Friday, 17 April, 2026

Kaltara Alami Inflasi pada Periode Maret

TARAKAN – Inflasi periode Maret 2022 utamanya disebabkan komoditas hortikultura, seperti cabai rawit sebesar 0,26 persen dan bawang merah 0,05 persen yang mengalami lonjakan harga.

Seiring dengan adanya pergesaran musim, pada daerah pemasok di tengah permintaan yang meningkat menjelang Ramadan. Kenaikan tekanan inflasi terjadi pada komoditas angkutan udara, seiring dengan dilonggarkannya pembatasan mobilitas masyarakat.

“Provinsi Kaltara mengalami inflasi 0,72 persen MtM, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Yang mengalami deflasi 0,01 persen MtM. Kota Tarakan mengalami inflasi 0,52 persen MtM, sedangkan Tanjung Selor 1,5 persen MtM,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara Tedy Arief Budiman, Rabu lalu (6/4).

Mesti mengalami peningkatan, inflasi Kaltara Desember 2021 hingga Maret 2022 sebesar 1,18 persen YtD. Namun, masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 1,20 persen YtD. Pihaknya akan terus bersinergi, melaksanakan program pengendalian harga dalam kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif).

Kenaikan tekanan inflasi pada Maret 2022 didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Karena adanya pergeseran musim pada daerah sentra produksi, yang menjadi pemasok Kaltara di tengah naiknya permintaan masyarakat. Selain itu, cuaca buruk mempengaruhi produktivitas hasil tangkap dan budidaya ikan di Kaltara. Sehingga meningkatkan tekanan inflasi pada komoditas perikanan, khususnya ikan bandeng.

Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Mencakup cabai rawit (0,26 persen), bawang merah (0,05 persen), sayur olahan (0,05 persen), dan ikan bandeng (0,03 persen). Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan terbesar berupa bayam (-0,07 persen), telur ayam ras (-0,06 persen), ikan layang (-0,04 persen), dan tomat (-0,04 persen).

Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi 0,78 persen MtM atau tercatat inflasi secara tahunan 5,12 persen YoY.

Tekanan inflasi terjadi pada kelompok transportasi, disebabkan pelonggaran mobilitas oleh masyarakat. Selain itu, faktor menjelang Ramadan juga menjadi pendorong kelompok transportasi mengalami inflasi. Seiring dengan meningkatnya permintaan dari masyarakat untuk bepergian ke luar daerah.

“Kondisi kenaikan mobilitas ini sejalan dengan adanya kenaikan pada Google Mobility Report (GMR). Kondisi itu diyakini mendorong kenaikan tarif angkutan, khususnya angkutan udara. Kelompok transportasi tercatat mengalami inflasi 0,94 persen MtM atau secara tahunan kelompok tercatat inflasi 15,65 persen YoY,” tuturnya.

Pada tahun 2022 inflasi diprakirakan berada pada rentang sasarannya 3,0±1 persen. Koordinasi kebijakan dengan pemerintah ditujukan untuk mengantisipasi risiko inflasi komoditas pangan strategis. Baik pada kelompok Volatile Food (VF) maupun kelompok inti,. Dari kemungkinan adanya gangguan pasokan dan distribusi, yang berasal baik dari global maupun domestik.

Selain itu, adanya kenaikan harga beberapa komoditas pada kelompok Administered Prices (AP). Seperti kenaikan tiket angkutan udara, Bahan Bakar Minyak (BBM), cukai rokok dan PPN perlu mendapat perhatian.

Tedy mengakui, kebijakan moneter Bank Indonesia akan tetap konsisten dalam mengelola ekspektasi inflasi sesuai sasaran. Di samping itu, sinergi Bank Indonesia dan pemerintah akan terus difokuskan. Untuk menjaga daya beli masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Di Bulungan, struktur perekonomian dalam lima tahun terakhir masih didominasi lapangan usaha yang sama. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bulungan Maibu Barwis Sugiharto.

Selama tahun 2017-2021, perekonomian didominasi lima kategori lapangan usaha. Di antaranya sektor pertambangan dan penggalian, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, konstruksi serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor.

“Perekonomian Bulungan sangat bergantung kepada produksi dari lima sektor itu,” kata Maibu, Rabu (6/4).

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2019, tidak membuat perubahan berarti terhadap pola struktur ekonomi Bulungan. Hal ini dapat dilihat dari peranan masing-masing lapangan usaha, terhadap pembentukan PDRB Bulungan.

“Meskipun di dalam kondisi pandemi selama tahun 2021. Peranan terbesar dalam pembentukan PDRB Bulungan masih dominasi lapangan usaha sama,” ungkap Maibu.

Sektor pertambangan dan penggalian memberi kontribusi 26,44 persen. Namun angka ini menurun dari 29,01 persen pada tahun 2017. Selanjutnya lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan 16,25 persen. Ini juga menurun dari 16,38 persen pada tahun 2017.

Kontribusi terbesar lain disusul lapangan usaha industri pengolahan sebesar 13,78 persen. Mengalami penurunan dari 14,07 persen pada tahun 2017. Berikutnya lapangan usaha konstruksi 12,5 persen. Meningkat dari 11,25 persen pada tahun 2017.

Kemudian ada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 8,25 persen. Alami peningkatan dari 7,57 persen pada tahun 2017.

“Dalam lima tahun terakhir, di antara kelima lapangan usaha, sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran merupakan kategori yang cenderung mengalami peningkatan peranan,” ujarnya.

Sementara peranan lapangan usaha lainnya, masing-masing kurang dari 8 persen. Meningkatnya peranan sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran merupakan salah satu efek yang ditimbulkan. Karena pembangunan yang gencar dilakukan Pemkab Bulungan. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru