Kesibukan sebagai pengusaha kerajinan enceng gondok tidak menyurutkan niat Wiwit Manfaati dan Supardi peduli kepada sesama. Mereka meluangkan waktu melatih orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) membuat kerajinan. Dari yang awalnya tidak bisa apa-apa hingga terampil menghasilkan barang layak jual.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
WIWIT Manfaati begitu telaten menuntun Devi, penghuni Liponsos Keputih, yang sedang belajar merajut tali. Sudah hampir dua jam Wiwit memandu Devi yang tampak sulit belajar simpul baru. Namun, Wiwit tidak bosan dan sabar mengajarinya berulang.
“Ini baru bisa dia. Sebelumnya, sudah sebulan belajar simpul sederhana. Nah, sekarang belajar simpul yang baru lagi dan dua jam baru bisa,” ungkap Wiwit.
Pelatihan kerajinan di Liponsos Keputih itu adalah agenda rutin. Dinas sosial sengaja memberikan kegiatan ekstra untuk penghuninya. Dengan begitu, mereka bisa belajar bersosialisasi dan melatih pikiran supaya bisa fokus.
Salah seorang pelatih legendaris di sana adalah Wiwit. Sejak 2012, Wiwit mencurahkan waktunya di tempat tersebut. Menularkan ilmu kerajinan yang dia miliki. Impiannya, setelah kembali bermasyarakat, ODGJ dan PMKS memiliki keterampilan untuk memulai usaha.
“Pertama di sini pada 2012–2016. Kemudian, 2017 keluar, lalu 2022 ini balik lagi ke sini. Waktu itu masuk ke sini karena diajak Pak Soepomo (mantan kepala dinsos, Red) untuk membantu memberi pelatihan,” kata pengusaha kerajinan enceng gondok tersebut.
Wiwit pun tidak sendiri. Selama memberi pelatihan, dia berduet dengan suaminya, Supardi. Kolaborasi keduanya memang mesra. Tujuannya pun sangat mulia.
Di Liponsos Rabu (14/9) lalu, misalnya, mereka berbagi tugas. Wiwit mengajari membuat anyaman tali untuk peluit khusus difabel. Sementara, Supardi mengajar membuat keset dari anyaman kain perca.
“Awal memulai memang sedikit takut. Namun, dua minggu berlalu sudah biasa. Bahkan dekat dengan mereka. Saya jadi tahu satu per satu cerita mereka hingga menjadi seperti itu. Rasanya, saya semakin bersyukur setelah mendengar cerita mereka,” ujar pemilik usaha Witrove by Wiwit Collection tersebut.
Supardi menyatakan, dirinya dan sang istri hanya ingin membekali penghuni Liponsos dengan keterampilan yang mereka bisa. Diharapkan, keahlian itu bisa menjadi bekal di tempat asal masing-masing. Dengan begitu, ODGJ tetap bisa berpenghasilan dan PMKS tidak kembali ke dunia kelam seperti mengemis atau ngamen.
“Bahkan, yang kami latih produknya itu banyak laku. Laku bukan karena pembeli kasihan lho, ya. Tapi, laku karena memang bagus,” jelas pengusaha yang sudah ekspor hingga ke Belanda tersebut.
Supardi mengungkapkan, para ODGJ dan PMKS yang menghasilkan kerajinan itu sudah memiliki kas sendiri. Jika ditotal, saat ini nominalnya mencapai Rp 26 juta. Uang itu terus diputar untuk modal dan menghasilkan produk baru.
Selain itu, dana tersebut biasanya digunakan untuk makan-makan dan rekreasi oleh para penghuni Liponsos. Supardi menyebut program tersebut dari mereka untuk mereka lagi. “Setelah pandemi, kami mulai lagi karena sempat vakum. Ini peluit dan gantungan dibeli untuk dibagikan ke teman-teman difabel yang membutuhkan,” paparnya sambil menunjukkan peluit karya peserta pelatihan. (*/c14/may/jpg)


