Identitas para caleg gagal yang memerlukan layanan kesehatan jiwa bakal dirahasiakan. Menurut pakar, kemungkinan untuk stres sekarang lebih besar menyusul masifnya media sosial.
M.BASRI, Jembrana, WAHYU P.P Kab Bandung, ANGGI F Jombang, FERLYNDA P Jakarta
DI DPRD Jembrana, Bali, hanya tersedia 35 kursi. Di sisi lain, ada 363 calon anggota legislatif (caleg) memperebutkannya pada pemilu tahun depan.
Artinya, ada 328 orang yang bakal tidak mendapatkan kursi. Sebuah persaingan yang sangat ketat. Padahal, biaya yang dibutuhkan untuk nyalon rata-rata miliaran rupiah. Karenanya, ini jenis pekerjaan yang sangat ”berisiko”. Berisiko dalam kaitan dengan kesehatan mental, meskipun masing-masing sudah menjalani tes kejiwaan sebelum nama mereka didaftarkan.
Karena itu pula, mengutip Jawa Pos Radar Bali, Rumah Sakit Umum Negara, Jembrana, menyiapkan tenaga medis spesialis kejiwaan dan ruangan khusus untuk menampung pasien sakit jiwa, termasuk untuk para caleg gagal dan mengalami depresi.
“Kami sudah ada poli jiwa, dua dokter spesialis, dan ruangan khusus untuk pasien jiwa,” ujar Direktur RSU Negara Ni Putu Eka Indrawati pada Senin (27/11) lalu.
Tak hanya di Jembrana, RS di banyak kota lain di tanah air juga melakukan hal serupa. Sebab, caleg gagal lalu stres atau depresi bukanlah cerita karangan atau cerita kemarin sore. Dari pemilu ke pemilu selalu terjadi.
Pada 2019, di sebuah kota di Kalimantan Timur, misalnya, ada caleg yang minta sumbangan 150 kantong berasnya dikembalikan. Itu setelah dia gagal menjadi legislator. Jelang Pemilu 2019, Kementerian Kesehatan juga mengantisipasi kemungkinan munculnya para caleg gagal depresi ini dengan menyiapkan layanan kesehatan kejiwaan. Layanan ini di berbagai level, dari rumah sakit umum sampai puskesmas.
RSUD Jombang, Jawa Timur, juga menyediakan ruangan khusus serupa. Ada 8 kamar dengan teralis besi serta ruang high care unit jiwa, khusus untuk kategori depresi berat-berat di Paviliun Upaya Waluya di rumah sakit itu.
“Pemasangan teralis besi di ruang khusus pasien jiwa itu menjadi faktor penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Direktur RSUD Jombang Dr dr Ma’murotus Sa’diyah kepada Jawa Pos Radar Jombang, Rabu (15/11) dua pekan lalu.
Begitu pula di RSUD Oto Iskandar Dinata (Otista), Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang menyediakan 10 ruangan khusus untuk para caleg gagal. “Setiap ada pemilu itu kami selalu siapkan (ruangan) tempat pemeriksaan untuk caleg-caleg yang mengalami stres akibat kalah pemilu,” kata dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Otista Kabupaten Bandung dr Marsudi SpKJ(K) kepada Radar Bandung di Soreang (28/11).
Menurutnya, meski pada Pemilu 2019 tidak ada caleg gagal yang masuk rumah sakit, pihaknya tetap menyiapkan layanan tersebut di Pemilu 2024 sebagai langkah antisipasi.
“Soalnya ada beberapa caleg itu kadang-kadang yang sudah berekspektasi dirinya akan terpilih, tapi kenyataannya dia gagal. Nah, itu yang kita antisipasi dengan menyiapkan ruangan dan tempat pemeriksaan,” katanya.
Jumlah 10 ruangan khusus tersebut dua kali lipat lebih banyak ketimbang yang disiapkan di Pemilu 2019. “Untuk mengantisipasi saja, karena di pemilihan umum saat ini, kami lihat untuk pesertanya jadi lebih banyak dari pemilu sebelumnya,” ujarnya.
Pihaknya memastikan akan merahasiakan identitas caleg yang mengalami gangguan kejiwaan. “Sosialisasi dan saran-saran bagi para calon itu sudah kami berikan juga supaya mereka yang gagal setelah pemilu nanti tidak sampai mengalami gangguan. Saran-saran itu seperti harus banyak rileks, olahraga, jangan terlalu tegang berpikir, dan harus banyak bersosialisasi,” kata Marsudi.
Untuk Pemilu 2024, banyaknya rumah sakit yang membuka layanan kesehatan jiwa untuk caleg gagal ternyata bukan instruksi dari pusat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan tidak ada perintah untuk rumah sakit. “Tak ada nakes-nakes yang disiapkan (untuk keperluan itu),” katanya Rabu (29/11).
Psikiater Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Jiwa dr H Marzoeki Mahdi, Bogor, dr Lahargo Kembaren SpKJ mengungkapkan, gangguan kesehatan jiwa bisa terjadi ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Dia mencontohkan caleg yang tidak lolos.
Awal gangguan jiwa adalah stres dengan ditandai adanya keluhan gangguan pikiran, perasaan, atau perilaku. “Stres ada dua tipe, positif dan negatif. Stres positif terjadi ada manajemen stres dan support system yang memadai. Stres negatif ini sebaliknya dan inilah yang memunculkan gangguan kejiwaan jika tidak cepat ditangani,” bebernya ketika dihubungi Jawa Pos.
Lahargo mengungkapkan, sekarang ini potensi stres lebih besar. Terlebih adanya media sosial. Melihat caleg lain menang pemilu, sementara dirinya gagal bisa memicu stres. Karena itu, jika perlu, para caleg ini puasa media sosial. (*/c17/ttg/jpg)


