TARAKAN – Kebutuhan beras Bulog di Tarakan, sekitar 100-150 ton untuk jenis medium dan premium setiap bulan. Stok yang ada saat ini di Bulog Tarakan sekitar 220 ton dan diperkirakan hanya bertahan selama 2 bulan.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah dalam waktu dekat sebanyak 500 ton. Kepala Perum Bulog Sub Divre Tarakan Apriansyah mengatakan, kapal yang membawa beras Bulog sudah dalam perjalanan. “Paling banyak beras medium karena harganya lebih murah. Kalau yang premium tidak sebanyak medium,” jelasnya, Minggu (25/9).
Harga beras medium untuk agen mitra hanya Rp 8.500 per kg. Jadi, masih bisa mendapatkan untung Rp 1.000 untuk dijual kembali. Sedangkan minyak goreng, ada 3 kontainer yang tersedia. Satu kontainer sudah masuk dan dua kontainer diperkirakan datang pada 28 September mendatang.
“Kami asumsikan dengan bongkar, di awal Oktober sudah ready. Kontainer kedua ini 15.600 liter, sedangkan kontainer ketiga 19.900 liter. Cukup lah sampai beberapa bulan ke depan,” ungkapnya.
Rencananya, Bulog akan melakukan pasar murah kembali di akhir tahun. Sehingga, produk yang ada seperti beras dan minyak goreng akan menjadi salah satu komoditi pasar murah di akhir tahun. Terlebih lagi dari pasar murah yang sedang digelar saat ini, masyarakat meminta bisa digelar akhir tahun.
Kebutuhan yang dibeli dalam pasar murah sekarang ini hanya bisa bertahan dalam beberapa hari. “Mereka (masyarakat) memberikan masukan agar pasar murah ini bisa berlanjut. Sudah kami sampaikan kepada Kabag Ekonomi (Pemkot Tarakan), kalau bisa setelah kegiatan pasar murah ini selesai. Dilakukan evaluasi hasilnya seperti apa dan akan disampaikan,” tegasnya.
Sedangkan stok gula saat ini ada 25 ton dan akan masuk lagi sebanyak 50 ton dalam waktu dekat. Kebutuhan gula sebulan, ia perkirakan bisa mencapai 50 ton. Gula ini sebenarnya sudah ada di kantor Bulog. Namun untuk harga dan permintaan biasanya tinggi di moment tertentu, seperti menjelang Hari Raya.
“Tapi ada di waktu tertentu, 25 ton saja tidak habis. Karena memang di Tarakan ini banyak distributor gula. Untuk minyak goreng ini juga banyak, cuma minyak goreng yang murah itu tidak ada. Kalau gula pasir harganya hampir sama dengan di pasaran, Harga Eceran Tertinggi (HET) sebelumnya Rp 12.500 per kg. Sekarang sudah Rp 13.500 per kg,” sebutnya.
Gula pasir dijual dengan HET cukup banyak. Bahkan ada juga yang menjual Rp 13.000 per kg. Bulog sudah menjual gula pasir dalam bentuk kemasan. Meskipun ada juga stok yang karung polos, untuk mitra agar bisa lebih untung saat diecerkan sendiri.
“Gula pasir di bulan Oktober nanti ada pengiriman. Karena memang gula pasir ini bisa dikatakan aman. Harga juga cenderung stabil. Cuma kita tidak tahu, efek dari kenaikan BBM ini biasanya karena barang semua dari luar. Harganya naik setelah periode pengiriman berikutnya diberlakukan harga yang baru,” tuturnya.
Pihaknya masih akan melihat kemungkinan kenaikan harga di minggu terakhir September dan di awal Oktober. Namun, Bulog hingga saat ini belum ada rencana kenaikan harga dan masih sama dengan harga sebelumnya.
Sama dengan komoditi daging juga masih sama, tetap Rp 80 ribu per kg. Namun, saat ini stok daging impor masih kosong dan dalam proses penjadwalan pengiriman di awal Oktober.
Daging sekali datang sekitar 21 ton di Tarakan dan 7 ton di Bulungan. Daging ini sebulan pasti habis 20 ton. “Stok daging memang terbatas, karena harus suplai ke seluruh Indonesia. Kan saat ini daging dari Bulog impor dari luar negeri, makanya terbatas,” tutupnya. (kn-2)


