TARAKAN – Masa karantina selama 14 hari masih dikeluhkan pedagang sapi. Namun Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan menegaskan, hanya memungut tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Pembiayaan karantina terkait dengan PNBP, sudah jelas. Hanya terkait selama karantina 14 hari, tentu pada saat di kandang ada biaya tambahan berupa pakan. Ini yang selalu menjadi kesalahpahaman atau persepsi masyarakat, sebagai pengguna jasa karantina,” jelas Kepala BKP Kelas II Tarakan Ahmad Mansuri Alfian, Senin (8/8).
Menurutnya, untuk ketersediaan pakan terkadang pelanggan menganggap sebagai biaya karantina. Padahal, biaya karantina tidak termasuk pakan. Pasalnya, biaya pakan cukup besar bisa sampai Rp 500 ribu per hari. Namun, pihaknya tidak memungut biaya pakan tersebut dan hanya melakukan pemungutan PNBP yang sudah diatur oleh undang- undang.
“Karantina tidak memungut biaya untuk pakan. Karena kami jelas, mulai dari pemeriksaan selama 14 hari di kandang sampai pelepasan hanya yang diatur dalam PNBP. Karantina 14 hari itu memang waktu yang lama, sehingga biaya pakan akan besar,” tegasnya.
Kebijakan karantina ternak yang baru datang dari daerah asal selama 14 hari, merupakan antisipasi pemerintah dalam menekan penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Selama ini BKP Kelas II Tarakan terus melakukan koordinasi dengan daerah asal. Terkait pemeriksaan kesehatan hewan ternak maupun jadwal pengiriman.
“Untuk itu, tolonglah dibedakan mana pembiayaan dari karantina dan biaya tambahan yang timbul selama karantina. Hewan ternak yang datang ke Tarakan akan mendapatkan pemeriksaan fisik, klinis. Kami semprotkan juga disinfektan terhadap ternaknya maupun alat pengangkut, seperti truk dan kapal,” bebernya.
BKP Kelas II Tarakan juga melakukan pantauan terhadap hewan ternak yang akan dikirim keluar Tarakan. Misalnya babi yang dibawa ke Kalimantan Timur, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terutama penyakit ASF.
“Sampel dikirim ke laboratorium di Surabaya. Inilah yang membuat timbul biaya tambahan, karena di pusat veteriner di Surabaya ada biayanya. Ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyakit menular,” harapnya. (kn-2)


