Friday, 24 April, 2026

Edukasi Ajaran Agama yang Tak Ekstrim

TANJUNG SELOR – Penyuluh Agama Islam merupakan agen perubahan moderasi. Yang harus mampu mengedukasi masyarakat di setiap wilayahnya, tentang ajaran agama yang moderat.

“Wasathiyah, di tengah-tengah. Tak ekstrim kiri dan kanan. Tak perlu berlebihan dalam menjalankan agama. Yang tidak diterima oleh Allah itu hanya mereka yang tidak salat, ” ucap Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Bulungan H Saimin, saat memberikan arahan kepada penyuluh agama Islam, Rabu (8/6).

Pemahaman ajaran agama, tidak perlu berlebihan. Ini perlu dipahami oleh para penyuluh agama di lingkungannya masing-masing. Sehingga bisa mampu mengedukasi warganya. Seperti mengantisipasi masuknya paham radikalisme dan terorisme di wilayah masing-masing. Pasalnya, Indonesia memiliki target untuk memberantas radikalisme dan terorisme. Hal itu mencakup keragaman faham dan keyakinan beragama. Warga Negara Indonesia (WNI) yang berjihad di Luas Negeri yang pulang kembali ke Indonesia.

Lalu, kepulangan WNI dari Suriah ke Indonesia yang memicu persebaran benih radikalisme dan terorisme. Termasuk kualitas SDM banyak yang masih rendah. Dinilai sangat mudah terpapar paham radikalisme dan terorisme. Dalam mengantisipasi terhadap tindakan tersebut, dibutuhkan gotong-royong dan kerja sama, cinta lingkungan karena kebersihan sebagian dari iman. Selanjutnya, menjadi garda terdepan benteng Pancasila dan penegak NKRI seutuhnya.

Termasuk, diperlukan sinergi melawan terorisme, radikalisme, narkoba, intoleransi, kemiskinan, kesenjangan dan tantangan bangsa lainnya. Mulai revolusi mental diri dengan segera bergerak dan karya nyata.

Di Indonesia, pernah ada kejadian teror yang melibatkan Ormas Khilafatul Muslimin. Sehingga hal tersebut perlu diantisipasi di Indonesia, khususnya Bulungan, dengan adanya Ormas Khilafatul Muslimin yang timbul di kalangan masyarakat. Dikarenakan saat ini ormas tersebut melakukan kegiatan kembali. Bahkan terbaru, adanya konvoi Khilafatul Muslimin di Brebes, hal itu perlu diantisipasi di Kabupaten Bulungan.

Saimin mengakui, untuk nilai toleransi dan keberagaman di Bulungan sudah sangat bagus. Menjaga itu lebih sulit dibandingkan membangun. “Maka langkah dan pola sosialisasi seperti ini, diharapkan dapat merawat nilai persatuan dan menjaga agar toleransi beragama tetap dijunjung tinggi,” harap Saimin. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru