HEWAN kurban yang masuk Kabupaten Nunukan dipastikan aman dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Pertanian dan Ketananan Pangan Nunukan Mukhtar. Ia menjamin hewan kurban di Nunukan sudah bebas dari PMK. “Kita setiap tahun memasok hewan kurban dari Kota Parepare Sulawesi Selatan. Semua hewan diperiksa dan dipastikan kondisi kesehatannya, baru dikirim ke Nunukan,” ujarnya, Rabu (1/6).
Selain itu, kepastian tersebut berdasar adanya rekomendasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara yang mengizinkan pemasukan ternak ke Nunukan. Didukung juga dengan lampiran Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Mukhtar mengatakan, hewan yang terkena PMK memiliki ciri-ciri berupa demam tinggi (39-41 derajat celcius), heversalivasi, luka pada mulut, lepuh pada gusi dan lidah.
Keluar liur yang banyak atau berlebihan, luka pada teracak kaki dan puting, nafsu makan berkurang dan badan lemah. Dari ciri-ciri tersebut, tidak pernah didapati pada sapi yang dikirim ke Nunukan.
“Kuncinya memang dari Parepare. Jika di sana memastikan sehat, artinya hewan ternak yang ada saat ini sudah teruji dan aman dikonsumsi,” tegasnya.
Statemen Mukhtar, diaminkan Paramedik Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Nunukan Ahmad Sudarsono. Ia menjelaskan, seluruh ternak yang masuk Nunukan dilengkapi hasil uji PCR ternak, dan hasil uji laboratorium Rose Bengal Test (RBT) Zoonosis.
“Kita tahu Sulawesi aman atau bukan wilayah PMK. Jadi dengan adanya rekomendasi dan hasil uji laboratorium, sudah tentu sapi dan kambing kurban dijamin sehat,” ungkapnya.
Selain mendapat rekomendasi pengiriman ternak dari Pemerintah Provinsi, ketentuan karantina 14 hari di Parepare juga dipastikan terlaksana dengan baik. Dinas Pertanian dan Balai Karantina Hewan di Nunukan hanya sebatas mengawasi dan memastikan kelengkapan dokumen administrasi lengkap.
“Pengawasan akan kami lakukan juga saat hewan sudah disembelih. Sejumlah tes pada daging, jeroan, berupa limpa, hati, jantung dan sebagainya, akan kita lakukan di sejumlah selter penyembelihan. Saat kita nyatakan tidak ada masalah, daging baru boleh dibagikan,” jelasnya.
Kabupaten Nunukan masih mengandalkan hewan ternak dari luar daerah. Kurangnya budi daya ternak, tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi daging bagi masyarakat.
Ahmad juga mengatakan, kedatangan hewan kurban biasanya hanya berkisar antara 250 – 280 ekor sapi, dan tidak sampai 100 ekor kambing, yang didatangkan oleh sekitar 6 pedagang hewan di Nunukan. Jumlah ini untuk memenuhi kebutuhan dua kecamatan, masing-masing Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan.
Dua kecamatan tersebut menjadi sentral bagi perdagangan hewan di wilayah perbatasan RI – Malaysia ini.
“Tahun lalu, data yang tercatat ada 280 ekor sapi dan 80 ekor kambing yang didatangkan dari Sulawesi. Sementara tahun ini, sampai saat ini baru sekitar 30 ekor sapi yang datang. Idul Adha masih lumayan lama, kemungkinan masih banyak lagi yang akan dikirim,” tuturnya.
Sampel hewan juga sudah dikirim ke Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa pekan lalu. Hingga kini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara belum menerima hasil sampel, terkait PMK.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan DPKP Kaltara Supardi mengatakan, masih menunggu hasil uji laboratorium. “Belum disampaikan, kalau memang ada yang positif biasanya langsung diinfokan. Nanti saya akan tanyakan kembali,” ujarnya.
Biasanya, lanjut dia, jika hasil uji laboratorium dinyatakan negative. Maka pemantauan akan dilanjutkan. Sejauh ini belum ada indikasi mengenai PMK di Kaltara. Karantina juga masih terus dilakukan.
Untuk penjualan hewan, apalagi jelang Idul Adha, belum ada yang bermasalah atau terjangkit PMK. “Informasinya, hewan sudah masuk ke Kaltara. Itu dari Sulawesi melalui karantina,” Imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Kaltara Saifi Jamri menghimbau, agar hewan kurban diusahakan sapi dan kambing yang sempurna. Terbebas dari penyakit dan gemuk.
“Jika bisa memilih yang sehat, maka pilih yang sehat. Jika sakit, maka konsultasi dengan pihak terkait. Apalagi jika dikonsumsi, lebih berbahaya. Jadi jangan dijadikan hewan kurban,” pintanya.
Yang mengkhawatirkan, kata dia, jika penyakit bisa berpengaruh pada yang mengonsumsi. “Kita berharap tak ada yang terkena penyakit. Agar pelaksanaan kurban pada Idul Adha nanti, aman dan nyaman,” tutupnya. (kn-2)


