Friday, 17 April, 2026

Cerita Wawan Syafwanuddin Terjun ke Bidang Pemadam Kebakaran

Wawan Syafwanuddin tak ragu meninggalkan pekerjaannya di tambang serta memilih menjadi trainer, konsultan dan praktiris firefighter and rescue. Berbagai kompetisi dia ikuti untuk meningkatkan kemampuannya.

AZAM RAMADHAN, Surabaya

WAWAN Syafwanuddin masih ingat betul insiden dua belas tahun silam. Saat itu, helikopter yang mengangkut dua rekannya dikabarkan hilang kontak dan terjatuh.

Waktu itu, Wawan tengah menjalani proses pelatihan lanjut tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di salah satu perusahaan tambang di Nusa Tenggara Barat (NTB), tempatnya bekerja.

Wawan dan seluruh peserta pelatihan akhirnya meninggalkan ruang kelas untuk bergabung dengan tim evakuasi. Sebanyak delapan tim SAR gabungan, termasuk Brigade Mobil Polri, dan warga lokal terlibat dalam proses pencarian dan penyelamatan tersebut.

“Kemiringan lereng sampai 60 derajat dan posisi korban sangat curam,” ceritanya Minggu (21/5) pekan lalu.

Kondisi helikopter sudah hancur berkeping-keping. Meski terkendala medan yang sangat berat, proses evakuasi dua jenazah itu tak sampai memakan waktu 24 jam.

Menurut dia, cepatnya proses evakuasi itu disebabkan tim memiliki pertimbangan yang matang, kompak, serta saling memahami. Itulah yang membuat Wawan kepincut dan memutuskan untuk terlibat penuh dalam fire and emergency service.

“Sebelumnya, saya relawan di K3 karena sebelumnya menjabat operational supervisor,” ungkap pria 50 tahun itu.

Ketertarikan pada dunia keselamatan dan kesehatan kerja (K3) hingga fire and emergency service tak lain karena Wawan ingin mengabdikan hidupnya pada kemanusiaan. Menurut dia, petugas penyelamatan adalah orang paling berani.

Sebab, pada saat ada kejadian darurat, yang lain menjauh untuk menghindari bahaya. Sebaliknya, petugas justru masuk dan terlibat penuh dalam penanganan.

Untuk meningkatkan kemampuannya, Wawan mengikuti beberapa pelatihan serta kompetisi. Salah satunya, Indonesian Fire Rescue Challenge and Competition (IFRC). Sebuah ajang kompetisi tim rescue pertambangan yang dihelat tahunan. “Saya terlibat sejak tahun 2009,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Wawan memutuskan tidak melanjutkan lagi bekerja di tambang. Dia memilih menjadi profesional, konsultan dan praktisi fire and rescue. “Alhamdulillah, bisa belajar ke Australia, New Zealand, tahun ini semoga bisa ke Thailand,” harapnya.

Karier Wawan kian moncer. Dia terlibat sebagai head assessor dalam penanganan kebakaran bangunan. Termasuk mewakili Indonesia sesuai mandat Kementerian ESDM di ajang Malaysia International Rescue Extrication Challenge (MIREC) 2019 dan mendapat medali perak. (*/c6/aph/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru