Friday, 22 May, 2026

Di Lokasi Ini, Sudah Dua Korban Loh Dimangsa Buaya

TIDENG PALE – Jalan Poros Desa Bebatu, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung (KTT), telah hidup seekor buaya. Bahkan di lokasi tersebut, diduga sudah dua korban yang dimangsa buaya.

Korban pertama atas nama Zaenal Abidin, hingga saat ini pun belum berhasil ditemukan. Yang diduga telah dimangsa predator air tersebut. Pada Rabu lalu (16/1), sekitar pukul 17.00 Wita, korban kedua yang dimangsa buaya pria berinisial LT (51).

Kronologisnya, saat itu korban bersama anak dan kemenakan berangkat dari Desa Bebatu. Ketiganya usai mencari daun nipah di pinggiran Sungai Bebatu. Dalam perjalanan, belum jauh dari Desa Bebatu, sekira ratusan meter memutuskan untuk singgah di lokasi tersebut. Meskipun ketiganya menggetahui, lokasi tersebut pernah menelan korban jiwa dimangsa buaya.

Korban saat itu berniat untuk mencuci kaki di sungai tersebut. Namun, nahas, berselang turun ke sungai itu dalam hitungan detik langsung dimangsa buaya. Hal itu terlihat melalui video yang beredar di masyarakat.

Kemenakan sekaligus saksi yang menyaksikan kejadian itu langsung berteriak minta pertolongan. Sembari mengejar arah buaya yang telah menerkam di kanal sungai. Warna air yang kecokelatan membuat kesulitan dalam pencarian. Hal itu membuat anak dan kemenakan korban kehilangan jejak, karena buaya itu tidak muncul ke permukaan air.

Keduanya langsung menghubungi keluarga dekat, untuk memberitahukan informasi tersebut. Keluarga yang mendengar bergegas ke lokasi. Informasi tersebut kemudian tersebar luas, jajaran tim gabungan menyambangi lokasi. Bahkan, proses pencarian pun langsung dilakukan di lokasi kejadian. Kemarin (17/2), proses pencarian masih dilakukan. Namun, hasilnya korban belum ditemukan.

Kasi Ops Badan Sar Nasional (Basarnas) Tarakan Dede Hariana menyampaikan, saat ini upaya yang dilakukan dengan mengkaji ilmu jinak buaya. Untuk mendapatkan trik-trik dalam penanganan menangkap predator pemangsa ini. Biasanya hewan buas atau buaya seperti ini naik ke permukaan air pada sore hari, untuk mencari makanan.

“Jadi kita mulai lakukan pencarian lagi sekitar pukul 15.40 Wita,” ujarnya. Dalam upaya pencarian korban, Basarnas melibatkan 5 personel. Bahkan, mempersiapkan senjata tajam dan alat Aqua Eye.

“Alat ini baru dan bertujuan untuk mendeteksi posisi korban di bawah air atau tidak. Bila korban terdeteksi, maka alat ini pun akan berbunyi,” terangnya.

Adanya lagi korban yang diterkam buaya, hal itu pun menjadi perhatian Wakil Bupati KTT Hendrik. Dia mengingatkan warga KTT agar lebih berhati-hati saat hendak memancing atau aktivitas lainnya di Jalan Poros Desa Bebatu. Mengingat, sudah dua korban jiwa sampai detik ini belum ditemukan, akibat dimangsa buaya.

Selaku pemerintah daerah, turut belasungkawa atas peristiwa duka ini. Kepada tim gabungan yang bergerak di lokasi juga diminta tetap waspada dalam pencarian. “Tim gabungan terus melakukan pencarian. Harapan kita sampai korban atau buayanya ditemukan,” pinta Hendrik.

Hendrik menegaskan, untuk lokasi yang dianggap rawan dari predator buaya ada beberapa pertimbangan. Rencanaya akan dilakukan penutupan di selor sungai atau nanti dibuatkan pagar pembatas. Sehingga tidak ada lagi yang beraktivitas di lokasi tersebut.

Kanal dengan ukuran sekitar 5 meter dengan panjang ratusan meter tersebut, tembus ke Sungai Supa. Kanal dibangun dikarenakan areal kawasan tersebut tergolong rawa.

Kepala Desa Bebatu Mahmuda menambahkan, pencarian korban sudah berlangsung saat dikabarkan terekam buaya. Keluarga korban dan tim gabungan sebagian menginap di lokasi. Dengan memasang tenda dari BNPB.

Bahkan, upaya spiritual dan ritual adat telah dilakukan sejak pagi. Akan tetapi, hasilnya masih nihil. “Kalau kita dengar kata nenek yang melakukan ritual, buaya ini mangsa orang karena marah lantaran tidak diperhatikan,” ujarnya.

Di lokasi telah terpasang spanduk imbauan. Kanal di Jalan Poros Desa Bebatu di perlebar agar badan jalan bisa kering. Karena, sebelumnya lokasi tersebut merupakan rawa. Dulunya, kanal tersebut tidak lebar seperti sekarang ini. Hanya memiliki kurang lebih 1-2 meter.

Seiring penanaman bibit oleh salah satu perusahaan di KTT, maka kanal itu dilakukan pelebaran sekitar 5-7 meter. Dengan kedalaman 3-4 meter dan panjang kanal 700-800 meter.

Menurut Kades, mengenai buaya, di Jalan Poros Desa Bebatu ini merupakan habitatnya. Akan tetapi, buaya memangsa manusia baru diketahuinya terjadi Desember 2021 dan Februari 2022. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru