TANJUNG SELOR – Dalam beberapa pekan mendatang, umat Islam akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Untuk penentukan awal mula Ramadan, biasa dilakukan pemantauan hilal secara langsung atau Rukyatul Hilal.
Dijadwalkan pemantauan hilal dilaksanakan pada 1 April mendatang. Dikatakan Kepala Bidang Bimas Islam dan Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) H Saleh, penetapan awal puasa diputuskan berdasarkan hasil Rukyatul Hilal di 34 provinsi di 78 lokasi se-Indonesia.
“Nantinya pelaksanaan sidang isbat akan menunggu hasil pemantauan rukyatul hilal di setiap daerah,” jelasnya, Minggu (20/3).
Adapun untuk wilayah Kaltara, kata dia , pemantauan terpusat di Kota Tarakan. Namun, pihaknya tetap meminta untuk setiap daerah memantau.
“Sudah ada surat edaranya untuk kabupaten/kota, guna melakukan pemantauan penetapan 1 Ramadan,” uterangnya.
Setiap Kantor Kemenag kabupaten/kota diperkenankan memilih tempat bagus, untuk pemantauan rukyatul hilal. Biasanya wilayah Tanjung Selor tepatnya berada di gunung, di samping Pura Jagat Benuanta Jalan Agatish.
Berbeda dari tahun sebelumnya, khusus untuk pelaksanaan salat Tarawih, meski di tengah pandemi Covid-19, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan salat boleh dengan saf rapat.
Bahkan Kemenag sudah mengeluarkan surat edaran soal pelaksanaan salat Tarawih. “Tapi saat pelaksanaannya, masyarakat diimbau mengatur waktu pengajian maksimal hingga pukul 22.00 Wita. Kemudian, pengeras suara juga jangan terlalu keras, cukup bisa didengar secara baik,” tuturnya.
Dalam pemantauan Rukyatul Hilal awal Ramadan 1443 H nanti, selain tim dari Kemenag Tarakan, juga akan dihadiri ormas Islam, seperti MU, MUI, NU, Wahdah Islamiyah, LDII, Muhammadiyah maupun pewakilan dari Pemkot Tarakan.
Kepala Kemenag Tarakan HM Shaberah mengatakan, dalam pelaksanaan Rukhyatul Hilal, cuaca paling menentukan. Jika ada yang melihat bulan pada 1 April nanti, berarti awal Ramadan ditentukan pada keesokan harinya. Bersamaan dengan Muhamadiyah yang sudah menentukan 2 April mulai puasa. “Kalau memang hilal itu ada, mudahan kelihatan,” katanya.
Di Tarakan sendiri, selama beberapa kali dilakukan Rukyatul Hilal belum pernah ada yang melihat bulan, karena keterbatasan alat. “Sedikit demi sedikit sudah dilengkapi dari Pemerintah Pusat. Kami baru mendapatkan alat Theodolit dari Kanwil, biar nanti ketika dilihat pas ke titik hilalnya. Kalau teropong sudah ada kita punya,” tegasnya.
Selain kondisi cuaca, lanjut Shaberah, untuk geografis di Tarakan mempengaruhi tidak terlihatnya hilal. Terlebih jika awan tebal menutupi bulan di sebelah barat. Menentukan hilal paling tepat, memang sebaiknya dari lautan lepas.
Sementara di Tarakan, lokasi paling baik untuk pelaksanaan Rukyatul Hilal hanya di Taman Berlabuh. Sebelumnya pernah dicoba di Mako Satradar 225, masih tidak bisa terlihat bulan. “Kalau untuk seluruh Indonesia, ada daerah tertentu yang seperti di Pantai Anyer dan Sukabumi, daerah lautan lepas yang kemungkinan bisa melihat hilal,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Sulam Khilmi menegaskan, sebagai tim teknis mendukung pelaksanaan hilal di Kemenag. Alat Theodolit yang baru dimiliki Kemenag Tarakan nanti, akan meneropong tinggi hilal.
“Kami akan menjadi tim teknis disana untuk mendukung Rukyatul Hilal, yang dilaksanakan Kemenag Tarakan. Estimasi ketinggian hilal, sesuai perhitungan BMKG, pada 1 April nanti sekitar 1,5 derajat,” sebutnya.
Sedangkan dari sisi cuaca, sementara diprediksikan pada Maret dan April memasuki periode transisi atau pancaroba. Banyak cuaca ekstrim yang mungkin terjadi. Seperti sering adanya hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang tinggi.
“Ada potensi cuaca hujan dan berawal di hari Rukyatul Hilal. Karena, dengan memasuki masa pancaroba. Berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di Kaltara,” tutupnya. (kn-2)


