Wednesday, 22 April, 2026

Di Balik Aktivitas Donor Kornea, Kegigihan dan Keikhlasan (2-Habis)

Mereka tidak sekadar berterima kasih, tapi juga rutin mengirim doa. Padahal, bukan keluarganya. Tak sedikit juga yang mencari asal usul kornea matanya. Namun, semuanya dirahasiakan pihak Cornea Donation Center (CDC) Rumah Sakit Mata Undaan.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

NADA dering telepon siang itu mungkin tak pernah dilupakan Badriatus Sa’adah. Maret 2020, dia mendapat kabar yang membahagiakan. Hatinya berdebar. Dia senang bukan main.

Penantiannya selama 10 tahun akhirnya tiba. Tanpa diduga, dia mendapat kornea lebih awal. Sejak kecil, kedua matanya mengalami penyumbatan kelenjar air mata. Bentuk kelopak matanya pun berubah. Terutama sebelah kiri. Bulu matanya tumbuh ke dalam.

Apa yang menimpa Badriatus Sa’adah bermula pada 2011. Tepatnya saat mengikuti lomba di sekolah.

Ketika merias Badria, make-up artist (MUA) kurang konsentrasi. Bulu mata yang dipasang salah arah. Seharusnya menjorok ke luar, tapi justru ke dalam. Matanya lalu berair. Dia memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya di luar dugaan. Korneanya bocor. Bahkan di tiga titik. Dia pun beralih ke Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU).

Langkah tersebut dilakukan karena kondisi matanya kian parah. Saat itu matanya tidak langsung dioperasi. Jaringan matanya diperkuat dulu. Harapannya, kalau suatu saat dapat kornea, mata Badria sudah kuat.

Selama itu, Badria rutin memeriksakan diri ke RSMU. Pada Desember 2019 dia bertemu dengan dokter Dini Dharmawidiarini SpM (K). Founder CDC itu menyarankan Badria menjalani operasi kornea. “Daftar saja operasi kornea,” tuturnya menirukan anjuran dokter Dini saat itu.

Maret 2020 Badria mendapat kabar gembira. Sekitar pukul 14.00 WIB, dia ditelepon CDC. Ada kornea dan besok harus operasi. Sore itu juga, Badria datang ke RSMU. Dia sudah siap dioperasi. Rekam medis dilakukannya sejak Desember ketika mendaftar. Dengan begitu, saat ada kornea, tindakan bisa langsung dilakukan. Sebab, kornea harus segera dipasang.

Operasi pun berjalan lancar. Dua minggu kemudian, mata sebelah kirinya mulai bisa melihat meski tidak sempurna seperti dahulu. Meski begitu, hatinya masih penasaran. Badria ingin tahu siapa pemilik kornea itu.

Lantaran bingung harus mencari tahu ke mana, Badria pun pulang ke Nganjuk dan menggelar tahlilan. Kirim doa ditujukan khusus bagi pendonor. Meski, nama dan lokasi almarhum tidak diketahuinya.

Aisyah juga merasakan yang sama. Sejak usia 10 tahun, matanya sebelah kanan buram. Hal itu terjadi karena matanya tertusuk duri. Setelah proses lama, pada Juni 2020 dia datang ke RSMU berdasar rujukan RSUD di Banyuwangi. Hasilnya, dia harus menjalani transplantasi kornea.

Setahun lebih menunggu. Desember 2021, handphone-nya berdering. Dia diminta untuk segera mengurus surat rujukan. Sebab, tindakan operasi segera dilakukan. Mengingat ada kornea dari pendonor. “Senang dan bercampur haru jadi satu,” terangnya.

Sama dengan Badria, perempuan 20 tahun tersebut juga penasaran. Kornea itu datang dari siapa. Namun, Aisyah hanya bisa mendoakan. Siapa pun orangnya semoga diterima di sisi-Nya.

Begitu juga Romeli. Laki-laki asal Cerme, Gresik, itu terpaksa berhenti bekerja selama 1,5 tahun. Penyebabnya, kornea mata sebelah kirinya bocor. Penglihatannya buram. Dia butuh enam bulan untuk mendapat kornea. “Kalau saya enggak dapat kornea, ya berhenti kerja terus,” ucapnya.

Laki-laki 45 tahun tersebut tak bisa berkata-berkata. Bertemu keluarga pendonor juga tidak mungkin. Sebab, identitas pendonor dirahasiakan. Dia hanya mampu mendoakan setiap hari. Berkat pendonor, Romeli bisa kembali bekerja sebagai kuli bangunan.

Founder CDC dr Dini Dharmawidiarini SpM (K) mengungkapkan, beberapa penerima kornea bertanya asal kornea matanya. Namun, hal itu tidak bisa dijawab. “Ini sudah kode etik, tidak boleh dilanggar,” terangnya. (*/c7/git/jpg)

Artikel Terkait

TINGGALKAN PESAN

Silahkan masukkan komentar anda
Silahkan masukkan nama anda

- Advertisement -

Artikel Terbaru