Ada sekitar 18 mantan narapidana kasus terorisme (napiter) di Surabaya. Mayoritas sudah tercerahkan dan insaf dari paham radikal. Kini mereka bisa berbaur dengan masyarakat. Salah satunya adalah Muhammad Saifuddin Umar alias Abu Fida.
UMAR WIRAHADI-DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya
NASI tumpeng terhidang di atas meja ruang tamu. Di ujungnya tertancap replika bendera Merah Putih. Anggota DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i memotong gunungan tumpeng, lalu menyerahkannya kepada tuan rumah. Momen itu adalah bentuk syukuran sederhana untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Kemerdekaan RI pada Rabu (17/8) lalu.
“Dengan begini, saya bisa menunjukkan bahwa saya sangat cinta NKRI,” kata Muhammad Saifuddin Umar kepada wartawan yang duduk mengelilingi.
Kegiatan sederhana tapi penuh makna itu berlangsung di rumah Saifuddin di Jalan Sidotopo Lor Nomor 70-A, Kecamatan Semampir. Saifuddin lantas menyantap tumpeng diikuti sejumlah wartawan yang meliput ke rumahnya.
Muhammad Saifudin Umar adalah mantan napi kasus terorisme (napiter). Di lingkungan, dia terkenal dengan sapaan Abu Fida. Pria berpenampilan kalem itu sudah dua kali ditahan Densus 88 Polri.
Bibit radikalisme Saifuddin muncul dari buku-buku yang dibacanya. Dia juga malang melintang menimba ilmu agama ke berbagai negara Timur Tengah. Di antaranya, ke Syria, Jordania, Pakistan, hingga mendapat gelar Lc setingkat sarjana dari Universitas Ummul Quro, Arab Saudi.
Abu Fida kali pertama ditangkap pada 2004. Sebab, dia menyembunyikan buruan kasus teroris nomor wahid ketika itu. Yaitu, Dr Azhari dan Noordin M. Top. Sekitar empat bulan dia menyembunyikan buruan Densus 88 asal Malaysia tersebut. “Selama di Surabaya, tempatnya pindah-pindah. Kami sebut sebagai safe house,” jelas Saifuddin.
Dia juga pernah membawa Dr Azhari dan Noordin M. Top ke rumahnya. Keduanya diinapkan secara bergantian di rumah dua lantai milik Saifuddin. Karena sadar menjadi buruan polisi, setelah itu mereka berpindah-pindah dan dikoskan di beberapa tempat. Di antaranya, di Keputih dan Jalan Gembong.
Sampai akhirnya, Saifuddin ditangkap di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. “Saya sudah tidak tahan diintai aparat. Akhirnya, saya lepas mereka (Dr Azhari dan Noordin M. Top, Red). Saya tahunya mereka sudah ditembak mati oleh Densus 88,” ungkapnya.
Pada 2014, Saifuddin alias Abu Fida kembali dibekuk Densus 88. Dia diringkus karena menjadi deklarator ISIS di salah satu masjid di Solo. Saat itu dia divonis 3 tahun dari tuntutan 4 tahun penjara. Dua tahun Saifuddin dipenjara di Mako Brimob dan setahun meringkuk di Lapas Magelang, Jawa Tengah.
Pada 2017, ayah lima anak itu pun bebas. “Sekarang saya ingin kembali normal lagi hidup berdampingan di masyarakat,” ujar pria kelahiran 26 Januari 1966 tersebut.
Yang luar biasa lagi, Saifuddin kini menempuh program doktor (S-3) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Dia mengambil studi pendidikan Islam.
Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafi’i bersyukur Saifuddin sudah insaf dari ajaran radikal. Dia berharap Saifuddin bisa menyadarkan pihak-pihak yang masih menganut paham radikal. Bahkan memusuhi negara. “Beliau bisa jadi ambassador untuk menarik kembali orang-orang di jalan yang salah,” ungkap Imam.
“Mereka ini harus dibersamai. Pemerintah juga harus beri perhatian,” tutur politikus yang juga mantan wartawan itu. (*/c14/git/jpg)


