Tuesday, 28 April, 2026

Kisah Lurah Surodarmo, Sang Pahlawan yang Tak Mempan Dibom Belanda

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jas Merah). Begitu ungkapan masyhur yang disampaikan Presiden Soekarno, dalam pidato terakhirnya dalam peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia, 17 Agustus 1966. Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan tersebut, maka sudah semestinya kita menghormati dengan berbagai cara, seperti memberi nama jalan di sebuah wilayah, dengan nama pahlawan tersebut.

Jalan Lurah Surodarmo ada di Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk. Namun, dia bukan Lurah Bogo. Surodarmo adalah Lurah Getas, Kecamatan Tanjunganom. Karena jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI), akhirnya namanya dijadikan nama jalan di Kecamatan Nganjuk.

Saat agresi militer Belanda II pada 19-20 Desember 1948, Surodarmo sudah menjadi Lurah di Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom. Sebagai pemimpin di desa, Lurah Surodarmo ikut berjuang mengusir Belanda yang ingin menduduki Tanah Air lagi.

Hanya saja, perlawanan Lurah Surodarmo tidak langsung melibatkan bentrokan fisik dengan tentara kolonial. Melainkan dengan kekuatan dan kesaktian yang dimilikinya. “Mbah Lurah dulu bantu dari jauh. Orangnya sakti,” ujar Mbah Solekan, sesepuh desa setempat saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk, Selasa (19/4).

Selain melawan dengan ilmu kesaktian, Lurah Surodarmo juga dikenal sangat terbuka dengan tentara pribumi. Tidak hanya membantu logistik, dia juga sering kali menyelamatkan tentara Indonesia dari kejaran penjajah. Hebatnya, saat dicari tentara Belanda mereka tak menemukan buruannya tersebut.

Menurut Mbah Solekan, hal itu membuat tentara lawan emosi. Konon saat itu, Belanda yang bermarkas di Kedungsoko, Kecamatan Sukomoro memutuskan untuk mengebom rumah Lurah Surodarmo. “Rumah Mbah Lurah dibom dan terbakar tapi Mbah Lurah Surodarmo tidak terluka,” ujar Mbah Solekan.

Selain Lurah Surodarmo tidak terluka, bangunan rumahnya juga hanya rusak sedikit. Padahal, jika dilogika seharusnya sudah hancur. Namun ini tidak. Warga setempat percaya hal itu lantaran kesaktian Lurah Surodarmo.

“Gak bisa dijelaskan. Percaya gak percaya. Tapi memang itu adanya,” sambung pria yang juga seorang dalang wayang kulit tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Sudarti Martono, menantu angkat Lurah Surodarmo. Ia membenarkan jika pernah mendengar cerita rumah Lurah Surodarmo dibom. Bahkan peristiwa itu sempat membuat tiang ruang tengah sedikit rusak. Tapi, tidak parah. Menurutnya, kejadian tersebut terjadi jauh sebelum ia diangkat menantu.

Sudarti menikah dengan HS Martono, anak angkat Lurah Surodarmo pada 1969 silam. “Saya dulu dapat cerita itu. Tapi pas ke sini juga tidak ada yang rusak atau kenapa-kenapa itu,” kenang perempuan asli Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon tersebut.

Mbah Sudarti mengaku bahwa mertua angkatnya tersebut memang dikenal luas sebagai orang sakti. Bahkan, jika sudah berpuasa dan tirakat, tidak ada yang bisa menandingi Lurah Surodarmo. Puasa 40 hari baginya sebuah hal yang lumrah. “Orangnya memang suka tirakat,” ungkapnya. (jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru