Wednesday, 17 June, 2026

Surplus, Neraca Perdagangan Ekspor di Kaltara

TANJUNG SELOR – Neraca perdagangan luar negeri di Provinsi Kalimantan Utara mengalami surplus USD 1,60 miliar hingga akhir triwulan III 2023 atau sepanjang Januari-September.

Apabila dikonversi ke mata uang rupiah, nilai yang tercatat sekitar Rp 25,13 triliun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, nominal ekspor Kaltara sampai akhir triwulan III 2023 di angka USD 2,006 miliar atau Rp 31,48 triliun. Adapun, nominal impor di angka USD 404,79 juta atau Rp 6,35 triliun.

Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang mengungkapkan, neraca perdagangan yang surplus menandakan kinerja ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada periode yang sama. Surplus neraca perdagangan memberi dampak positif terhadap indikator ekonomi makro, pada tingkat nasional sampai daerah.

Surplus neraca perdagangan yang ditopang peningkatan ekspor, akan berpengaruh terhadap permintaan produk domestik. Kondisi ini yang diharapkan mendorong perusahaan bisa menciptakan lapangan kerja baru, untuk menggenjot produksi.

“Dampak positif yang dirasakan perekonomian daerah atas surplus neraca perdagangan, berlaku dengan sejumlah catatan. Utamanya ketika produk ekspor didominasi produk olahan, yang menyerap banyak tenaga kerja,” terangnya, belum lama ini.

Secara umum, surplus neraca perdagangan Kaltara secara historis masih ditopang tingginya ekspor komoditas batu bara. Emas hitam ini memberi kontribusi sampai sekitar 80 persen setiap tahun, terhadap ekspor Kaltara. Oleh sebab itu, menurut Gubernur, positifnya surplus neraca perdagangan dan fantastisnya nilai ekspor Kaltara tidak bisa langsung membuat daerah berbangga.

Batu bara Kaltara yang bersifat sumber daya alam, tidak dapat diperbaharui dan diprediksi akan habis dalam waktu 47 tahun ke depan. Dengan mempertimbangkan kuota produksi daerah setiap tahun.

“Sektor pertambangan batu bara perlu diingat merupakan kegiatan ekonomi berbasis padat modal, dengan serapan tenaga kerja terbatas. Potret itu membuat keuntungan yang diterima hanya dirasakan sebagian kecil kelompok masyarakat,. Belum lagi ketika keuntungan justru lebih banyak dikonsumsi di luar Kaltara,” tuturnya.

Sementara itu, kontribusi ekspor dari komoditas hasil industri masih dalam rentang 10-15 persen. Angka tersebut juga masih didominasi rokok asal Singapura yang hanya transit di Kabupaten Nunukan, untuk dikirim kembali ke Filipina. Adapun, komoditas yang paling perlu mendapat perhatian ada di sektor pertanian. Karena nominalnya masih jauh dari harapan.

Dia juga mengatakan, secara persentase, komoditas sektor ini hanya menyumbang 0,28 persen ekspor Kaltara tahun ini. Di sisi lain, nominal impor yang masuk ke Kaltara catatkan pertumbuhan yang fantastis tahun ini. Kinerja impor naik sampai 241 persen, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara kinerja ekspor hanya tumbuh sekitar 7 persen.

“Tingginya pertumbuhan impor bahkan sampai mampu mengintervensi penurunan surplus neraca perdagangan dibandingkan tahun sebelumnya. Kelompok barang hasil industri mendominasi impor yang masuk sampai 98 persen,” tutupnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru