Thursday, 23 April, 2026

Anggota Dibatasi hanya 100 Orang Saja

Love Suroboyo mungkin tidak asing lagi bagi generasi milenial di Kota Pahlawan. Jika dilihat dari jumlah follower atau pengikutnya di Instagram, komunitas tersebut cukup banyak dikenal. Dari media sosial, komunitas yang memiliki 423 ribu pengikut di Instagram itu kini sudah merambah ke gerakan sosial.

 ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

 SORE itu, sekitar pertengahan Januari, kompleks Balai Pemuda cukup ramai. Hilmi Aminullah, anggota komunitas Love Suroboyo, sedang jalan-jalan ”mencari mangsa”. Dia bersama tim dari komunitasnya ingin bertanya kepada pengunjung Alun-Alun Suroboyo di kompleks Balai Pemuda terkait hal-hal seputar Kota Pahlawan.

Itu merupakan kuis yang sekaligus dijadikan konten YouTube oleh komunitas Love Suroboyo. Hilmi yang juga finalis Cak & Ning Surabaya 2016 mendatangi dua pengunjung yang sedang duduk santai sore itu. Sebelum memulai kuis, Hilmi menanyakan nama kepada remaja berkerudung krem. “Dinda,” ucap perempuan asal Dukuh Kupang tersebut. “Alus suarane koyok wonge,” kelakar Hilmi.

“Sampean sopo jenenge?” tanya Hilmi kepada teman Dinda yang berkerudung merah marun. “Gak duwe jeneng,” kata teman Dinda. Jawaban itu ditanggapi bercanda oleh Hilmi.

“Wahaha, rodok urakan Mbak iki, Rek. Gak koyok koncone sijine, alus,” kata Hilmi, lantas tertawa. Perempuan berkerudung merah marun itu pun menjawab sambil menahan tawa bahwa namanya Tia.

Dua remaja itu ditanyai tentang nama-nama taman di Surabaya. Hilmi meminta Dinda dan Tia menyebutkan nama lima taman. Mereka pun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Berikutnya, mereka diminta menyebutkan nama lima museum. Sayangnya, Dinda dan Tia hanya mengingat dua nama museum.

Pertanyaan pun diganti dengan menyebutkan tiga nama mal di Surabaya. Mereka menjawabnya dengan cepat. “Wah, seneng belonjo arek-arek iki,” kelakar Hilmi lagi.

Di akhir segmen tersebut, Hilmi baru memperkenalkan diri bahwa dirinya bersama timnya berasal dari komunitas Love Suroboyo.

“Oalah, ya Allah. Aku wes suwe lho follow (Instagram, Red) Love Suroboyo.Tapi, sayange gak di-follow back,” kata Tia. Hilmi mem-berinya stiker dan sedikit uang tunai sebagai hadiah karena menjawab pertanyaan sore itu.

Itulah salah satu program paling anyar dari komunitas Love Suroboyo. Program tersebut disiarkan melalui kanal resmi YouTube Love Suroboyo. Ketua Komunitas Love Suroboyo Sandi Setiawan pun menceritakan awal mula berdirinya komunitas tersebut.

Pada 2013, Love Suroboyo hanya sebatas grup Facebook. Kemudian, pada 2014 grup yang berisi anak-anak muda itu membuat akun Twitter dan baru membuat akun Instagram pada 2015. “Baru 2016 resmi membuat sebuah komunitas,” ujar Sandi.

Pada 2016, komunitas itu membuka pendaftaran anggota. Menurut Sandi, peminatnya cukup banyak. Hanya, dia bersama timnya membatasi jumlah anggota. Yakni, hanya 100 anggota. Tujuannya, lebih mudah mengelola komunitas.

Love Suroboyo memiliki tag- line Kenali dan Peduli Kotamu. Sandi menjelaskan, tagline itu benar-benar ditanamkan kepada seluruh anggotanya. Juga disebarluaskan ke masyarakat. “Jadi, tidak hanya kenali atau tahu apa saja yang ada di kotamu (Surabaya), tetapi juga harus peduli,” tuturnya.

Sandi mencontohkan bangunan bersejarah maupun cagar budaya yang tidak terawat. Menurut dia, bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab atas pelestarian bangunan atau tempat bersejarah. “Kita, semua masyarakat, juga harus peduli. Ayo, kita rawat dan jaga bersama-sama. Sebab, itu bagian dari kearifan lokal kita. Aset kita,” paparnya. (*/c14/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru