Saturday, 25 April, 2026

Bayi 2 Tahun Derita Hidrosefalus Kurang Perhatian

NUNUKAN – Bocah Balita perempuan bernama Aisyah, warga Desa Tabur Lestari Kecamatan Seimanggaris, Kabupaten Nunukan, hanya mampu diam dan melirikkan mata ke kanan dan ke kiri, tanpa mampu menopang ukuran kepalanya.

Bocah berusia 2 tahun itu sudah sejak lahir menderita penyakit hidrosefalus. Kepalanya saat ini sudah membengkak sebesar helm. “Aisyah hanya tinggal bersama ibunya di mess perusahaan kelapa sawit. Sang ibu harus mengurusi anaknya tanpa ada penghasilan tetap,” ucap Koordinator Relawan Peduli Bayi Aisyah, Irman, Kamis (12/5).

Ernawati yang merupakan ibu Aisyah mengalami nasib kurang beruntung. Ketika anak sulungnya butuh perhatian serius akibat penyakit langka yang diderita. Namun suaminya justru terlibat kasus pidana pencurian buah kelapa sawit milik perusahaan dan kini mendekam di penjara.

Ernawati terpaksa banting tulang memeras keringat, dengan bekerja serabutan di lingkungan perusahaan kelapa sawit. Meski kini ia sedang hamil 5 bulan.

“Dengan kondisinya, kami mencoba berbuat untuk meringankan bebannya. Kami membawa Aisyah ke rumah sakit dan menghubungi Dinas Sosial. Agar Aisyah bisa lebih diperhatikan,” ungkap Irman.

Iapun menambahkan, para relawan akan membuka donasi. Seluruh dana yang masuk dari donasi masyarakat, akan dikirim langsung ke rekening milik Ernawati. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nunukan Faridah Aryani mengatakan, kasus bayi Aisyah sudah mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Para petugas sosial langsung turun tangan dengan membuatkan BPJS untuk operasi Aisyah. “Kami sudah mendapat laporan dan dibuatkan BPJS. Aisyah sudah terdaftar sebagai PBI BPJS Kesehatan,” terangnya.

Kasus ini, lanjut Faridah, menjadi kasus cukup kompleks. Tidak hanya berkaitan dengan kesehatan anak. Akan tetapi butuh perhatian lebih bagi ibu si bocah. Dengan kondisi ekonomi yang terbilang kurang dan keadaan keluarga yang ditimpa cobaan. Psikologi ibu tentu memiliki pengaruh besar, bahkan bisa saja menjadi faktor lain bagaimana hidrosefalus terjadi.

“Biasanya kalau anak hidrosefalus, ibunya mengalami kekurangan asam sulfat. Ada infeksi rahim, atau gangguan kesehatan lainnya. Tapi keadaan serba kekurangan, ditambah beban hidup yang berat, bisa jadi mempengaruhi psikologi,” bebernya.

Ia menyesalkan kondisi Aisyah yang seakan dibiarkan lama. Sehingga harus menunggu dua tahun baru mendapat tindakan medis. “Seharusnya kepala desa setempat membentuk tim untuk masalah seperti ini. Kami tak mendapat laporan adanya kasus ini. Selanjutnya akan kami coba terus melakukan pemantauan dan pendampingan,” ujarnya.

Menurut Faridah, masyarakat Nunukan memang butuh edukasi dan sosialisasi terhadap fungsi serta peran Dinsos dan P3A. Selama ini, masyarakat Nunukan khususnya yang tinggal di pedalaman, masih awam dengan penyakit langka seperti hidrosefalus.

Hanya saja, meski kadang pemerintah sudah siap untuk melakukan agenda sosialisasi dan edukasi kesehatan. Masyarakat justru jarang yang berminat dan tidak datang saat diundang.

Padahal masalah BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) cukup penting. Mereka bisa diberitahu bagaimana tumbuh kembang anak. “Sementara kita akan berfokus pada masalah kesehatan bayinya dulu. Selanjutnya akan ada tindakan lebih lanjut untuk ibunya. Kami sangat prihatin atas keadaan ini,” tutur Faridah. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru