TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Jusuf SK sudah mulai memenuhi kebutuhan darah melalui Unit Transfusi Darah (UTD) sendiri. Sehingga tidak lagi bergantung seluruhnya dari Palang Merah Indonesia (PMI) Tarakan.
“Tapi, untuk bisa menjadikan UTD rumah sakit berdiri sendiri, butuh proses. Jadi, masih tergantung pada PMI. Karena biar bagaimanapun, untuk pengolahan darah dan lainnya masih lebih lengkap di PMI,” jelas Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr H Jusuf SK, Budy Azis, Selasa (13/9).
Sejauh ini, kebutuhan darah merah masih ditanggulangi PMI. Peralatan transfusi darah sudah lengkap di ruangan sendiri dan bisa digunakan sesuai kebutuhan. Ke depannya, pihaknya akan mempersiapkan ruangan khusus untuk UTD. Agar tidak mengganggu pelayanan lainnya.
“Kalau ada kebutuhan darah malam untuk pasien yang dirawat misalnya. Keluarga pasien yang memiliki darah sama, bisa langsung melakukan transfusi darah di UTD kami. Jadi tidak ke PMI kalau memang ada di sini (rumah sakit),” jelasnya.
Selain itu, rumah sakit memiliki alat untuk mengolah darah merah menjadi darah konvalesen dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang masih difungsikan saat ini. Hanya saja, sejak jumlah pasien Covid-19 melandai selama beberapa bulan terakhir, alat konvalesen jarang digunakan.
“Sementara darah konvalesen, alatnya ada di kami. Kan itu bantuan dari Kementerian Kesehatan, tak digunakan karena untuk Covid-19. Tapi, ke depannya bisa digunakan untuk yang lain. Sementara ini kami siapkan untuk plasma konvalesen dulu,” tuturnya.
Jenis kebutuhan darah yang paling banyak diperlukan yakni golongan darah O dan A, kemudian B dan AB. Hanya saja, B dan AB banyak yang butuh tetapi orang yang memiliki dua jenis darah ini sedikit. Sedangkan darah O dan A, yang butuh banyak.
Sehingga, kebutuhan dua jenis darah ini masih bergantung banyak dari PMI. Terlebih lagi PMI memiliki pendonor aktif yang sudah terdaftar. Jika dibutuhkan, biasanya PMI tinggal membuka data untuk menghubungi orang yang memiliki darah tersebut.
“Makanya selalu kurang untuk golongan darah B sama AB. Karena yang butuh banyak tapi yang punya sedikit. Kalau misalnya terjadi kekurangan, cari dari daerah sekitar, mulai dari keluarga pasien,” ujarnya. (kn-2)


