TIDENG PALE – Kabupaten Tana Tidung (KTT), memiliki destinasi wisata yang menjanjikan. Apabila objek wisata tersebut dapat dikelola dengan maksimal. Tentu bisa menjadi masukan untuk pendapatan asli daerah (PAD).
Namun, sayangnya objek wisata yang seyogianya menjadi lokasi bagi masyarakat melepas penat, tidak bisa dimaksimalkan. Seperti wisata Kujau di Kecamatan Betayau. Di lokasi tersebut dalam beberapa pekan terakhir sepi dari pengunjung. Sebelumnya objek wisata ini dikelola oleh desa, lalu diambil alih pemerintah daerah sejak dua tahun terakhir.
Salah seorang penjaga wisata tersebut Aciang mengakui, setelah diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah. Pengunjung yang datang ke lokasi wisata malah berkurang. Apalagi untuk fasilitas penunjang, seperti gazebo dan lainnya belum begitu optimal.
“Terjadi penurunan pengunjung. Beda di hari-hari sebelumnya yang bahkan mencapai 60 persen pengunjung,” ucapnya, Minggu (13/2).
Menurutnya, fasilitas pendukung objek wisata banyak terdapat kerusakan. Seperti baling flying fox yang tidak lagi bisa difungsikan. Bahkan, ada beberapa pondok untuk istirahat pengunjung pun alami kerusakan. Padahal untuk masuk ke lokasi wisata, tidak dikenakan tarif retribusi. Karena dari Dinas Pariwisata belum mengizinkan.
Fasilitas lainnya berupa kolam ikan. Kolam yang disediakan sementara gratis ketika ada yang ingin mancing. “Gratis untuk mancingnya. Bagaimana saya mau pungut retribusi kalau belum ada izinnya. Nanti dikira pungli,” ungkapnya.
Apabila objek wisata ini dikelola secara maksimal. Maka bisa dapat mendatangkan keuntungan dan masuk dalam PAD. Ini dilihat dari jumlah orang yang mendatangi wisata ini. (kn-2)


