Thursday, 18 June, 2026

Bertugas di Papua Dipublikasikan hingga Internasional

Hampir setengah abad Prof dr Paul L. Tahalele SpB SpBTKV (K) VE bergelut di bidang bedah toraks dan kardiovaskular. Kemampuan dan pengalamannya pun tidak diragukan lagi di dunia kedokteran Indonesia. Di usianya menjelang 75 tahun, dia meluncurkan buku terbaru Bedah Toraks; Pengalaman Klinis 44 Tahun.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

INGATAN Paul L. Tahalele kembali pada 1993. Saat dia ditugaskan dalam program Surya Baskara Jaya oleh Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) TNI-AL ke Papua.

Laki-laki kelahiran Mataram, 4 Maret 1948, itu ditunjuk sebagai ketua tim medis untuk melayani kesehatan penduduk di pulau-pulau terpencil dengan kapal perang landing ship.

Dengan keterbatasan alat medis, Paul bersama tim harus membantu pelayanan kesehatan untuk menyelamatkan berbagai kasus penyakit penduduk di pulau-pulau terpencil tersebut.

Tindakan operasi pun dilakukan di dua kontainer kamar operasi yang dibeli dari Inggris (bekas perang Malvinas).

“Tidak ada bank darah, kami harus bisa mengambil tindakan dengan alat yang terbatas untuk menyelamatkan nyawa banyak orang,” kata Paul kepada Jawa Pos saat bedah buku karya terbarunya Bedah Toraks; Pengalaman Klinis 44 Tahun di Aula Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Selasa (24/1) pekan lalu.

Bagi Paul, bertugas di Papua adalah pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Selain terbatasnya alat, dia juga pernah kehabisan air minum di kapal. Satu-satunya yang bisa digunakan untuk diminum adalah cairan infus dengan kadar 10 persen.

“Itu pengalaman paling sulit. Di kapal hanya punya banyak stok cairan infus. Tidak ada air minum. Kami minum cairan infus,” ujarnya.

Tiga kali ikut bertugas di Papua. Dalam satu bulan, Paul berhasil mengoperasi 375 kasus dari berbagai jenis penyakit. Itu termasuk 11 kasus jantung bocor pada anak dan katup jantung menyempit.

“Semua pengalaman klinis yang saya dapat di Papua juga dipublikasikan hingga internasional. Begitu juga cara mengoperasi pasien dengan keterbatasan alat medis,” ujar Dekan FK Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) itu.

Paul mengatakan, sepanjang perjalanan 44 tahun sebagai ahli bedah toraks dan kardiovaskular hanya satu kali mempunyai pengalaman menyedihkan. Pasien yang ditangani meninggal di atas meja operasi karena kekurangan diagnostik. Segala upaya sudah dilakukan yang terbaik, tetapi pasien tidak bisa selamat.

“Ini pengalaman menyedihkan. Hanya satu kali, tetapi tidak terlupakan. Itu terjadi tiga tahun setelah saya pulang dari Jerman pada 1985. Mestinya, harus jeli dan teliti dalam diagnostik pasien sebelum operasi,” jelas ketua umum PP Himpunan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia (HBTKVI) itu.

Setiap kasus-kasus bedah toraks yang ditangani, Paul selalu mendokumentasikannya dengan rapi. Baik foto maupun dalam bentuk publikasi. Itu semua menjadi rangkaian perjalanan panjang yang diambil dari pengalamannya menangani kasus-kasus bedah toraks selama 44 tahun.

“Awalnya tidak terpikirkan untuk dijadikan buku,” ujarnya.

Paul mengaku, buku yang ditelurkan kali ini adalah buah dari pandemi Covid-19. Sejak pandemi, kesibukan tidak begitu padat. Apalagi, Indonesia saat itu sedang lockdown.

“Dari situlah, saya mulai mengumpulkan dokumen-dokumen saya. Semua kasus yang saya tangani ada lengkap foto, baik setelah operasi dan follow up-nya. Mulai dari 1981,” kata dia. (bersambung/c6/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru