TARAKAN – Direktorat Operasi Kantor Basarnas Pusat melakukan uji pelaksanaan operasi SAR di kantor SAR Tarakan. Uji yang setiap tahun ini dilakukan bertahap, untuk semua kantor SAR di seluruh Indonesia.
Tujuannya, untuk mengecek kesiapsiagaan personel apabila diperlukan untuk kondisi kedaruratan setiap saat. Direktur Operasi dan Latihan BNPP (Basarnas) Brigjen TNI (Mar) Wurjanto menjelaskan, SAR bertugas dengan kondisi kedaruratan. Seperti kecelakaan kapal, pesawat dan bencana alam maupun kondisi membahayakan manusia. Maka dari itu, kemampuan kecepatan personel harus terjaga.
“Salah satunya mengukur respon time. Salah satu tugas SAR, sesegera mungkin sampai di tempat kejadian. Dimana ada orang yang memerlukan bantuan untuk diselamatkan,” pintanya, Jumat (1/4).
Sejauh ini, kata dia, respon time Kantor SAR Tarakan sudah memenuhi target respon time dengan 25 menit. Mulai dari menerima berita ada kecelakaan atau kedaruratan. Selama 25 menit harus sudah menggerakkan personel SAR menuju ke daerah kejadian.
Tahun lalu, respon time seluruh SAR di Indonesia sudah bisa terpenuhi. Bahkan mampu mencapai 18 menit respon time untuk seluruh operasi. Tidak hanya dalam kondisi kecelakaan besar dengan banyak korban maupun hanya korban yang beberapa orang.
“Dalam simulasi respon time ada skenario, kecelakaan. Kami mengukur sejauh mana kantor SAR Tarakan melaksanakan operasi SAR,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Tarakan Amiruddin mengatakan, kegiatan uji operasi merupakan program Basarnas Pusat dibawah Direktorat Operasi. Semua kegiatan lancar dan uji operasi berjalan sesuai standar operasional prosedur dan aturan atau regulasi.
“Ada beberapa kendala yang memang menjadi hambatan. Salah satunya, kantor SAR yang masih baru dengan jumlah personel sedikit. Kami mendapatkan personel baru, tapi masih berstatus CPNS. Jadi belum memiliki pengetahuan tentang operasi SAR,” ungkapnya.
Sehingga, dalam pelaksanaan personel baru masih bingung. Terlebih lagi, simulasi yang diujikan merupakan kegiatan operasi yang tingkatannya sudah nasional dan internasional, yaitu penanganan pesawat udara.
“Di Tarakan belum juga pernah terjadi. Tapi, semua tahapan kami jalankan dan semuanya setelah dievaluasi oleh tim uji dari pusat, Direktorat Operasi dan Direktorat Sistem Komunikasi maupun Direktorat Kesiapsiagaan dan personel dari Basarnas. Hasilnya baik,” bebernya.
Dengan adanya uji operasi, personel yang belum mengetahui penanganan di lapangan, bisa mengetahui. Jika ke depan ada kejadian bencana serupa, mesti dengan keterbatasan personel maupun minimnya pengetahuan dari anggota yang baru masuk, sudah siap.
Termasuk potensi yang mungkin terjadi, bisa menjadi edukasi baru. Sehingga, penanganan kecelakaan penerbangan untuk pesawat yang jauh, para personel sudah mengetahui harus berbuat apa.
“Orientasi kepada personel baru sebenarnya sudah dilakukan. Tapi, sifatnya masih administrasi. Kan harus mengikuti pendidikan dulu sebagai CPNS, baru mengikuti kegiatan latihan dasar SAR. Kemudian diberikan pelatihan selama tiga bulan,” tuturnya.
Dalam simulasi yang dilakukan, menggunakan alutsista sendiri yang diuji kantor pusat. Kendala yang dihadapi, satu alutsista yang seharusnya digunakan dalam uji operasi. Digunakan untuk kegiatan operasi penyelamatan di Tana Tidung.
“Bisa dibilang alut ini andalan kami. Tapi digunakan di Kabupaten Tana Tidung untuk melakukan pencarian korban akibat tanah longsor di tambang. Kami menggunakan perahu karet. Tapi, kendalanya agak susah. Deadline kami di luar Pantai Amal dengan kondisi ombak Laut Sulawesi langsung masuk,” bebernya.
Tahun ini, keperluan alutsista juga akan dipenuhi Basarnas Pusat berupa Rigid Bouyancy Boats (RBB). Hal ini menurutnya sebuah kabar baik, terutama untuk operasi keselamatan. Dengan kondisi wilayah di Kaltara yang menghubungkan pulau ditambah banyak sungai. (kn-2)


