Thursday, 23 April, 2026

Cerita Imam Syafi’i ”Berteman” dengan Kuda di Romokalisari

Imam Syafi’i memang akrab dengan kuda sejak kecil. Akrab dalam arti benar-benar tahu cara merawat kuda. Karena itu, staf dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) tersebut diberi amanah untuk merawat lima ekor kuda di Sentra Ikan Romokalisari (SIR) yang sekarang bernama Adventure Land.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

TERIK matahari cukup menyengat Senin (26/9). Sekitar pukul 11.00 WIB, Imam Syafi’i baru selesai memberi makan lima ekor kuda di arena wisata berkuda di Adventure Land Romokalisari.

Sesekali pria asal Bangkalan, Madura, itu bercanda dengan kuda tunggang tersebut. Suhu di luar ruangan saat itu mencapai 37 derajat Celsius.

Tidak hanya Imam, kuda-kuda yang dia rawat juga terlihat kehausan. Imam pun memberikan satu ember air di tempat pakan. Namun, ember berisi air penuh itu justru digigit dan ditumpahkan oleh kuda bernama Lavender. “Ancen seneng guyon jaran siji iki,” katanya.

Imam pun mengisi ember plastik itu dengan air separo. Lagi-lagi, Lavender menumpahkannya. “Wes embuh, karepmu wes. Gak ngombe yo wes. Bolak-balik kok ditumplekno,” ucapnya sambil menggerutu.

Imam terlihat sedikit jengkel. Sebab, sudah empat kali ember berisi air itu ditumpahkan.

Lima ekor kuda yang berada di kawasan wisata anyar tersebut memiliki nama masing-masing. Semuanya diberi nama bunga. Yakni, Telang, Lavender, Dahlia, Flamboyan, dan Kenanga. Yang paling jahil Lavender dan yang paling nurut Telang.

Setiap pagi, bapak satu anak itu harus berangkat dari ujung timur Surabaya ke ujung barat Kota Pahlawan. Dibutuhkan waktu 45 menit dari rumahnya di Kedinding Lor, Kecamatan Kenjeran, ke Adventure Land Romokalisari yang berada di perbatasan Kabupaten Gresik.

Saat pagi, Imam memberi makan lima ekor kuda tersebut dengan polar atau dedak gandum. Siangnya, pakannya diganti rumput. Sore polar lagi dan malam rumput.

Imam tidak pernah mengeluh. Selain untuk menafkahi keluarganya, dia senang diberi tanggung jawab sebagai pengawas di arena wisata berkuda. Sebab, pria 29 tahun itu terbiasa ”bergaul” dengan kuda sejak kecil. “Mulai SMP di Bangkalan sana,” ungkapnya.

Saat itu, usianya baru 14 tahun. Imam sudah diajak bapaknya untuk merawat kuda pacuan atau kuda balap. Postur tubuhnya lebih besar. Sifatnya juga lebih agresif dan cenderung tidak suka bercanda. “Gampang emosi dan harus hati-hati agar tidak ditendang kalau merawat kuda balap,” terangnya.

Ya, Imam mencoba menggambarkan pengalamannya merawat kuda sejak SMP sampai sekarang. Dari ceritanya, seolah-olah kuda memiliki perasaan bak manusia. “Ya memang. Kuda itu peka dan sensitif. Kita enggak boleh ragu-ragu kalau dekat dengan kuda,” tuturnya.

Sebab, kuda akan semakin jahil ketika ada orang yang ragu atau takut. Kata Imam, kuda tahu kalau ada orang yang mendekati dengan ragu-ragu atau takut. “Kalau ragu atau takut, malah digoda sama kudanya. Sampean coba kalau ndak percaya,” katanya.

Karena itu, berhadapan dengan kuda harus berani. Atau, diberanikan. Jangan sampai terlihat ragu. “Karena sebetulnya kuda itu penakut. Cuma, suka jahil kalau tahu ada orang yang justru takut,” terangnya.

Tidak ada teknik khusus berteman dengan kuda. Yang jelas, harus intens bertemu dengan orang yang sama. Maksudnya, tidak hanya sama orangnya. Juga, pakaian atau gaya dan modelnya. “Seperti saya, kalau ke sini pasti pakai baju ini dan pakai topi ini. Wes apal kudanya,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perikanan DKPP Ipong Wisnoe Wardhono mengakui, pemilihan Imam sebagai pengawas di arena wisata berkuda sudah melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya, pengalamannya dalam merawat kuda di kampung halaman. (*/c6/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru