Sunday, 19 April, 2026

Korban Cabul Butuh Pendampingan Psikologi

TARAKAN – Penyidik Unit Reskrim Polsek Tarakan Utara bekerjasama dengan psikolog, dalam penanganan perkara pencabulan yang melibatkan bocah lelaki berusia 12-15 tahun.

Tersangka berinisial RA yang merupakan santri senior, di tempat para korban mencari ilmu agama ini. Nantinya bisa menimbulkan trauma yang cukup dalam bagi korban.

“Kalau pendampingan ada. Kami sudah koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana yang membawahi Perlindungan Anak. Dari Badan Pemasyarakatan juga kami ajak kerja sama. Apalagi tersangka sudah melakukan perbuatannya sejak tahun 2016,” tutur Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kapolsek Tarakan Utara AKP Kistaya, Jumat (11/3).

Korbannya yang mencapai puluhan orang, perlu pendampingan. Saat kasus ini terungkap, penyidik sempat kesulitan mencari sample korban. Salah satunya, karena korban tidak mengaku dan masih merasa takut mengungkapkan kejadian sebenarnya.

Pihaknya secara perlahan mendekati para korban untuk bisa mengetahui kronologis kejadian sebenarnya. Agar tidak menimbulkan trauma pada korban. Penyidik mengingatkan kepada korban dan orangtua, untuk melakukan terapi di Polsek agar bisa menenangkan psikologi.

“Sampai sekarang ini belum ada (minta pendampingan psikologi). Tapi, saya sudah sampaikan agar menghubungi saya, kalau ada yang menjadi korban dan minta bantuan,” pesannya.

Perilaku pelaku terhadap korban ini bisa menjadi penyakit menular. Sehingga, dikhawatirkan para korbannya bisa menjadi pelaku nantinya atau memiliki kelainan seksual dengan menyukai sesama jenis. Kasus pencabulan yang terjadi sejak tahun 2016, kata Kistaya, kemungkinan lamanya terungkap karena korban merasa ketakutan atau rasa malu.

Terlebih lagi, tersangka merupakan santri senior yang dihormati para korban maupun anak-anak yang mengikuti pesantren Sabtu Minggu. Dari puluhan korban pencabulan, ada yang sudah menyelesaikan pesantren dan lulus. Sehingga perbuatan tersangka semakin tertutupi.

“Si RA ini suka sesama jenis. Kalau sama lawan jenisnya ya suka juga, tapi tidak nafsu. Anak-anak, korban ini posisinya tidur, tersangka dari belakang meraba korban kemana-mana. Anak ini melihat tersangka sebagai seniornya, jadi diam,” tutupnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru