TARAKAN – Selain menutupi alur pelayaran, ternyata aksi pencurian juga menjadi persoalan bagi pembudidaya rumput laut.
Adanya aksi pencurian tersebut, sangat merugikan para pembudidaya rumput laut secara material. Persoalan pencurian rumput laut pun menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara.
Kepala DKP Kaltara Rukhi Syayahdin mengatakan, selama ini dari beberapa pengungkapan yang dilakukan. Didapati para pelaku pencurian diduga juga merupakan pembudidaya rumput laut. Dalam arti, pelaku pencurian ada di lingkungan para pembudidaya rumput laut. “Karena pencurian rumput laut ini dilakukan oleh pemukat rumput laut juga. Jadi satu saja, kami buatkan regulasinya,” ungkapnya, Kamis (18/8).
Apabila regulasi tersebut dikeluarkan, maka jam kerja para pembudidaya rumput laut akan diatur. Lantaran dari beberapa aksi pencurian rumput laut yang terjadi. Didapati para pelaku beraksi pada malam hari. Para pelaku pun bermodus bekerja membudidaya rumput laut pada malam hari. Ternyata itu dimanfaatkan untuk mencuri rumput laut.
Diperlukan aturan untuk mengatur jam kerja para pembudidaya rumput laut. “Jadi kalau bisa regulasi ini bisa dalam bentuk peraturan gubernur (Pergub),” tegasnya.
Pihaknya tidak menyarankan ada kegiatan memukat di malam hari. Selain bisa membahayakan keselamatan pemukat. Bisa menjadi modus aksi pencurian rumput laut. Apalagi kondisi malam hari yang sangat sepi, sehingga bisa memunculkan niat para pemukat melakukan aksi pencurian rumput laut.
“Jarak 10 meter itu kalau malam hari sudah tidak kelihatan perahu. Jadi sangat berpotensi terjadinya aksi pencurian rumput laut,” ujarnya.
Saat ini pihaknya masih saja menerima ada aksi pencurian rumput laut. Potensi pencurian akan terus terjadi, apabila jam kerja para pemukat tidak diatur. Ditambah lagi nilai jual rumput laut yang cukup tinggi saat ini. Sehingga memunculkan niat bagi para pelaku. “Hampir semua tempat masih ada pencurian, baik di Nunukan dan Tarakan,” sebutnya.
Terlepas dari persoalan rumput laut, pihaknya saat ini masih fokus menyelesaikan persoalan alur pelayaran yang tertutup rumput laut. Pada pekan lalu, sudah menyepakati alur pelayaran Tarakan-Bunyu yang sempat tertutupi budidaya rumput laut. Selain pembudidaya rumput laut, instansi terkait dilibatkan dalam kesepakatan alur pelayaran tersebut.
“Kalau di Nunukan sudah kami laksanakan rapat sejak Maret lalu. Saat ini sudah ada hasil keputusan dan tinggal action saja,” pungkasnya. (kn-2)


