Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Gambaran ideal tersebut tampak nyata di Kampung-Kampung Pancasila. Perbedaan suku, agama, dan bahasa justru membuat penduduknya guyub. Bukankah pelangi menjadi indah karena tidak terdiri atas satu warna saja?
—
MASJID Darulfalaah berdekatan dengan Pura Karanggede. Tidak jauh dari sana, berdiri Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Pendowoharjo dan Susteran Gembala Baik. Dari bangunan-bangunan fisik itu, bisa ditebak bahwa 116 KK di Kampung Karanggede tersebut memeluk keyakinan yang berbeda-beda.
“Selama ini tidak ada masalah meski ada empat kepercayaan berbeda. Kalau ada kegiatan gotong royong kampung, semua warga ikut,” kata Dukuh Dagen Hartadi saat ditemui Jawa Pos pada Senin (8/8).
Kampung yang terletak di Pedukuhan Dagen, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, itu memang majemuk. Bagi Hartadi, tidak ada yang aneh dengan kemajemukan itu. Sebab, sejak zaman leluhur pun, penduduk kampung selalu hidup berdampingan dengan damai. Bukan perbedaan yang menjadi perhatian mereka, melainkan kebersamaan yang bisa mereka ciptakan dari keberagaman itu.
Susteran Gembala Baik menjadi daya tarik lain di Karanggede. Berdiri sejak 1978 lalu, para biarawati yang menghuni susteran memanfaatkan bangunan tersebut sebagai tempat pelayanan sosial. Terutama untuk mengatasi kekurangan gizi pada balita. Seiring berjalannya waktu, kini susteran tersebut juga menjadi selter bagi para ibu tunggal.
“Kami inklusif. Terbuka untuk semua agama,” ungkap Theresia Kurniawati, pemimpin Kongregasi Gembala Baik.
Tinggal bersama lima suster lain, Theresia bersyukur bisa bersinergi dengan warga. Bahkan, meski seluruh penghuni susteran adalah perempuan, mereka tetap diundang dalam kenduri yang biasanya hanya dihadiri bapak-bapak.
“Untuk kegiatan harian, kami tidak menggunakan atribut (biarawati, Red). Kami sudah lama di sini sehingga tidak kesulitan bermasyarakat. Kalau ada kenduri, kami juga dilibatkan meskipun yang di sini perempuan semua,” tuturnya.
Berjarak 100 meter dari Susteran Gembala Baik, berdirilah Pura Karanggede. Pura itu dibangun warga asal Bali pada 1973. Kini, pura tersebut merupakan yang tertua di Jogjakarta. Sebanyak 25 KK dari Jogjakarta menjadi pengempon pura itu.
“Warga sekitar sangat baik. Kalau kami odalan (upacara keagamaan, Red), warga lain membantu menata parkir,” kata Wasi Pura Karanggede Wagimin.
Mustohar, takmir Masjid Darulfalaah, menyatakan bahwa hari besar suatu agama menjadi hari besar semua warga. “Perayaan hari besar keagamaan selain Islam juga kami hormati,” ujarnya.
Sebaliknya, mereka yang bukan pemeluk Islam juga selalu terlibat dalam aktivitas bersama. Mustohar mengaku satu kelompok dengan Zefanya Kristianto Wijayadi, pendeta GPdI, dalam kegiatan kerja bakti. “Pak Kris juga teman ronda saya setiap malam Senin,” ujarnya.
Selain aktif bermasyarakat secara pribadi, Kris memimpin jemaatnya untuk terlibat dalam banyak hajatan warga. Misalnya, renovasi masjid pada 2010. Sebelumnya, Masjid Darulfalaah adalah musala. Saat gempa 2006, GPdI juga menjadi salah satu pos penyalur bantuan untuk warga. Kris juga tidak segan menggali makam saat ada warga umat lain yang meninggal dunia. “Bagian dari kebersamaan yang sudah kami bangun,” tegasnya. (gas/c7/hep/jpg)


