, coaching clinic, ataupun bantuan bola kepada sekolah-sekolah.

Pihaknya juga mengajak guru-guru SD, terutama di Kudus, mengikuti pelatihan dengan instruktur mantan pelatih Persiba Balikpapan Timo Scheunemann. Para guru akan diajari dasar-dasar bermain sepak bola untuk anak-anak sekolah dasar, termasuk bagaimana cara berkomunikasi.

Program lain, pihaknya mendatangkan pesepak bola putri tim nasional (timnas) untuk memberikan motivasi dan contoh. Cara seperti itu biasa dilakukan PB Djarum di badminton saat mencari bakat. “Jadi, ini sepak bola rasa badminton sebenarnya, hehehe,” tuturnya.

Sementara itu, President Director Djarum Foundation Victor Hartono menuturkan, salah satu keresahannya di sepak bola putri adalah melihat negara-negara tetangga Indonesia sudah bisa berlaga di Piala Dunia Sepak Bola Putri. Thailand di edisi 2019 serta Vietnam dan Filipina pada tahun ini.

“Jadi, kalau teman-teman kita serumpun ini pada masuk semua, kok kita yang paling besar di Asia Tenggara belum masuk, sih? Dan, slotnya untuk Asia kalau di sepak bola putri itu lebih banyak daripada (Piala Dunia) putra, lho. Jujur saya iri,” tuturnya.

Victor meyakini, jika dikelola dengan baik, sepak bola putri bisa saja sangat menjanjikan. Momen pembangunan Supersoccer Arena diakuinya tak lepas dari lolosnya tim Asia Tenggara ke Piala Dunia. “Nggak harus jadi juaranya Asia Tenggara untuk ke Piala Dunia (putri). Top two saja sudah cukup kok,” ujarnya.

Mimpi besar lainnya adalah menyatukan bangsa lewat olahraga, seperti yang telah PB Djarum lakukan di badminton. “Kejayaan sport sudah terbukti membantu menyatukan negara. Kami memang mulai dari badminton dulu karena badminton tuh olahraga favorit orang Indonesia selain sepak bola,” katanya.

Dan, badminton terbukti bisa konsisten berprestasi tinggi. “Terus tinggal olahraga lain apa dan bidang apa yang kami bisa bantu berikutnya. Akhirnya sekarang turun tangan di sepak bola (putri),” tuturnya.

Harapannya, tentu prestasi sepak bola putri bisa meningkat. Sebagaimana harapan Asyifa dan kawan-kawannya yang begitu bersemangat berlatih sore itu. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru