NUNUKAN – Program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Barang yang diterapkan di Kabupaten Nunukan, menarik minat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur.
Skema SOA Barang menjadi sebuah program yang bisa diterapkan di wilayah kepulauan terpencil. Berharap bisa mencontoh model SOA Nunukan, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sumenep Edy Rasyadi mempelajari dan membahas tata pelaksanaan dan implementasinya.
Dari pemaparan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Nunukan Serfianus, SOA Barang merupakan kegiatan rutin bidang perdagangan Dinas Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan Nunukan.
“Tujuan SOA Barang, pemerataan penyebaran barang–barang kebutuhan pokok masyarakat di daerah perbatasan. Juga menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di kawasan perbatasan,” ujarnya, Sabtu lalu (11/6).
Serfianus mengakui, butuh langkah serius dan program terarah untuk menerapkan SOA Barang serta program lain. Terlebih Nunukan berada di wilayah perbatasan negara.
Kabupaten Nunukan yang memiliki luas wilayah sekitar 14.247,5 kilometer, dengan 21 kecamatan serta jumlah penduduk mencapai 209.922 Jiwa. Jumlah tersebut terkonsentrasi pada tiga titik. Masing-masing, Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan daratan Kalimantan.
“Impelementasinya tidaklah mudah, dan kita juga masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Agar terus mengembangkan potensi perbatasan. Baik itu potensi perikanan, rumput laut, pertanian dan masih banyak potensi lain yang bisa terus digali,” ungkapnya.
Serfianus memaparkan, tentang infrastruktur dan letak geografis serta kondisi perjalanan menuju ke kecamatan-kecamatan. Termasuk langkah dan strategi pemkab mendapatkan SOA Barang.
Sementara itu, dikatakan Sekkab Sumenep Edy Rasyadi, kedatangannya untuk belajar, bagaimana subsidi yang diberikan Pemkab Nunukan bisa membangkitkan perekonomian di daerah terpencil.
Kabupaten Sumenep terdiri dari 128 pulau. Di mana sebanyak 46 pulau yang berpenghuni. Sumenep terdiri atas 27 kecamatan. Dari jumlah itu terbagi 19 kecamatan berada di daratan dan 8 kecamatan kepulauan.
Menurut Edy, ada salah satu pulau di Sumenep yang bisa dijangkau dengan waktu sekitar 36 jam. Sehingga pihaknya memandang sangat perlu menerapkan SOA Barang di wilayah tersebut.
“Kami belajar dengan Nunukan, bagaimana pulau yang jauh bisa ditempuh dengan cepat. Sehingga harga barang sama dengan yang ada di kota. Akses juga bisa lebih cepat. Kami berharap, apa yang didapatkan bisa dibawa ke Sumenep dan mengimplementasikan skema SOA Barang itu,” tuntasnya. (kn-2)


