Friday, 19 June, 2026

Sersan Aditya Utoyo, Personel US Army, ”Jembatan Penghubung” dalam Latihan Bersama dengan TNI-AL

Berangkat ke Negeri Paman Sam untuk kuliah, jalan hidup Aditya Utoyo berbelok saat melihat pengumuman rekrutmen tentara AS lewat sebuah flyer. Jadi tempat jujukan rekan-rekannya bertanya tentang Indonesia, mulai soal batik sampai makanan.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

AWALNYA ragu, khawatir tak bisa menahan pedas sambalnya. Namun, akhirnya semangkuk rawon itu disantap juga.

Dan, rasanya sesuai dengan ekspektasi. “Sambalnya pedas banget, tapi nagih,” ujar Aditya Utoyo saat menceritakan kesempatan menjajal rawon selama berada di Surabaya kepada Jawa Pos.

Sejak 2009, pria kelahiran Jakarta itu berdomisili di Amerika Serikat (AS). Bahkan, sejak 2014 dia tercatat menjadi personel US Army atau Angkatan Darat AS. Karena itu, setiap dia berkesempatan pulang ke Indonesia, berburu makanan yang lama tak dijumpai menjadi ritual wajib.

Dari awalnya berkuliah di Montgomery College di Rockville, Maryland, jalan hidup Utoyo berubah saat mendapatkan info rekrutmen tentara lewat sebuah flyer (pamflet).

Dia pun mendaftar melalui jalur Military Accessions Vital to the National Interest (MAVNI), semacam program rekrutmen oleh Departemen Pertahanan AS untuk para pendatang legal dengan keterampilan tertentu agar bisa direkrut ke dinas militer.

Utoyo lolos dan kini pria berpangkat sersan itu ditempatkan di Hawaii. Sejak 1 September sampai 13 September, seiring latihan bersama (latma) US Army dengan TNI Angkatan Laut (TNI-AL) di Markas Koarmada II, Semampir, Surabaya, dia pun berkesempatan pulang kampung meski tidak ke Jakarta.

Peran Utoyo cukup penting dalam latma tersebut. Selama latihan berlangsung, pria 31 tahun itu bertugas sebagai penerjemah. Tepatnya penyambung informasi antar kedua negara untuk menghindari miskomunikasi.

“Bukan hanya bahasa, cukup banyak tentara AS yang juga penasaran dengan kebudayaan dan kesenian Indonesia,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Utoyo tumbuh besar di Jakarta. Setelah lulus SMA pada 2009, dia baru melanjutkan perguruan tinggi ke Negeri Paman Sam. Bergabung dengan militer negeri orang tak lantas membuatnya menanggalkan kewarganegaraan Indonesia.

Indonesia tetap menjadi bagian tak terpisahkan darinya. Dia selalu kangen mudik. Apalagi, orang tuanya masih tinggal di negeri tempat dia dilahirkan dan dibesarkan ini.

Selama sembilan tahun bertugas sebagai personel US Army, Utoyo tak pernah mendapatkan diskriminasi. Lingkungan tempatnya bekerja tak pernah mempersoalkan dari mana dia berasal.

Justru sebaliknya: sangat menghormatinya. Termasuk untuk kepercayaan yang dianut. Para rekan kerja bahkan kerap mengingatkan Utoyo yang muslim untuk salat ketika waktunya tiba.

Ketika masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan saat waktu salat telah tiba, termasuk salat Jumat, rekan-rekannya selalu bersedia menggantikan sampai dia selesai beribadah. Sesekali mereka juga bertanya terkait dengan Islam.

“Misalnya, dalam sehari, ada berapa salat wajib dan waktunya kapan saja. Dan, saya pun menjelaskannya dengan senang hati,” tuturnya.

Pertanyaan rekan-rekannya, terutama saat berada di Surabaya, bahkan bisa melebar ke berbagai hal lain terkait dengan Indonesia. Salah satunya mengenai batik. Mulai motif, jenis, sampai proses. Di Hawaii, batik memang tak sulit didapat. Namun, motifnya beda dengan yang ada di Indonesia.

“Di sana (Hawaii, Red), motifnya lebih menggambarkan suasana pantai atau laut. Menceritakan kehidupan penduduk lokal di sana,” jelasnya.

Dan juga tentang makanan. Untuk yang satu ini, Utoyo tak cukup hanya menjelaskan. Dia juga mengajak sejumlah rekan untuk langsung menjajal. Tentu saat waktu longgar di sela kegiatan latma.

Banyak sebenarnya makanan yang diincar: mi ayam, nasi goreng, rujak cingur, tahu campur, rawon, dan lontong balap. Namun, keterbatasan waktu membuat Utoyo dkk hanya bisa mencicipi tiga makanan di antaranya: nasi goreng, mi ayam, dan rawon. Rawon legendaris di Jalan Embong Malang yang dia pilih.

Di antara tiga makanan tersebut, rawon yang paling berkesan. Meski ya itu tadi, dia sempat ragu dengan ketahanan pencernaannya kalau bersentuhan dengan pedas. “Makanan langka. Di Hawaiii nggak ada. Hahaha,” ujar Utoyo. (*/c14/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru