Wednesday, 22 April, 2026

BKSDA Nunukan Usulkan Tempat Transit Buaya

NUNUKAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengusulkan adanya tempat transit sementara bagi buaya di Nunukan, yang populasinya seakan bertambah dan terkesan mengganas.

Kepala BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau, Kalimantan Timur Dheny Mardiono mengatakan, BKSDA sudah membicarakan langkah penanggulangan bersama Pemkab Nunukan. Salah satu solusinya, tempat transit sementara bagi buaya sebelum dikirim ke wilayah penangkaran di Kota Tarakan.

“Harus disiapkan tempat transit, sejenis penangkaran kecil untuk buaya sementara waktu di Nunukan. Buaya akan diletakkan di sana, sampai ada jadwal pengangkutan untuk dipindah ke penangkaran buaya di Kota Tarakan,” ujarnya, Minggu (7/8).

Tempat transit buaya tersebut, tidak perlu berukuran besar. Cukup dengan bak semen ukuran 4 x 8 meter, yang sekiranya layak menjadi lokasi tinggal buaya sementara waktu. “Jadi buaya yang dievakuasi petugas Damkar atau ditangkap masyarakat, diikat semalam lalu besok dilepas liarkan lagi. Sementara ditempatkan di tempat transit itu,” ungkapnya.

Sementara ini, langkah yang paling memungkinkan dengan melakukan sosialisasi dan memasang plang peringatan di titik-titik yang menjadi lokasi habitat buaya. BKSDA juga merekomendasikan untuk penetapan satwa buru. Habitat buaya akan diinventarisasi, dipetakan oleh Badan Riset, sehingga populasi lebih terkontrol.

“Pemkab Nunukan bersama BKSDA akan bersurat untuk upaya penetapan satwa buru, manakala persyaratan terpenuhi. Misalnya, populasi meningkat,” ujarnya.

Diduga buaya di Nunukan yang seakan kian mengganas dan kerap memakan korban. Sehingga diburu dan dibunuh, untuk mengambil jasad korban dalam perut buaya, Dheny mengaku, hal itu sangat dilematis.

Satu sisi, buaya merupakan satwa yang dilindungi. Sisi lain, keluarga korban butuh jasadnya untuk dimakamkan secara layak. Yang perlu menjadi catatan, kata Dheny, biasanya buaya akan menunjukkan perubahan perilaku atau mengganas ketika memasuki musim kawin.

Musim tersebut, biasanya terjadi pada Juni dan Juli. Kemungkinan lain, buaya yang mendiami perairan dengan populasi mangsa mudah. Kini terpaksa mencari perairan lain yang biasanya terdapat banyak udang dan ikan.

“Biasanya menjadi lokasi favorit nelayan mencari ikan. Dan akhirnya terjadi rumus rantai makanan. Factor perburuan babi hutan dan payau/rusa, mengurangi populasi mangsa. Dan mengakibatkan pindahnya buaya serta memicu perubahan perilaku itu,” pungkasnya. (kn-2)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru