TANJUNG SELOR – Secara nasional pemerintah sangat serius menuntaskan kasus stunting (gangguan tumbuh kembang anak) di seluruh penjuru Indonesia.
Hal tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, dengan target penurunan hingga 14 persen pada tahun 2024. Hal itu juga memacu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan berkolaborasi dengan stakeholder terkait. Terutama organisasi profesi, instansi vertikal, perbankan serta pelaku usaha. Untuk turut andil dalam menuntaskan target Bulungan Zero (bebas) stunting.
Saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) percepatan penurunan stunting, kecamatan dan desa se-Kabupaten Bulungan, di Auditorium lantai 3 Universitas Kaltara, pada Rabu (1/11).
Bupati Bulungan Syarwani.,S.Pd,.M.Si secara teknis menjelaskan, angka prevalensi stunting di Bulungan berdasar Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 mencapai 22,9 persen. Sedangkan tahun 2022 angkanya turun menjadi 18,9 persen, atau menglami penurunan 5,1 persen.
Sedangkan prevalensi stunting menurut kecamatan berdasar Elektronik-Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) Bulungan. Tahun 2021 angka stunting mencapai 17,8 persen dan tahun lalu turun mencapai 12,7 persen.
“Per Agustus 2023 angka stunting di Bulungan menunjuk ke angka 16 persen. Sedangkan, prevalensi stunting nasional 21,6 persen. Sementara target nasional 14 persen tahun depan. Sedangkan Bulungan kita targetkan bebas kasus (zero) stunting,” terangnya.
Dalam kesempataan tersebut, Syarwani menekankan pada setiap kepala desa agar tahun depan tiap desa dapat menyisihkan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk memacu percepatan penurunan stunting.
“Jadi dana desa tidak hanya untuk membangun infrastruktur fisik saja, tapi sumber daya manusia juga,” tegasnya.
Syarwani menambahkan, perlunya melibatkan semua pihak termasuk Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) di wilayah masing-masing. Sehingga tercapailah target Bulungan bebas kasus stunting dan memastikan anak-anak Bulungan dapat tumbuh sehat, berkembang sebagaimana mestinya.
Sebagai langkah menuju Indonesia emas pada tahun 2045 mendatang. “Memang masih 20 tahun lagi, mungkin nanti kita sudah tiada. Tapi kita saat ini sudah memberikan legacy (warisan) kualitas sumber daya manusia yang baik. Untuk menuju generasi emas tersebut,” harapnya. (kn-2)


