TANJUNG SELOR – Perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) diperkirakan tumbuh dalam rentang 4,43-5,43 persen pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut lebih baik, jika dibandingkan tahun lalu, yang berada di angka 3,98 persen.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara Tedy Arief Budiman menjelaskan, peningkatan kinerja pada lapangan usaha utama seperti pertambangan dan perdagangan diprediksi dapat memacu akselerasi kinerja investasi, ekspor dan konsumsi rumah tangga.
“Kedua lapangan usaha utama ini bahkan kita perkirakan menjadi faktor utama peningkatan perekonomian Kaltara tahun ini,” jelasnya, kemarin (14/3).
Untuk sektor pertambangan, diperkirakan masih menjadi tumpuan pemulihan ekonomi Kaltara sepanjang tahun 2022. Seiring dengan cerahnya prospek harga komoditas batubara menurut konsensus dari World Bank.
Harga batubara tercatat masih berada dalam tren bullish (menguat secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu). Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), medio Februari 2022 harga batubara internasional telah menyentuh angka psikologis USD 188, 38/mt
“Peningkatan prospek perekonomian mitra dagang utama seperti Tiongkok dan India. Juga diperkirakan mampu meningkatkan demand (permintaan) batubara dari Kaltara,” ungkapnya.
Untuk lapangan usaha perdagangan diyakini tumbuh meningkat. Seiring dengan peningkatan konsumsi rumah tangga. Peningkatan didorong masuknya masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dan keberlanjutan program vaksinasi Covid-19 di angka 75,77 persen dosis I.
Pada saat yang bersamaan, ekspor komoditas utama seperti batubara, CPO (Crude Palm Oil), udang dan plywood diperkirakan membaik. Sejalan dengan mulai meningkatnya demand global, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat.
Dari lapangan usaha konstruksi, potensi pendorong peningkatan pertumbuhan. Berasal dari peluang pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sei Kayan, termasuk beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) lain yang ada di Kaltara.
Dari sisi pengeluaran, potensi recovery (pemulihan) ekonomi diperkirakan bisa mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga. Hal ini didorong berlanjutnya penyaluran anggaran belanja pemerintah, terutama belanja modal untuk proyek-proyek pemerintah.
“Selain itu, berlanjutnya stimulus fiskal program PEN. Seperti penyaluran bansos oleh pemerintah Kaltara, diyakini mampu meningkatkan konsumsi masyarakat pada periode mendatang,” tutur Tedy.
Namun, risiko gelombang susulan Covid dan kemunculan varian baru Omicron. Diperkirakan BI bisa meningkatkan tingkat kewaspadaan pemerintah, dengan menekan mobilitas masyarakat. “Kondisi ini tentu dikhawatirkan dapat kembali menahan ekspektasi dan daya beli masyarakat,” imbuhnya.
Selain kondisi domestik, menurut Tedy, ekspor menjadi kunci utama perbaikan perekonomian Kaltara ke depan. Kondisi ekonomi global diprediksi dapat menjadi faktor kunci dari peningkatan kinerja perekonomian Kaltara tahun 2022.
“Pertumbuhan ekonomi 2022 di banyak negara mengalami perbaikan paska menurun tajam. Akibat meluasnya pandemi Covid- 19, pada triwulan II 2020. Hal ini tak terlepas dari berbagai upaya pemulihan ekonomi nasional maupun Global,” tutupnya. (kn-2)


