TARAKAN – Dampak tidak langsung dari El Nino di sejumlah daerah produsen beras, membuat harga beras di Kalimantan Utara (Kaltara) turut merangkak naik.
Hal ini terjadi lantaran Kaltara masih mengandalkan beras dari luar, seperti Sulawesi dan Jawa. Guna mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara terus menyiapkan strategi. Agar mampu menekan harga dan menjamin stok beras cukup. Untuk mengurangi ketergantungan beras dari luar daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara Heri Rudiyono mengakui, sudah memberikan bantuan melalui anggaran cadangan pangan yang menyerap beras dari petani lokal. Juga menggalakkan program gerakan tanam padi. Selanjutnya dilakukan pendampingan kepada petani.
“Pendampingan petani ini untuk mengedukasi petani Kaltara, agar terus menanam beras. Dampak cuaca El-Nino membuat beberapa negara stop ekspor, lantaran daerah produsen beras kekeringan. Hasil panen petani untuk komoditi beras di Kaltara per tahun mencapai 70 ribu hingga 80 ribu ton,” tuturnya.
Dengan jumlah panen tersebut, masih cukup untuk memenuhi beras setiap Kepala Keluarga di Kaltara yang mencapai 788 ribu. Pihaknya juga membuka sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu padi sawah dan langsung melakukan pendampingan ke petani.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan Tarakan, Elang Buana menjelaskan, sebelumnya sudah mengajukan bantuan untuk program anggaran cadangan pangan kepada Pemprov Kaltara dan Pemerintah Pusat. Hal inipun telah terealisasi, dengan tersalurnya bantuan beras Kaltara sebanyak 8,5 ton untuk dua kelurahan di Tarakan.
“Beras kan penyumbang inflasi di beberapa bulan, dan ini sekarang harganya tinggi. Bagaimana pengendalian, salah satunya kami membagikan beras kepada beberapa orang yang berhak mendapatkan,” ujarnya.
Data penerima beras yang bersumber dari anggaran cadangan pangan Pemprov berasal dari data yang diajukan Kelurahan. “Kami minta data di Kelurahan mana yang berhak, karena Lurah yang paling tahu,” pungkasnya. (kn-2)


