Tuesday, 21 April, 2026

Kalangan Muda dan Berkain: Tak Cuma untuk Kondangan, Tak Sekadar Tren Fashion

Memadupadankan kain dengan pakaian modern yang tengah hype di antara anak-anak muda sejatinya berakar kuat dalam kultur Indonesia yang kaya dengan pilihan wastra. Di Surabaya, Pemuda Berkain mengampanyekannya lewat beragam ajang, mulai gelar busana sampai perhelatan musik.

LAILATUL FITRIANISurabaya

BERKAIN mulanya asing di telinga Dewi Ratna Sari. Namun, kebingungan memilih outfit kondangan membuatnya berkreasi. Terlintaslah ide untuk memadupadankan kain sebagai bawahan.

“Dari situ mulai merasa nyaman pakai kain dan ternyata tidak seribet yang aku bayangkan sebelumnya,” ungkap mahasiswi yang baru saja lulus itu.

Dewi pun mulai ketagihan berkreasi dengan kain. Di setiap kesempatan dia tampil dengan lilitan kain. Mulai acara formal, pergi ke kampus, hingga sekadar nongkrong di luar. Perempuan 22 tahun itu bahkan mengaku pernah nekat mengenakan kain saat mendaki gunung.

“Selama ini mindset masyarakat kalau pakai batik/kain itu mau pergi ke acara formal. Padahal, kain itu fleksibel, bisa dipakai kapan aja, di mana aja, di situasi apa aja,” tuturnya.

Berkain memang tengah hype (menjadi tren) di kalangan anak muda masa kini. Formula fashion itu memadupadankan kain atau wastra dengan pakaian modern.

Tren tersebut sebenarnya tidak datang dari ruang kosong. Masyarakat Nusantara mengakrabinya sejak dulu. Misalnya, sampai 1990-an, masih banyak ibu-ibu, terutama di pedesaan, yang sehari-hari memakai jarit sebagai bawahan. Juga kultur bersarung di kalangan pria yang bertahan sampai sekarang dan tak hanya terasosiasikan dengan keyakinan tertentu.

Biasanya Dewi menyulap kain yang dia punya menjadi gaun dengan dipadukan outer. Dia menambahkan selendang di pinggang untuk menyempurnakannya. Gaya berbusananya itu ternyata mendapat feedback positif dari orang-orang di sekitarnya.

Buntutnya, banyak di antara kawannya yang tertarik belajar berkain. “Itu jadi salah satu kebahagiaan juga sih karena bisa meng-influence teman-teman untuk melestarikan budaya kita, yaitu berkain,” lanjutnya.

Berbeda dengan Dewi yang iseng berujung nyaman, Siroj Azhar memang sudah lama tertarik dengan semua yang berbau tradisional. Tentu kain atau wastra Indonesia dengan beragam motif tidak luput dari perhatiannya.

“Dulu pas SMA saya masuk kelas keterampilan menjahit dan membatik. Jadi, sehari-hari ketemunya kain batik. Ternyata ada loh kain yang tanpa dijahit bisa jadi outfit sehari-hari,” ujar pemuda 19 tahun itu.

Sebagai siswa di salah satu sekolah fashion desainer di Surabaya, melakukan mix n match berkain bukan hal yang sulit baginya. Seringnya, Siroj menjadikan kain sebagai bawahan.

Namun, dia sempat menerima respons kurang mengenakkan karena hal tersebut. Awalnya orang mengira dia mengenakan rok.

Padahal, menurut dia, laki-laki berkain itu wajar. Kalau rok dijahit, sedangkan berkain memanfaatkan selembar kain tanpa dijahit dan dipotong. Sekarang, itu sudah jadi pakaian sehari-hari. Baik untuk pria maupun wanita.

“Berkain ini sama halnya dengan pakaian sehari-hari pada zaman dulu sehingga saya rasa bukan hal yang aneh jika kita berkain memadukannya dengan ready-to-wear agar relevan dan dapat diterima masyarakat modern,” ucap Gerak Samudra, founder Pemuda Berkain Surabaya.

Sedari kecil, Gerak menaruh minat seputar etnik. Dia baru mengenal kain pada akhir 2018. Ketika itu, dia berkesempatan mengenakan kain di acara cultural night Global Goals Model United Nations di Malaysia. Berkain masih jarang di Indonesia.

“Seiring waktu, wastra mulai ngetren sehingga menjadi turning point untuk meneruskan momen tersebut secara berkelanjutan. Awalnya tidak ada rencana apa pun yang matang, hanya spontanitas,” cerita Gee, sapaan akrabnya.

Lewat Pemuda Berkain Surabaya, Gee ingin menumbuhkan kepercayaan diri anak muda dalam melestarikan budaya berbusana kain. Dia menuturkan, anak-anak muda Indonesia kerap kurang percaya diri dengan budaya sendiri.

Padahal, Indonesia memiliki ragam wastra dengan keunikan tersendiri di setiap daerah. Misalnya, songket dari Sumatera Selatan, endek dari Bali, tenun Sikka dari Nusa Tenggara Timur, dan sarung lippa sabbe dari Sulawesi Selatan.

Pemuda Berkain Surabaya mengampanyekan berkain lewat sejumlah event menarik. Ada gelar busana, pameran seni, reja wastra atau berjualan kain, lokakarya teknik berkain, dan disko musik Indonesia. Meski baru dirintis, anggotanya sudah mencapai 130 anak muda. Itu menunjukkan eksistensi berkain di kalangan generasi muda.

“Kami ingin terus berkarya dan berkampanye kain tanpa terbatasi dan membuktikan bahwa wastra masih relevan di masa modern,” ujar Gee.

Sebagai fashion enthusiast, Bagus Sendy langsung terpikat melihat kreasi berbusana Pemuda Berkain Surabaya. Pemuda 22 tahun itu baru terpikirkan untuk turut mencoba berkain ketika pergi ke toko oleh-oleh Bali. Sejak itu, dia aktif mengeksplorasi motif-motif kain dan memadukannya dengan outfit sehari-hari.

“Pikirku enak kali ya, adem, kayak pakai sarung. Apalagi Surabaya panas, kalau pakai jins terlalu lama nggak nyaman,” ucap Bagus.

Kepercayaan dirinya semakin bertambah sejak bergabung dengan Pemuda Berkain Surabaya. Di tengah style fashion yang berkiblat budaya luar, Bagus tetap percaya diri tampil dengan blazer yang dipadukan crop T-shirt dan bawahan kain. Meski, terkadang ada saja generasi yang lebih senior yang mempertanyakan tampilannya.

“Banyak yang menanggapi dengan bertanya ada acara apa, nggak ribet kah, kenapa kok pakai kain. Aku tidak mempermasalahkannya sih selama aku nyaman dan aku bangga pakai kain,” ungkapnya.

Dewi menambahkan, berkain tidak sekadar tren fashion. Bagi dia, itu sebagai salah satu gaya hidup minimalis. Sebab, selembar kain bisa dijadikan berbagai outfit. Mulai bawahan, outer, celana jogger, gaun, hingga jumpsuit.

“Tanpa beli baju baru, kita bisa dapat tampilan yang baru setiap harinya. Ini bisa membantu mengurangi limbah tekstil juga. Jadi, tidak hanya melestarikan budaya,” katanya. (*/c7/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru