Saturday, 4 April, 2026

Benedict Wermter, si ”Bule Sampah” yang Usung Misi Membuat Indonesia Kembali Bersih

Benedict Wermter langsung jatuh cinta pada Indonesia begitu kali pertama ke sini, tapi dengan segera pula dia tahu ada masalah dengan penanganan sampah. Platform Bule Sampah membuatnya diundang pemerintah daerah, juga seorang mama di Papua.

DINARSA KURNIAWAN, Berlin

SEJAK awal kedatangannya ke Indonesia, Benedict Wermter segera mendapati salah satu masalah yang dihadapi negeri yang telah menawan hatinya ini: sampah. Itulah yang kemudian mendorong peneliti, penulis, dan jurnalis investigatif asal Jerman tersebut membuat platform yang menyediakan informasi dan edukasi, khususnya terkait sampah plastik.

Pekerjaan membuatnya akrab dengan persoalan lingkungan. Salah satu karya jurnalistiknya menyorot konten tentang ekspor sampah ke luar negeri oleh jaringan eksportir sampah ilegal dari Jerman ke negara-negara Asia.

“Saya merasa terpanggil melakukan sesuatu untuk Indonesia berdasar pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki,” kata peraih sejumlah penghargaan jurnalistik itu ketika ditemui Jawa Pos di Tempelhofer Feld, sebuah lapangan terbang di Berlin dari era Perang Dunia II yang diubah menjadi ruang terbuka untuk publik, pada 30 Juli lalu.

Beni (sapaan Benedict Wermter) kali pertama ke Indonesia sebagai turis backpacker pada 2017 ke Sumatera Utara. Dan, dengan segera hatinya tertawan. “Semakin lama di sini, saya lihat sektor industri di Indonesia susah me-maintain standar lingkungan dengan benar. Dari situ muncul masalah sampah yang dihadapi masyarakat,” katanya.

Hal lain yang membuat dirinya tak bisa berpaling dari Indonesia adalah di negeri inilah dia kali pertama bertemu dengan Lina Wermter. Perempuan tersebut kini menjadi istrinya. Beni dan Lina kemudian memikirkan cara bagaimana berkontribusi kepada Indonesia untuk mengatasi masalah sampah.

“Jadi, saya membuat semacam media atau platform untuk menunjukkan kepada orang-orang di Indonesia betapa pentingnya hal tersebut. Dari situlah Bule Sampah muncul,” kisahnya tentang awal kemunculan akun @bule_sampah di sejumlah platform media sosial.

Saat ini akun @bule_sampah di Instagram memiliki 80,6 ribu pengikut, sedangkan di TikTok, akun @bulesampah punya 50,6 ribu. Beni mengungkapkan, saat ini dirinya belum terlalu fokus di YouTube karena merasa belum mempunyai sumber daya yang mumpuni untuk membuat konten yang bagus.

Beni mengatakan, Bule Sampah sendiri resmi online di media sosial pada tujuh bulan lalu. Namun, dia menyatakan sudah menyiapkannya bersama istrinya sejak setahun terakhir.

Dua akun media sosial tersebut dari awal sampai saat ini pun dikerjakan berdua oleh Beni dan Lina. Mulai merekam gambar, mengeditnya, sampai mengunggahnya ke akun media sosial.

Ada benang merah dalam setiap konten yang diunggahnya di media sosial. Konten-konten tersebut juga selalu dipresentasikan menggunakan Bahasa Indonesia. Tujuannya agar mudah diserap masyarakat Indonesia.

Beni mengenang, banyak orang, dari berbagai latar belakang, sempat bilang Bule Sampah akan gagal. Tapi, kenyataannya, tiga video pertama di TikTok sudah mendapat 1 juta view, begitu pula di Instagram.

“Akhirnya ada pemerintah daerah, dari Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengundang kami untuk datang,” papar pria yang tidak mau melabeli dirinya sebagai aktivis lingkungan tersebut.

Beni menambahkan, sejak membangun akun Bule Sampah di media sosial, dirinya sudah berkeliling ke sejumlah tempat di Indonesia untuk memberikan informasi tentang pengolahan sampah kepada masyarakat. Selain NTB dan Sumatera Barat, dia mengatakan pernah menyambangi Bali, Maluku, Sulawesi Utara, Jakarta, dan Jawa Timur. Di Jawa Timur, ada tiga kota yang dia kunjungi: Surabaya, Banyuwangi, dan Malang.

Menurut Beni, perubahan tidak bisa hanya diinisiasi oleh bule yang tinggal di Bali yang berbicara di forum ekonomi dunia. Itu, lanjut dia, tidak akan mengubah apa pun. Saat ini, setelah sekitar tujuh bulan beredar di jagat daring, banyak tanggapan yang didapatkannya dari masyarakat Indonesia. Banyak yang positif, sebaliknya, ada juga yang negatif.

Beni menyebutkan, sekitar 95 persen feedback positif dan sisanya negatif. “Bule Sampah punya 5 persen haters yang loyal. Banyak komentar pedas melalui DM (direct messages),” kata Beni yang mengaku tak mempermasalahkannya.

Tapi, ada pula komentar yang membuatnya tertawa. Misalnya, ada seorang mama di Papua yang ingin dia datang ke rumahnya untuk memberi tahu cara memilah sampah. “Well, saya tidak bisa datang ke rumah setiap orang untuk berbagi pengetahuan. Tapi, setidaknya pesan saya tersampaikan. Hingga muncul sebuah kepedulian untuk menangani masalah sampah,” ucapnya.

Beni menambahkan, saat ini dirinya memang masih berada di Berlin. Sebab, dia mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang dilakukan di ibu kota Jerman tersebut. Namun, Beni membuka peluang untuk tinggal bersama istrinya secara permanen di Indonesia.

Bulan depan Beni berencana kembali ke Indonesia dan akan tinggal di sini sampai akhir tahun. Tahun lalu pun, dia sudah tinggal untuk beberapa bulan di Indonesia.

Sejak Juli tahun ini Beni membentuk sebuah yayasan yang diberi nama Veritas Edukasi Lingkungan (VEL). Dia bekerja sama dengan RECO, sebuah perusahaan pengolahan sampah yang berbasis di Indonesia.

Bersama yayasan itu, Beni berharap ada pijakan hukum untuk melakukan berbagai proyek lingkungan. Selain itu, pihaknya bisa mengelola dana dari berbagai sumber untuk menjalankan proyek pengelolaan sampah. Dia juga ingin membuat kurikulum yang baku sebagai modul edukasi pengelolaan sampah. (*/c9/ttg/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru