Setelah menggagas pengukuran pembuatan Unesa Dimetric tahun lalu, Sri Setyo Iriani juga menyiapkan alat ukur lain. Yaitu, mengukur kemampuan kampus mendukung sivitas akademikanya dalam bidang seni dan olahraga. Dua metrik baru tersebut bakal mampu jadi branding untuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
UNESA Dimetric yang diluncurkan pada 2022 berfokus untuk mengukur kepedulian kampus dalam melayani sivitas akademika dengan disabilitas. Kesuksesan peluncuran alat ukur tersebut mendorong Sri Setyo Iriani melahirkan dua metrik baru.
Ir –sapaan akrab Sri Setyo Iriani–juga membuat disertasi khusus mengenai itu. “Meluncurkan metrik khusus itu menunjukkan betapa seriusnya Unesa dan penting untuk brand Unesa,” tutur Kasubdit Pemeringkatan Dalam Negeri dan Penyelenggaraan Pemeringkatan Unesa itu.
Disertasinya tersebut berhasil mengantarkan Ir sebagai guru besar ilmu pemasaran pada Senin (6/11) lalu. Melalui penelitiannya, perempuan kelahiran 17 Oktober 1962 tersebut berupaya memperkuat branding Unesa.
“Unesa memiliki tiga value utama, yaitu disabilitas, seni, dan olahraga. Tiga nilai itulah yang harus digunakan dalam banyak aspek,” tuturnya.
“Pembuatan metrik sebenarnya hanya salah satu cara dari 11 cara branding yang bisa dilakukan,” lanjutnya.
Ir mengatakan, pembuatan alat ukur memang tidak mudah. Secara garis besar, pengukuran bisa dilakukan dalam beberapa aspek. Misalnya, seberapa banyak penyelenggaraan acara seni dan olahraga di kampus. Kemudian, bagaimana atmosfer kampus dalam mendukung sivitas akademika dan berapa banyak prestasi yang dicetak.
Sekilas, Unesa Arttric dan Sporttric memang agak mirip. Karena itu, keduanya disiapkan sejak tahun lalu secara beriringan. Ir mengatakan, alat ukur Unesa Sporttric bakal diluncurkan lebih dulu.
“Sudah lebih siap. Mungkin bulan ini bisa di-launch,” jelasnya. Dia bahkan sudah menyiapkan dan menghitung tingkat kepesertaan dan prestasi kampus dalam berbagai level kompetisi.
Dari lokal hingga internasional. Sedangkan, alat ukur seni atau Arttric bakal menyusul pada akhir tahun ini atau tahun depan.
Ir mengatakan, peluncuran dua alat metrik itu diharapkan bisa memperkuat branding Unesa di dunia akademik. “Pembuatan alat ukur dan pemeringkatan ini sebenarnya sudah pernah dilakukan,” imbuhnya.
Namun, belum marak didalami oleh kampus-kampus di Indonesia. Misalnya, salah satu kampus di Depok pernah meluncurkan alat ukur terkait isu lingkungan. “Di Solo juga ada yang sempat membuat alat ukur disabilitas, namun kami yang pertama,” tutur Ir. (*/c6/ai/jpg)


