Saturday, 25 April, 2026

Kisah Sutaji, Petugas Pandu Kapal di Surabaya

Sejak kecil, Sutaji bercita-cita menjadi dokter. Demi mewujudkan asa, saat SMA, dia mengambil jurusan biologi. Laki-laki 44 tahun itu tak pernah berpikir menjadi pelaut. Apalagi sebagai petugas pandu kapal.

DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya

AWAL mula Sutaji mengenal dunia pelayaran saat menyelesaikan pendidikan menengah akhir di SMAN 1 Mojosari, Mojokerto. Seorang teman mengajak dia mengikuti seleksi di Sekolah Tinggi Ilmu Maritim dan Transpor (Stimart) AMNI yang kini berubah nama menjadi Universitas Maritim AMNI, Semarang.

Mendaftar untuk ikut seleksi tanpa memiliki informasi terkait dengan pelayaran, Sutaji disarankan senior mengambil jurusan nautika. Tepat pada 1996, pria asal Wonosari, Mojokerto, itu dinyatakan lolos masuk sekolah pelayaran. Saat masuk, Sutaji baru paham akan menjadi pelaut setelah menuntaskan pendidikan.

Ketika menempuh pendidikan, Sutaji sempat mendapat beasiswa Supersemar dari pemerintah.

“Di jenjang akhir sambil menunggu ujian negara, saya mengajar di SMK pelayaran di Kediri,” ungkap Sutaji yang pernah menjadi nakhoda di PAL Marine Service (Palmars) tersebut.

Sutaji lulus tepat waktu pada 1999. Dia mengantongi ijazah profesi pada tahun berikutnya dan bekerja menjadi perwira kapal sejak 2001 di sebuah kapal kargo rute Jakarta–Vietnam. Selama delapan bulan, ayah tiga anak itu bertugas sebagai mualim II yang bertanggung jawab terhadap alat-alat navigasi.

Mulai perawatan maupun pengoperasiannya. Hingga akhirnya, dia menjadi mualim I. Pada 2005, Sutaji memutuskan tak lagi bekerja di perusahaan tersebut.

Dari pengalaman berlayar, Sutaji baru mengetahui nakhoda dibantu petugas pandu setiap kapal akan memasuki pelabuhan. Dia pun tertarik menjadi petugas pandu. Pada 2009, ada lowongan petugas pandu. Sutaji memberanikan diri mengikuti seleksi. Dimulai dari seleksi administrasi, tes kesehatan, dan wawancara.

Perjuangannya membuahkan hasil manis. Dia dinyatakan lulus dan berhak mengikuti diklat petugas pandu selama delapan bulan. “Saat itu masuk angkatan ke-32,” kata petugas yang sempat berkarier di Pelindo sebagai awak kapal tugboat tersebut.

Selesai diklat, Sutaji menerima penugasan awal di Pelabuhan Tenau, Kupang, selama tiga tahun. Lalu, dia pindah ke Pelabuhan Banjarmasin hingga 4 tahun 8 bulan. Akhir 2016 dia bertugas di Surabaya hingga sekarang.

Tantangan paling berat sebagai petugas pandu adalah saat cuaca buruk. Terlebih ketika ada ombak besar. Saat menaiki kapal, petugas harus tepat waktu. Ketika berada di atas, dia harus meyakinkan nakhoda bahwa kapal bisa dibawa dengan selamat dan aman.

Sebagai petugas pandu, Sutaji telah memperoleh sertifikat tingkat pertama dan deep-sea pilot. Jadi, dia dapat betugas di seluruh kapal tanpa pembatasan dimensi (panjang) kapal.

Selama 12 tahun bertugas, Sutaji punya pengalaman yang tak terlupakan. Yakni, saat memandu kapal pesiar Genting Dream pada 2019. Kapal tersebut memiliki panjang 335 meter dan menjadi kapal pesiar paling panjang yang masuk Surabaya. Saat memasuki kapal, Sutaji dibuat takjub dengan desain interior yang sangat bagus. Peralatan kapal dan navigasi juga canggih.

Ada cerita menarik saat Sutaji bertugas di kapal itu. Dia diberi buku tebal yang berisi menu makanan dan diminta memilih menu yang disuka. Karena takut rasa makanan tak sesuai dengan lidahnya, akhirnya dia memilih sate. “Jadi, saya bisa merasakan makan sate di atas kapal pesiar Genting Dream,” ujarnya, lalu tersenyum. (*/c14/may/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru