Thursday, 7 May, 2026

Windiyati Nugroho, Wisudawan Usia 77 Tahun S-3 Unesa yang Raih IPK 3,98

Windiyati Nugroho memiliki keinginan untuk mengajar lebih baik di lembaga kursus yang didirikannya. Untuk mewujudkannya, dia berkuliah S-2 dan S-3 pada usia senja. Meski tak lagi muda, dia mampu menuntaskan jenajng studi dengan IPK nyaris sempurna.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

USIA sekadar angka. Kemauan keraslah yang bakal menuntun seseorang untuk mencapai impiannya dan menerobos semua batasan fisik. Motivasi itu menjadi pijakan Windiyati Nugroho saat memutuskan melanjutkan studi S-3 teknologi pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Windiyati lulus program doktoral saat usianya menginjak 77 tahun. Memang dia tak lagi muda. Namun, Windi –sapaan akrabnya– mampu menuntaskan kuliahnya. Bahkan, nilai IPK-nya hampir sempurna, 3,98.

Setelah lama mengakar di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Pacific International Beauty Institute (PIBI), Surabaya, Windi ingin berkuliah S-2. Saat itu dia sudah berusia 72 tahun.

Temannya menyarankan agar dia mengambil jurusan teknologi pendidikan di Universitas dr Soetomo. “Saya ingin berinovasi, bagaimana mengajar lebih baik. Apalagi, dunia sekarang terus berubah,” ujarnya.

Dia berhasil lulus dengan nilai nyaris sempurna, IPK 3,96. Topik tesisnya berjudul Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Hasil Belajar Anatomi & Fisiologi Kulit di LPK PIBI.

Setelah lulus pada 2020, Windi kemudian mendaftar S-3 teknologi pendidikan di Unesa. Lagi-lagi, dia berhasil mencetak nilai nyaris sempurna. Bahkan menjadi wisudawan terbaik jenjang doktor, yaitu 3,98.

Dalam disertasinya, dia mengangkat Pengembangan Paket Program E-Modul Penerapan Konsultasi dan Analisis Kulit Wajah untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Metakognitif bagi Peserta Didik di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Pacific International Beauty Institute (PIBI), Surabaya.

“Katanya, aspek novelty atau kebaruannya tinggi. Saya juga tidak nyangka hasil nilainya segitu,” katanya, disusul tawa.

Di usianya yang tak lagi muda, berkuliah sambil mengajar memang memiliki tantangan tersendiri. “Saat pandemi dan nggak bisa ke mana-mana, justru atur waktunya lebih mudah,” ungkapnya.

Menurut dia, bekerja sama dengan mahasiswa yang jauh lebih muda justru lebih menantang. Di kelasnya, dia menemui mahasiswa dari bidang-bidang yang amat beragam. Awalnya, Windi grogi karena mereka masih muda ditambah memiliki kemampuan yang sangat bagus.

Saat presentasi, Windi juga sering merasa ndredeg jika ditanyai teman sekelas. Namun, itulah acara belajar yang penting untuk dijalani. “Ya, ini sudah konsekuensinya. Prinsipnya, kalau sudah nyemplung, ya harus total, harus dijalani,” tuturnya.

Untuk menguasai materi kuliah yang mayoritas memakai bahasa Inggris, Windi memanfaatkan teknologi scan dan translate dalam bentuk audio. Windi mendengarkannya sambil membuat rangkuman khusus sendiri.

Cara itu membuat Windi lebih aktif mencerna materi, tak sekadar mendengarkan. “Kalau kita aktif dalam pembelajaran, materi lebih dipahami,” tegasnya.

Kini Windi berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi pendidikan. Dunia yang terus berkembang bakal membutuhkan guru dan cara ajar yang ikut berkembang.

“Kalau kita tidak ciptakan yang baru, mereka juga akan bosan. Bagaimana kita memancing supaya mereka belajar lebih dari ini,” tandasnya. (*/c14/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru